Politik Merangkul PDI Perjuangan dan Jokowi

Kompas.com - 10/08/2018, 14:52 WIB
Calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presidennya Maruf Amin mendatangi Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2018). KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADOCalon presiden Joko Widodo dan calon wakil presidennya Maruf Amin mendatangi Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2018).

Sebagaimana sudah ditunjukkan oleh tim bola Prancis di Piala Dunia 2018, PDI Perjuangan juga meyakini bahwa keberagaman itu sumber kekuatan, kreativitas, inovasi, dan kecerdasan-kecerdasan baru.

PDI Perjuangan berusaha semaksimal mungkin mengakomodasi keberagaman (multikultural) dalam berpolitik yang tentu sepakat dengan platform partai yaitu Pancasila.

Akomodasi keberagaman ini sudah dimulai dengan kebijakan dalam penyusunan daftar calon legislatif (caleg) yang mengejutkan banyak orang termasuk para kader di internal PDI Perjuangan.

Misalnya, tiba-tiba ada banyak wajah baru dari kalangan tokoh dan aktivis Islam mengisi daftar caleg DPR RI secara merata di semua dapil.

PDI Perjuangan paham bahwa fakta baru berupa meroketnya kesadaran beragama global— termasuk di Indonesia—harus direspons secara positif. Daripada mereka terbajak oleh diskursus paham pro-intoleransi, demi NKRI mereka diwadahi dalam Bamusi yang mempromosikan pro-toleransi dan kebangsaan.

Masuknya almarhum Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan dan Kapitra Ampera yang adalah pengacara Rizieq Sihab, menimbulkan pula debat seru di media massa dan media sosial. PDI Perjuangan merangkul mereka untuk memilih Islam yang toleran dan melindungi keberagaman (rahmatan lil alamin) serta tidak untuk mengganti ideologi negara Pancasila.

Banyak wajah baru juga datang dari kalangan purnawirawan TNI dan Polri serta artis. Kehadiran para artis ini bahkan telah menempatkan PDI Perjuangan di peringkat kedua sebagai parpol yang terbanyak merekrut para artis.

Keadaan baru ini memaksa Badiklatpus DPP PDI Perjuangan menyelenggarakan pembekalan khusus bagi para pendatang baru ini secara terpisah.

Strategy outreach (menjangkau, pelibatan) ini bukan sekadar karena kelapangan dan kedewasaan pribadi Ketum PDI Perjuangan dan presiden, melainkan juga adalah perintah ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Karena itu, Pancasila yang intinya adalah gotong-royong harus dipakai untuk menyelesaikan permasalahan bangsa.

Kepribadian bangsa

Halaman:
Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X