BMKG: Mohon Jadi Agen Pemutus Hoaks Bencana

Kompas.com - 04/10/2018, 16:45 WIB
Beredar foto dan video yang menampilkan dahsyatnya letusan Gunung Soputan melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Rabu (3/10/2018) Aplikasi Pesan WhatsAppBeredar foto dan video yang menampilkan dahsyatnya letusan Gunung Soputan melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Rabu (3/10/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika ( BMKG) Daryono meminta masyarakat untuk tidak termakan berita bohong atau hoaks ketika terjadi bencana alam.

Ia juga meminta masyarakat dapat mengenali ciri-ciri berita bohong agar tidak mudah percaya.

"Meminta masyarakat untuk mengenali ciri-ciri hoaks. Ciri-ciri itu, pertama, dia meramalkan akan ada terjadi gempa besar, akan ada tsunami, tanda itu berita bohong, tidak boleh diteruskan," kata Daryono dalam sebuah diskusi di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kamis (4/10/2018).

Selain itu, untuk mengetahui sebuah informasi sebagai berita benar atau bohong, masyarakat bisa mengecek institusi atau lembaga yang bertanggung jawab dalam informasi tersebut.

Baca juga: [HOAKS] Foto Korban Gempa dan Tsunami di Palu Dijajarkan

"Apakah ada nomor kontaknya atau tidak. Kalau enggak ada, itu jelas hoaks," ujar Sutopo.

Masyarakat diminta untuk berhati-hati, karena bisa jadi setelah menerima berita bohong dan menyebarkan, maka pihak yang ikut menyebarkan hoaks itu disebut sebagai agen penyebar hoaks.

Ia meminta masyarakat untuk memutus penyebaran rantai berita bohong, namun tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang muncul dalam penanganan sebuah bencana.

"Mohon jadi agen pemutus hoaks karena amat meresahkan. Waspada tetap dijaga," tuturnya.

Baca juga: [HOAKS] Foto dan Video Gunung Soputan di Sulawesi Utara

Sejak gempa bermagnitudo 7,4 dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018), banyak berita bohong yang beredar seputar gempa dan tsunami.

Akibat bencana tersebut, tercatat 1.424 orang meninggal dunia.

Selain itu, terdapat 2.549 korban luka berat sampai saat ini masih dirawat di rumah sakit, baik di Palu maupun di luar Palu. Adapun korban hilang mencapai 113 orang.

Sutopo mengatakan, proses evakuasi dan pencarian masih terus dilakukan. Bantuan juga terus disalurkan untuk 70.821 pengungsi yang tersebar di 141 titik.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X