Bagi Golkar, Kasus Ratna Sarumpaet Jadi "Alarm"

Kompas.com - 04/10/2018, 19:10 WIB
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Idrus Marham dari struktur pengurus Partai Golkar, di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Jumat (24/8/2018).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan pers terkait pengunduran diri Idrus Marham dari struktur pengurus Partai Golkar, di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Jumat (24/8/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umun Partai Golkar Airlangga Hartarto menjadikan berita bohong atau hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet sebagai alarm.

Baginya, kasus tersebut merupakan peringatan bagi siapa saja, termasuk para politisi, untuk lebih hati-hati membuat pernyataan kepada publik.

"Kami melihat bahwa hoaks itu menjadi hal diperhitungkan untuk dimitigasi," ujar Menteri Perindustrian ini, di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Kamis (4/10/2018).

"Sehingga tentu ini membuat alarm bahwa hoaks itu bisa membuat dampak yang kurang bagus," lanjut dia.


Baca juga: Diduga Sebar Hoaks Ratna Sarumpaet, 4 Anggota DPR Kembali Dilaporkan ke MKD

Ke depannya, kata Airlangga, semua pihak perlu melihat informasi tak hanya dipermukaannya saja, tetapi harus ditelaah secara utuh dan mendalam.

Menurut Airlangga, untuk memastikan kebenaran informasi itu, perlu ditelaah dengan data-data yang lebih lengkap. Hal ini penting untuk menguji kebenaran informasi tersebut.

"Jadi ke depan itu kita mesti melihat informasi secara utuh dan keseluruhan," kata Airlangga.

Sebelumnya beredar foto Ranta Sarumpaet dengan kondisi wajah yang bengkak. Disebutkan, Ratna mengalami penganiayaan di Bandung pada 21 September 2018.

Informasi itu terus bergulir hingga bebepara politisi mengunjungi Ratna dan menyatakan bahwa lebam di muka Ratna akibat dianiaya.

Baca juga: Apa Respons Presiden Jokowi soal Heboh Kebohongan Ratna Sarumpaet?

Bahkan, capres Prabowo Subianto menggelar konferensi pers setelah melihat kondisi Ratna.

Ia mengecam orang-orang yang disebut telah menganiaya Ratna dan menyebutnya sebagai tindakan pengecut. Prabowo menilai kasus Ratna merupakan ancaman bagi demokrasi.

Sehari setelahnya, Rabu (3/10/2018) sore, Ratna meminta maaf kepada Prabowo hingga Amien Rais. Ia mengaku telah berbohong terkait kondisi di wajahnya.

Ia mengatakan, lebam tersebut terjadi bukan karena dianiaya, tetapi bengkak setelah menjalani operasi sedot lemak.

Pengakuan Ratna itu membuat sejumlah politisi akhirnya meminta maaf kepada publik, termasuk Prabowo.

.

.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Drama Babak Belur Ratna Sarumpaet

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X