Kedua Paslon Dinilai Belum Berkontestasi Melalui Gagasan - Kompas.com

Kedua Paslon Dinilai Belum Berkontestasi Melalui Gagasan

Kompas.com - 12/10/2018, 12:59 WIB
Capres urut 1 Joko Widodo dan nomor urut 2 Prabowo Subianto berjalan bersama pada Deklarasi Kampanye Damai dan Berintegritas di Kawasan Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). Deklarasi tersebut bertujuan untuk memerangi hoaks, ujaran kebencian dan politisasi SARA agar terciptanya suasana damai selama penyelenggaraan Pilpres 2019.MAULANA MAHARDHIKA Capres urut 1 Joko Widodo dan nomor urut 2 Prabowo Subianto berjalan bersama pada Deklarasi Kampanye Damai dan Berintegritas di Kawasan Monas, Jakarta, Minggu (23/9/2018). Deklarasi tersebut bertujuan untuk memerangi hoaks, ujaran kebencian dan politisasi SARA agar terciptanya suasana damai selama penyelenggaraan Pilpres 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI Aditya Perdana menilai, kedua pasangan calon yang akan bertanding di Pilpres 2019, belum berhasil berkontestasi melalui gagasan.

"Saya sendiri setuju untuk mengatakan dua kandidat ini belum ada yang menonjolkan program-program apa saja yang ingin mereka lakukan," tutur Adit ketika dihubungi oleh Kompas.com, Jumat (12/10/2018).

Menurutnya, pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, masih gagal mensosialisasikan dua "senjata" utama kampanye mereka.

Hal yang dimaksud adalah capaian pemerintah Jokowi, misalnya proyek infrastruktur yang dilakukan.


Selain itu, perlu juga diikuti dengan gagasan apa yang berguna untuk memperbaiki kebijakan yang selama ini dinilai kurang dan prioritas pembangunan.

Baca juga: Usai Pengundian Nomor Urut, Bawaslu Harap Paslon Kampanye Damai

"Di Pak Jokowi sendiri punya problem mensosialisasikan apa yang sudah dilakukan, yang kedua apa yang akan dilakukan terkait sebelumnya, itu belum tersampiakan," terang dia.

Sementara pasangan calon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dinilai belum berhasil memberikan solusi atas kebijakan pemerintah yang mereka kritik.

"Jadi masih terpenjara dengan kondisi yang dibuat oleh petahana, tapi mereka belum ada tawaran mereka mau ngapain," ungkap Adit.

Ia memberi contoh kritik yang dilontarkan calon presiden Prabowo soal sumber daya ekonomi Indonesia yang banyak dikuasai asing.

Hal itu sempat dikatakan Prabowo di hadapan ribuan anggota Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LDII, di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin, Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).

Baca juga: Kritik Prabowo, dari Pengkhinatan Elite hingga Ekonomi Kebodohan

Di kesempatan yang sama, Prabowo juga mengkritik tentang melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, sebagai salah satu indikator kemiskinan yang dihadapi oleh Indonesia.

Calon wakil presidennya, Sandiaga, juga mengkritik soal ekonomi Indonesia dengan mengatakan harga chicken rice di Jakarta lebih mahal dari Singapura atau ketika ramai masalah tempe yang setipis kartu ATM.

Adit menilai, sayangnya kritik tersebut tidak diikuti dengan solusi serta program dari paslon tersebut untuk memperbaiki keadaan.

"Saya pernah di suatu forum, melihat penantang itu meng-highlight soal kemampuan Presiden Joko Widodo belum bisa mengatur jelas ekonomi ke depan di kala dolar naik," tuturnya.

"Saya pikir itu mesti ditekankan oleh mereka bahwa harusnya pemerintah melakukan ini dan kami siap untuk melakukan yang berbeda dengan yang dilakukan pemerintah," lanjut dia.

Ia mengatakan memang masih ada waktu menuju Pilpres 2019, yang jatuh pada bulan April. Akan tetapi, perang gagasan tersebut seharusnya sudah dilakukan sejak awal.

Untuk itu, Adit mendorong kepada paslon maupun tim kampanye untuk meninggalkan budaya saling kritik dan mulai dengan saling memberi gagasan.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X