Jumlah Hunian Sementara untuk Korban Bencana Sulteng Diperkirakan Lebih dari 5000 Unit - Kompas.com

Jumlah Hunian Sementara untuk Korban Bencana Sulteng Diperkirakan Lebih dari 5000 Unit

Kompas.com - 11/10/2018, 17:47 WIB
Warga korban gempa bumi menyelamatkan barang berharga yang masih bisa digunakan di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10/2018). Petobo menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak gempa karena dilalui sesar Palu Koro.KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO Warga korban gempa bumi menyelamatkan barang berharga yang masih bisa digunakan di Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (5/10/2018). Petobo menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak gempa karena dilalui sesar Palu Koro.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut hunian sementara (huntara) yang akan dibangun untuk korban terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah jumlahnya bisa lebih dari 5000 unit.

Jumlah tersebut, diperkirakan melebihi jumlah hunian tetap (huntap) yang akan didirikan.

Sebab, huntara dibangun untuk seluruh warga yang rumahnya rusak akibat gempa maupun tsunami. Sedangkan huntap diperuntukan bagi warga yang rumahnya direlokasi.

"Jumlah huntara belum pasti, sampai sekarang masih didata. Tapi huntara pasti lebih banyak. Sebab, huntara dibutuhkan untuk warga yang direlokasi, dan yang rumahnya rusak tapi tidak direlokasi," kata Sutopo di kantor BNPB, Utan Kayu, Jakarta Timur, Kamis (11/10/2018).


Selama proses pembangunan huntap, warga akan ditempatkan di huntara.

Baca juga: Masa Tanggap Darurat Bencana Sulteng Diperpanjang Sampai 26 Oktober 2018

Huntara penting, kata Sutopo, supaya pengungsi bisa mendapat tempat tinggal sementara yang lebih layak daripada tenda pengungsian.

Pembangunan huntara direncanakan dimulai pada awal November 2018. Lama pembangunannya bisa memakan waktu selama dua bulan.

Model rumah yang akan dibangun pun, nantinya akan dibahas pemerintah daerah bersama masyarakat setempat.

Sutopo mengatakan, pembangunan huntara bisa dari elemen pemerintah pusat dan daerah, organisasi masyarakat, NGO, hingga pelaku usaha.

"Kita mengimbau dunia usaha, pemda, NGO, ormas, bisa membantu pembangunan huntara, karena ini sangat diperlukan dan bermanfaat. Tentu bukan hanya rumahnya, tapi juga fasilitas umum lainnya," ujar Sutopo.

Gempa bermagnitudo 7,4 SR yang terjadi Jumat (28/9/2018) pukul 17.02 WIB di sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah mengakibatkan 2.073 orang meninggal dunia dan 10.679 orang luka berat. Tercatat pula, 680 orang hilang yang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan akibat gempa dan tsunami.

Selain itu, dilaporkan juga 82.775 warga mengungsi di sejumlah titik.

BBPB juga mencatat, 67.310 rumah dan 662 sekolah rusak. Serta 22 fasilitas kesehatan dan 99 fasilitas peribadatan rusak berat.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X