Belajar Bersahabat Sejati, Bersyukur, Tekun dari Jakob Oetama - Kompas.com

Belajar Bersahabat Sejati, Bersyukur, Tekun dari Jakob Oetama

Kompas.com - 28/09/2018, 21:37 WIB
Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama, menyampaikan pidato sambutan dalam Syukuran Kompas Gramedia 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/2/2012). Syukuran Kompas Gramedia dimeriahkan penampilan reuni Srimulat dengan beberapa personil Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Nunung, Polo, Kadir, Tessy, Gogon,  dan Jujuk.RADITYA HELABUMI Pemimpin Umum Kompas, Jakob Oetama, menyampaikan pidato sambutan dalam Syukuran Kompas Gramedia 2012 di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (1/2/2012). Syukuran Kompas Gramedia dimeriahkan penampilan reuni Srimulat dengan beberapa personil Srimulat seperti Tarzan, Mamiek, Nunung, Polo, Kadir, Tessy, Gogon, dan Jujuk.

JAKOB Oetama, yang akrab dipanggil keluarga besar Kompas sebagai Pak JO, memasuki usia 87 tahun kemarin (27/9/2018).

Siapa tak kenal beliau? Keteladanannya yang utama-–dalam pandangan saya yang usianya separuh Pak JO--berwujud pada tiga kata: bersyukur, tekun, dan cinta serta paham betul Indonesianya.

Tokoh pers nasional, pemimpin, salah satu pendiri harian Kompas, satu dari sedikit insan pers yang tertua, yang kepadanya kita bisa menimba ilmu tak terbilang-tak terbatas. Satu lagi pelajaran darinya. Kita belajar bersahabat sejati.

Pertalian saya dengan Jakob Oetama tidak langsung dan serta-merta. Di antara saya dan tokoh hebat yang saya kagumi ini, ada selembar kata pengantar buku seorang sahabatnya, yang juga wartawan zaman perjuangan: almarhum Djafar Husin Assegaf (12 Desember 1932-12 Juni 2013).

Buku yang terbit dengan judul Zaman Keemasan Soeharto, Tajuk Rencana Harian Surabaya Post 1989-1993 (Penerbit Buku Kompas, 2013) ini berisi 318 tulisan tajuk yang dikumpulkan ketika DH Assegaf bertugas sebagai penulis tajuk tamu pada harian yang pernah jadi ikon media di Jawa Timur ini.
 
Dua sahabat ini memang wartawan sezaman. Bila masih ada, usia Pak Assegaf hanya terpaut satu tahun dari Pak JO. Sama-sama wartawan pejuang Indonesia, dua sahabat yang selalu mengisi hidupnya dengan berjuang lewat pena.

Mereka saling memanggil "Bung", panggilan khas di masa revolusi kemerdekaan. Dua sahabat mereka yang lain, juga terkait dengan buku ini, pendiri harian Surabaya Post, suami-istri wartawan yang keduanya pun sudah almarhum: Abdul Aziz dan Toety Azis.

Saya terlibat sebagai penyunting-penulis buku itu, memilah dan mengelompokkan 318 tulisan tajuk itu dalam topik-topik utama. Sekaligus saya pula yang mendampingi DH Assegaf selama satu tahun (2011-2012) mempersiapkan buku ini.

Saya ingat, Pak Assegaf hanya merujuk satu orang yang paling pantas menulis pengantar untuk karyanya ini: Pak Jakob Oetama. Dan betul, mengalirlah pengantar yang indah itu.

Pengantar yang bukan cuma mengantar pembaca untuk menikmati buku ini, tetapi juga mengajarkan kita semua yang membacanya, untuk selalu menghargai persahabatan. Menghargai persahabatan adalah juga menghargai jejak karya, dan menghargai pilihan. Termasuk bagaimana Pak JO menghargai sahabatnya yang kemudian memilih menjadi wartawan-partai karena mendirikan harian Suara Karya, surat kabar Golkar di era Orde Baru, dan sampai kemudian ikut mendirikan Partai Nasdem.

Saya ingin menampilkan seluruh tulisan pengantar Pak JO untuk buku Pak Assegaf di bagian bawah. Tulisan yang indah ini-–meskipun tentu risetnya pastilah dibantu oleh teman-teman Litbang Kompas--adalah pelajaran bagi kita semua. Utamanya di masa-masa krusial tahun politik ini.

Pak JO jelas memberi pesan, perbedaan kita, jangan pernah melunturkan persahabatan dan keindonesiaan kita. Selamat tambah bilangan usia, Pak Jakob Oetama! Sehat, bahagia senantiasa.

***

Sampul buku Zaman Keemasan Soeharto, Tajuk Rencana Harian Surabaya Post 1989-1993 (Penerbit Buku Kompas, 2013) karya DH Assegaff.ISTIMEWA Sampul buku Zaman Keemasan Soeharto, Tajuk Rencana Harian Surabaya Post 1989-1993 (Penerbit Buku Kompas, 2013) karya DH Assegaff.

Pengantar Jakob Oetama untuk DH Assegaf

Diminta Bung H. Djafar Hussin Assegaff membuat Sekapur Sirih atas kumpulan tajuk rencana Surabaya Post, terbit tahun 1989-1993 yang ditulisnya dua kali dalam seminggu, terdiri atas 318 judul bertema nasional sesuai penugasan Pemred Surabaya Post Ny Toety Azis, mengingatkan saya pada sosok-sosok suami-istri Abdul Aziz dan Toety Azis.
   
Mereka sudah almarhum. Abdul Azis meninggal pada 5 Juli 1984, Toety Azis pada 6 April 1999. Soerabaya Post, harian sore yang mereka dirikan dan mereka asuh, terbit pertama tanggal 1 April 1953 ditutup oleh ketiga ahli warisnya Indriyani Azis, Indra Azis dan Iwan Jaya Azis, tanggal 22 Juli 2002. Harian sore ini tercatat pernah menjadi "ikon" Surabaya dan Jawa Timur.

Tanpa maksud mencampuri urusan internal Surabaya Post yang terjadi—mulai dari pergolakan hampir 20 tahun setelah mengalami kejayaan pada tahun 1970-1980, penutupan hingga persoalan ikutan kemudian—saya sependapat dengan Daniel Dhakidae (Kompas, 7 April 1999)). Misi harian ini membangun bangsa yang berpendidikan. Karena itu bersamaan pula mereka terbitkan suplemen "Bekal", bahan pendidikan bagi anak-anak sekolah menengah pertama dan atas, juga sebuah majalah wanita sebagai upaya diversifikasi. Jurnalistik pers yang dikembangkan senantiasa mempertimbangkan segala sesuatu dan tidak bersikap ekstrem. Ekstremitas tidak cocok dengan kultur masyarakat Indonesia.

Sifat awal harian ini seperti ditulis Abdul Azis dalam edisi perdana korannya: dingin, konservatif, nonpolitik. Menurut Hotman Siahaan dan Rosihan Anwar, "karena Azis membuat Surabaya Post bergaya tabloid yang menitikberatkan hiburan dan kegembiraan, maka kesan dingin dan konservatif hilang dalam perkembangannya" (Kompas, 7 April 1999).

Sikap nonpolitik memang tetap ada, dalam arti tidak memihak kepada partai politik tertentu, sementara dalam era tahun 50-an, umumnya koran merupakan organ parpol atau berorientasi pada parpol. Yang dipilih Surabaya Post menurut saya keniscayaan media, yakni independensi kecuali dependen pada nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan.

Abdul Azis dan Toety Azis sejak muda menggeluti dunia jurnalistik. Pada zaman Jepang, Azis bekerja pada harian Soeara Asia dan Toety pada kantor berita Domei bagian Indonesia, yang setelah 17 Agustus 1945 menjadi Lembaga Kantor Berita Antara. Mereka pasangan yang populer. Azis yang bernama lengkap Abdul Azis Soekaboel  dikenal sebagai pria supel dengan keterampilan jurnalistik prima dan memiliki rasa sosial yang besar.

Toety yang bernama lengkap Toety Amisoetin Agoesdinah Soekaboel, dikenal sebagai wartawan berhati baja. Sepeninggal suaminya, setelah sebelumnya menjabat Pemimpin Perusahaan, Toety pun sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Soerabaya Post sampai meninggalnya, 6 April 1999. Sikap dan pandangannya tentang jurnalisme tegas: yang bisa membuat wartawan itu abadi adalah profesionalisme dan etosnya untuk memenuhi panggilan tersebut. Kalimat yang selalu dia katakan di berbagai kesempatan, journalistiek vermoordt je; maar ze vermoordt je goddelijk (jurnalistik akan membunuh kamu; tetapi ia akan membunuhmu dengan keanggunan ilahi).

Rekan Hussin Djafar Assegaff, pernah bersinggungan kerja dengan Surabaya Post dalam kapasitasnya sebagai penulis tajuk rencana tamu, selain di antaranya Wiratmo Sukito, Rosihan Anwar dan Iwan Jaya Azis. Wilayah persoalan menyangkut masalah nasional dengan tema yang seragam. Kompilasi 318 tajuk ini, seluruhnya dimuat, berjudul Zaman Keemasan Pemerintahan Soeharto. Judul itu mungkin masih bisa diperdebatkan, tidak saja karena tidak diperoleh argumentasi lewat tajuk-tajuknya melainkan dirasakan demikian ketika dalam tahun 2012 ini orang mulai menengok kejayaan masa lalu di era Soeharto.

Jakarta, November 2012
Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas


Terkini Lainnya

Kapolda Jatim Minta Semua Polres Mencontoh Pelayanan Publik Polres Madiun

Kapolda Jatim Minta Semua Polres Mencontoh Pelayanan Publik Polres Madiun

Regional
Rumah Baru bagi Pasutri Lansia yang Anaknya 'Down Syndrome' Mulai Dibangun...

Rumah Baru bagi Pasutri Lansia yang Anaknya "Down Syndrome" Mulai Dibangun...

Regional
11 Fakta Dugaan Suap Proyek Meikarta yang Seret Bupati Bekasi

11 Fakta Dugaan Suap Proyek Meikarta yang Seret Bupati Bekasi

Nasional
Kronologi OTT Pejabat Pemkab Bekasi hingga Penyitaan Uang dan Mobil

Kronologi OTT Pejabat Pemkab Bekasi hingga Penyitaan Uang dan Mobil

Nasional
Ribuan Perempuan Berseragam 'Kompeni' Menari Angguk di Alun-alun Wates

Ribuan Perempuan Berseragam "Kompeni" Menari Angguk di Alun-alun Wates

Regional
5 BERITA POPULER NUSANTARA: Soal Mitigasi Gempa di Surabaya hingga Trauma Warga Sigi

5 BERITA POPULER NUSANTARA: Soal Mitigasi Gempa di Surabaya hingga Trauma Warga Sigi

Regional
Kejari Palopo: Tersangka Baru Kasus Jalan Lingkar Barat Bisa Bertambah

Kejari Palopo: Tersangka Baru Kasus Jalan Lingkar Barat Bisa Bertambah

Regional
Selain Suap, Bupati Bekasi Juga Disangka Terima Gratifikasi

Selain Suap, Bupati Bekasi Juga Disangka Terima Gratifikasi

Nasional
Ketua KPK: Sudah 2 Orang Terima Hadiah dari Melaporkan Kasus Korupsi

Ketua KPK: Sudah 2 Orang Terima Hadiah dari Melaporkan Kasus Korupsi

Regional
Jalan Jatibaru Dibuka Dua Arah, Angkot Bebas Melintas hingga Rute Transjakarta Dialihkan

Jalan Jatibaru Dibuka Dua Arah, Angkot Bebas Melintas hingga Rute Transjakarta Dialihkan

Megapolitan
Proyektil 'Peluru Nyasar' di Gedung DPR Dikirim ke Labfor Mabes Polri

Proyektil "Peluru Nyasar" di Gedung DPR Dikirim ke Labfor Mabes Polri

Megapolitan
Hari Ini, Bawaslu Datangi SMAN 87 untuk Minta Keterangan Siswa Terkait Dugaan Doktrin Anti-Jokowi

Hari Ini, Bawaslu Datangi SMAN 87 untuk Minta Keterangan Siswa Terkait Dugaan Doktrin Anti-Jokowi

Megapolitan
Jadi Saksi Kasus Dugaan Gratifikasi, Bupati Bandung Barat Terpilih Bantah Terima Uang

Jadi Saksi Kasus Dugaan Gratifikasi, Bupati Bandung Barat Terpilih Bantah Terima Uang

Regional
Bertemu Presiden Uganda, Kanye West Beri Hadiah Sepatu Kets Putih

Bertemu Presiden Uganda, Kanye West Beri Hadiah Sepatu Kets Putih

Internasional
Banjir Landa Nias Selatan

Banjir Landa Nias Selatan

Regional
Close Ads X