Bawaslu Diminta Kawal Kunjungan Capres-Cawapres ke Sekolah dan Pesantren

Kompas.com - 11/10/2018, 15:03 WIB
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani DYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.comWakil Ketua Tim Kampanye Nasional Pasangan Joko Widodo-Maruf Amin, Arsul Sani

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Arsul Sani berharap perwakilan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) daerah bisa mengawal kunjungan calon presiden dan wakil presiden ke lembaga pendidikan, seperti kampus dan pesantren.

Arsul mengakui bahwa kunjungan capres dan cawapres ke lembaga pendidikan sangat rentan dianggap atau dijadikan sebagai ajang kampanye.

Sementara itu Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu Pasal 280 ayat 1 huruf h mengatur larangan kampanye dengan menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan.

Baca juga: Mendagri Sebut Tak Masalah Kampanye di Sekolah dan Pesantren, Ini Komentar Bawaslu

"Sebaiknya saya sarankan agar mengajak Bawaslu setempat, saat silaturahim. Kita kan lebih bagus mencegah," kata Arsul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Arsul menekankan pentingnya kehati-hatian bagi capres dan cawapres serta lembaga pendidikan yang mengundang mereka.

Menurut Arsul, capres dan cawapres juga harus jelas dalam bersikap ketika menghadiri kegiatan di lembaga pendidikan.

"Kayak Sandi (Sandiaga Uno, cawapres nomor urut 02) kan boleh aja diundang ceramah sebagai seorang Sandiaga Uno, entrepreneur berhasil dan anak muda energik punya pemikiran. Kalau itu tidak boleh sama sekali, dia jadi cawapres terpasung dong hak-hak intelektual dia," ujarnya.

Baca juga: Mendagri Luruskan Pernyataannya soal Kampanye di Sekolah dan Pesantren

Di sisi lain, ia mengingatkan pihak yang mengundang untuk berhati-hati dalam menyikapi kehadiran mereka. Arsul mencontohkan sambutan pembawa acara yang tak menyebut nomor urut, dan status mereka sebagai capres atau cawapres.

"Ketika misalnya mungkin Kiai Ma'ruf dan rombongannya tidak kampanye. Sandi dan rombongannya tidak. Tapi panitia memperkenalkannya berlebihan. Nah itu juga harus dikasih tahu," kata dia.

"Bawaslu juga harus punya pemahaman baik terkait citra diri. Karena di pemilu sekarang bukan hanya soal mengenakan alat peraga kampanye dan ajakan memilih yang eksplisit tapi juga soal citra diri ini," lanjut dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X