Tersangka Suap Hakim Tipikor Medan Mengaku Hanya Dikorbankan

Kompas.com - 05/09/2018, 15:01 WIB
Hakim ad hoc Merry Purba saat akan diperiksa sebagai Saksi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/9/2018). Reza JurnalistonHakim ad hoc Merry Purba saat akan diperiksa sebagai Saksi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

JAKARTA,KOMPAS.com - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menjadwalkan pemeriksaan kepada tersangka hakim ad hoc Merry Purba terkait kasus suap kepada Hakim Pengadilan Negeri Medan dalam penanganan perkara Tipikor di PN Medan.

Tersangka hakim ad hoc Merry Purba mengaku sebagai korban dan berharap proses hukum perkara yang dihadapinya bisa berjalan terbuka.

“Saya mau proses ini supaya terbuka semua. Saya tidak mau dikorbankan. Kalau saya disakiti saya akan berjuang, itu prinsip saya,” ujar Merry sebelum memasuki Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Awalnya Merry telah masuk ke gedung KPK sekitar pukul 09.54 WIB. Tak berlangsung lama, ia keluar dari Gedung KPK.

Baca juga: Tersangka Suap Hakim Tipikor Medan: Ada Uang di Meja Saya, Tidak Tahu Siapa yang Menaruh

Lalu, sekitar pukul 13.10 WIB Merry kembali diperiksa oleh penyidik KPK. Sebelum memasuki gedung KPK, ia memberikan pernyataan kepada awak media.

Pada kesempatan itu, Merry juga menyatakan bila dirinya tidak melakukan perbuatan korupsi.

“Saya melakukan yang benar. Dari awal saya katakan, kalau saya melakukan saya akan langsung bersujud mengatakan bahwa saya salah. Tapi, saya tidak, saya dikorbankan hanya itu,” kata Merry.

Saat ditanya akan mengajukan praperadilan terhadap kasus yang dihadapinya, Merry mengaku tak akan berharap banyak pada praperadilan.

"Sekarang begini, saya katakan di situ praperadilan itu tak berguna lagi. Tidak ada, karena semua saksi katanya mengarah pada saya,” tutur Merry.

Baca juga: KPK Tahan Perantara Suap Hakim Tipikor Medan

KPK sebelumnya menangkap delapan orang dalam operasi tangkap tangan di Medan, Sumatera Utara.

Sebanyak empat orang di antaranya adalah hakim. Masing-masing, yakni Ketua Pengadilan Negeri Medan Marsuddin Nainggolan dan Wakil Ketua PN Medan Wahyu Prasetyo Wibowo.

Kemudian, hakim Sontan Merauke Sinaga dan hakim ad hoc Merry Purba. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan gelar perkara, KPK hanya menetapkan Merry Purba sebagai tersangka.

Merry disangka menerima suap 280.000 dollar Singapura dari terdakwa Tamin Sukardi. Suap itu diduga untuk memengaruhi putusan hakim dalam perkara korupsi penjualan lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) PTPN2 dengan terdakwa Tamin Sukardi.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X