Pemerintah Akan Bangun Sekolah Tahan Gempa di Sulteng

Kompas.com - 10/10/2018, 10:47 WIB
Anggota TNI melakukan pencarian korban hilang akibat gempa bumi di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOAnggota TNI melakukan pencarian korban hilang akibat gempa bumi di Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10/2018). Gempa bumi Palu dan Donggala bermagnitudo 7,4 mengakibatkan sedikitnya 925 orang meninggal dunia dan 65.733 bangunan rusak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Kementerian PUPR dan BNPB untuk membangun kembali gedung-gedung sekolah yang rusak dan roboh di Sulawesi Tengah.

Nantinya, kata Muhadjir, bangunan sekolah yang akan didirikan tahan gempa.

“Kita putuskan semua sekolah di Palu akan kita tata ulang sesuai dengan layout relokasi di perkampungan. Kita akan terapkan zonasi jadi nanti sekolah-sekolah akan kita relokasi sesuai dengan letak perkampungan-perkampungan baru,” tutur Muhadjir melalui sambungan telepon kepada Kompas.com, Rabu (10/10/2018).

Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy usai upacara apel peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2017, di SMPN 1 Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Jumat (8/9/2017).Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda Prasetia Menteri Pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy usai upacara apel peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) 2017, di SMPN 1 Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Jumat (8/9/2017).
Muhadjir mengatakan, pihaknya terus mendorong anak-anak korban bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Selatan untuk mengembalikan psikis atau kejiwaan mental pascabencana.

“Kita pendekatannya trauma konseling artinya mendorong agar klien menyelesaikan trauma dirinya sendiri jadi tidak kita bantu. Mendorong anak agar mereka menyelesaikan traumanya sendiri,” ujar Muhadjir.

Kemendikbud, kata Muhadjir, telah mendirikan sekolah darurat di lokasi pengungsian pasca-gempa dan tsunami yang melanda wilayah Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.

Muhadjir mengatakan, di sekolah darurat, ada bimbingan konseling, baik pribadi maupun secara kelompok.

“Dengan metode konseling pada dasarnya psikis masalah anak yang bersangkutan. Kita memberikan kemampuan, dorongan, imunitas agar dia (anak-anak) dengan kemampuannya bisa mengatasi masalahnya (trauma) sendiri,”tutur Muhadjir.

Muhadjir mengatakan, pihaknya mengupayakan anak-anak korban bencana tidak dijauhkan dengan sekolah. Hal itu agar trauma kejiwaan semakin terkikis dan lama-kelamaan akan hilang.

“Harus didekatkan dengan sekolah agar rasa ketakutan dan rasa ngerinya berkurang. Sama dengan kita takut hantu kalau semakin kita takuti semakin kita ketakutan bener, tapi kalau kita berani memaksakan diri untuk datang ke tempat yang dianggap berhantu lama-lama kita ketakutan hilang sendiri,” tutur Muhadjir.

Gempa bermagnitudo 7,4 dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah, Jumat (8/10/2018), mengakibatkan 2.010 orang meninggal dunia.

BNPB juga mencatat, ada 671 korban hilang. Dilaporkan pula, 67.310 rumah dan 2.736 sekolah rusak, serta terdapat 20 fasilitas kesehatan rusak berat.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X