Pejuang Tionghoa dan Kemerdekaan Indonesia

Kompas.com - 16/08/2018, 19:59 WIB
Laksamana Muda TNI-AL (purn.) Jahja Daniel Dharma (John Lie) dan Mohammad Saad Sabtu malam yang lalu menerima piagam penghargaan dari Akademi Maritim Indonesia. Upacara berlangsung di auditorium KONI Pusat, Senayan, sekaligus dengan upacara Dies Natalies ke XVIII AMI, pelantikan mahasiswa baru dan wisuda sarjana muda AMI angkatan XIV (1976/1977) sebanyak 34 orang. Didirikan 1960, AMI kini sudah menghasilkan 639 sarjana muda. Pemberian piagam kepada Jahja D Dharma (67 tahun) dan M Saad (66 tahun) ini didasarkan atas karya dan amal mereka, khususnya dalam pengembangan potensi maritim Indonesia. Dari kiri JD Dharma dan Saad menerima piagam dari CD Ponto, Direktur AMI.KOMPAS/KARTONO RYADI Laksamana Muda TNI-AL (purn.) Jahja Daniel Dharma (John Lie) dan Mohammad Saad Sabtu malam yang lalu menerima piagam penghargaan dari Akademi Maritim Indonesia. Upacara berlangsung di auditorium KONI Pusat, Senayan, sekaligus dengan upacara Dies Natalies ke XVIII AMI, pelantikan mahasiswa baru dan wisuda sarjana muda AMI angkatan XIV (1976/1977) sebanyak 34 orang. Didirikan 1960, AMI kini sudah menghasilkan 639 sarjana muda. Pemberian piagam kepada Jahja D Dharma (67 tahun) dan M Saad (66 tahun) ini didasarkan atas karya dan amal mereka, khususnya dalam pengembangan potensi maritim Indonesia. Dari kiri JD Dharma dan Saad menerima piagam dari CD Ponto, Direktur AMI.

KOMPAS.com - Kemerdekaan Indonesia diraih atas kontribusi seluruh elemen bangsa, termasuk kelompok Tionghoa.

Saat agresi militer Belanda, para pejuang keturunan Tionghoa ikut terlibat dalam pertempuran.

Tak heran jika banyak ditemui veteran-veteran berdarah Tionghoa di Indonesia.

Siapa saja pejuang Tionghoa dalam catatan perjuangan kemerdekaan Indonesia?

1. Daniel Dharma (John Lie)

Daniel Dharma alias John Lie lahir pada 9 Maret 1911 di Manado, Sulawesi Utara.

John Lie merupakan seorang perwira militer Angkatan Laut berdarah Tionghoa.

Keluarganya adalah pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transportonderneming Lie Kay Thai). Ketika berusia 17 tahun, John Lie kabur ke Batavia mengejar cita-citanya.

Selain sebagai buruh pelabuhan, Lie juga belajar tentang navigasi. Ia sempat bekerja sebagai klerk di kapal perusahaan pelayaran Belanda.

Selama bertugas, John Lie mendapatkan pendidikan militer hingga akhirnya bergabung dalam Angkatan Laut Republik Indonesia (RI).

Saat bertugas di Cilacap, ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang.

Kariernya semakin cemerlang ketika ditugaskan untuk mengamankan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor Indonesia ke luar negeri.

Lie bisa mengamankan sekaligus menukar komoditas Indonesia dengan senjata menembus blokade Belanda di Sumatera.

Kapal yang ia gunakan juga beberapa kali lolos dari bidikan pihak musuh.

Pada 1950, John Lie aktif dalam penumpasan Republik Maluku Selatan (RMS) di Maluku dan PRRI.

Pada Desember 1966, ia mengakhiri masa pengabdiannya di TNI AL dengan pangkat terakhir Laksamana Muda.

2. Yap Tjwan Bing

Tjwan Bing lahir pada 31 Oktober 1910 di Kota Solo. Ia menyandang gelar sarjana farmasi dari sebuah universitas di Amsterdam pada 1939.

Setelah lulus, Yap pulang ke Tanah Air dan mendirikan apotek di Bandung.

Saat masa perjuangan kemerdekaan RI, Yap bersama Soekarno dan Hatta terjun dalam pergerakan nasional.

Yap Tjwan Bing adalah satu-satunya anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dia turut hadir dalam pengesahan UUD 1945 dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 18 Agustus 1945.

Setelah kemerdekaan, Yap bergabung dalam Partai Nasional Indonesia, partai yang didirikan oleh Bung Karno.

Yap menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sekaligus anggota DPR-RIS.

Yap Tjwan Bing dikenal sangat dekat dengan Bung Karno. Kegiatan politiknya pada masa itu membuat dirinya harus berpindah-pindah tempat tinggal.

Saat menjadi anggota DPR-RIS, Yap tinggal di Yogyakarta, tepatnya di Jalan Pakuningratan, bersamaan dengan perpindahan pusat pemerintahan ke Yogyakarta pada 1946.

3. Djiaw Kie Siong

Djiaw Kie Siong merupakan petani keturunan Tionghoa. Kegiatan sehari-hari diisinya dengan menanam singkong, timun, kacang, dan terong. Biasanya, setelah panen, tengkulak datang ke rumahnya untuk memborong.

Kie Siong juga dikenal sebagai pemilik rumah tempat Soekarno dan Hatta diinapkan oleh para golongan muda saat dibawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat, pada 16 Agustus 1945.

Ia bersama Fatmawati dan putranya yang masih bayi, Guruh Soekarnoputra, pergi ke Rengasdengklok. Mereka dikawal oleh Soekarni, Shodancho Singgih, Jusuf Kunto, dan tokoh-tokoh lainnya.

Soekarno dan Hatta singgah di sebuah rumah milik Djiauw Kie Siong. Padahal, rencana awal, keduanya akan ditempatkan di markas Pembela Tanah Air (PETA).

Rumah Djiaw dipilih karena jauh dan tertutup rimbunan pohon serta kelihatan tak mencolok.  

4. Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing

Ong Tjong Bing merupakan pejuang Tionghoa yang berkontribusi pada bidang kesehatan. Pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, ia ikut merawat korban.

Pria asal Desa Kerebet itu mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung dengan militer pada 1953 sebagai pegawai sipil.

Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

Ong Tjong Bing turut aktif dalam beberapa operasi anti Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRII-Permesta), DI-TII hingga Operasi Mandala-Trikora.

Ia juga diminta untuk menggalang masyarakat Tionghoa Pekanbaru saat operasi PRII-Permesta hingga akhirnya diminta mendirikan RS militer di Jayaputra dan RS sipil di kota tersebut. Dia adalah Kepala Kesehatan Kodam (Kesdam) Cendrawasih pertama.

Ong Tjong Bing pensiun pada 1976 dengan pangkat Letnan Kolonel.

5. Oei Tjong Hauw

Oei Tjong Hauw adalah putra seorang konglomerat gula dan penerus usaha Kian-Gwan Kongsi yang merupakan perusahaan multinasional terbesar di Asia Tenggara.

Kian-Gwan Kongsi terutama mengekspor hasil-hasil bumi seperti gula dan ikan. Selain itu, dia mengimpor teh dan sutra dari Tiongkok.

Oei Tjong Hauw tak hanya fokus dalam bisnis, tetapi juga aktif dalam politik. Ia menjadi ketua partai Chung Hwa Hui (CHH), partai kaum peranakan Tionghoa yang berpendidikan Belanda, yang dibentuk pada 1928.

Pada 1945, ia diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebagai wakil dari golongan Tionghoa.

6. Djoni Matius (Djoni Liem)

Djoni Matius alias Djoni Liem lahir pada 3 April 1934 di Bandung, Jawa Barat. Ia merupakan purnawairawan TNI Angkatan Laut yang berasal dari Satuan Intai Amfibi Korps Marinir.

Saat bertugas, ia pernah tergabung dalam Operasi Dwikora, PRRI/Permesta,DI/TII, RMS hingga operasi Seroja di Timur-Timur. Pangkat terakhirnya adalah Sersan Mayor.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: 6 Fakta Bendera Merah Putih Pertama

Kompas TV Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato tiga kali dalam sidang ini.

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X