Moeldoko: Terbukti kan, Jutaan TKA di Morowali Industrial Park Hoaks...

Kompas.com - 07/08/2018, 20:08 WIB
Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menegaskan isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah tidak sesuai fakta. Jumlah TKA di Morowali sebanyak 10,9 persen (3.121 orang)  dari total pekerja lokal berjumlah 25.447 orang. Dok. Humas KemenakerMenteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menegaskan isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah tidak sesuai fakta. Jumlah TKA di Morowali sebanyak 10,9 persen (3.121 orang) dari total pekerja lokal berjumlah 25.447 orang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jutaan tenaga kerja asing, khususnya dari Tiongkok, menyerbu kawasan Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah merupakan rumor semata.

Demikian kesimpulan rapat koordinasi antara Kepala Staf Presiden Moeldoko yang bertempat di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Presiden, Jakarta, dengan CEO PT Indonesia Morowali Industrial Park Alexander Barus di Sulawesi Tengah, Selasa (7/8/2018) sore melalui konferensi video.

"Sudah terbukti tadi kan, ternyata tidak seperti yang selama ini digembar-gemborkan ada jutaan tenaga kerja asing dan seterusnya, hoaks," ujar Moeldoko, seusai rapat koordinasi.

Baca juga: Menteri Hanif: Isu Serbuan TKA di Morowali Tidak Benar

Dalam rapat jarak jauh itu, Alexander Barus menghadirkan sejumlah wartawan yang melakukan investigasi di kawasan industri Morowali.

Barus bahkan mempersilakan para investigator itu mengungkapkan sendiri kepada Moeldoko bagaimana situasi tenaga kerja asing di sana.

David Eka Setiabudi, jurnalis Bisnis Indonesia misalnya. Kepada Moeldoko, ia mengatakan bahwa ada tenaga kerja asing di kawasan industri Morowali. Namun, jumlahnya sangat sedikit dan mereka bukan bekerja untuk pekerjaan kasar.

"Memang di sini kami menjumpai tenaga kerja asing. Tapi jumlahnya tidak sebanyak yang menjadi rumor selama ini. Mereka pun tidak melakukan pekerjaan kasar, tapi sebagai pengawas atau supervisor," ujar David.

Catatan dari PT Indonesia Morowali Industrial Park sendiri, tenaga kerja asing yang bekerja di wilayahnya berjumlah 3.291 orang.

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menegaskan isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah tidak sesuai fakta. Jumlah TKA di Morowali sebanyak 10,9 persen (3.121 orang)  dari total pekerja lokal berjumlah 25.447 orang. Dok. Humas Kemenaker Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri menegaskan isu serbuan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah tidak sesuai fakta. Jumlah TKA di Morowali sebanyak 10,9 persen (3.121 orang) dari total pekerja lokal berjumlah 25.447 orang.
Adapun, total jumlah pekerja yang beraktivitas di sana, berjumlah 25.000. Artinya, persentase tenaga kerja asing di sana hanya 10,9 persen dari total tenaga kerja keseluruhan.

Oleh sebab itu, Moeldoko pun meminta agar isu serbuan tenaga kerja asing ke Indonesia segera dihentikan.

Baca juga: Luhut: 10 Juta TKA China Kerja Kemari? Emang Kita Gila!

"Saya mohon isu tenaga kerja asing ini tidak dimobilisasi untuk kepentingan politik. Karena kalau untuk kepentingan politik, tidak akan selesai, akan berkembang terus. Setelah ada pemahaman bersama ini, masyarakat jangan resah, jangan terprovokasi, karena tidak seperti yang diisukan," ujar Moeldoko.

Moeldoko juga memastikan pemerintah sangat ketat atas aktivitas pekerja asing di Indonesia. Jika memang ada tenaga kerja asing yang melanggar ketentuan, akan ditindak.

Turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut, yakni Menteri Tenaga Kerja Hanif Dakhiri, Deputi Bidang Infrastruktur Kementerian Koordinator Maritim Ridwan Djamaluddin, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Agus Purnomo dan Direktur Utama PT Pelindo IV Doso Agung.

Kawasan Morowali mulanya merupakan tambang nikel seluas 47 hektare yang dikembangkan oleh PT Sulawesi Mining Investment (SMI). Saat ini, sebanyak 16 perusahaan beroperasi di kawasan itu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mantan Kepala Bais Sarankan Polri Ubah Pola Penyampaian Info soal Terorisme

Mantan Kepala Bais Sarankan Polri Ubah Pola Penyampaian Info soal Terorisme

Nasional
Sukmawati Dilaporkan ke Bareskrim atas Dugaan Penodaan Agama

Sukmawati Dilaporkan ke Bareskrim atas Dugaan Penodaan Agama

Nasional
Pengamat: Marak Serangan Teror, Perlindungan Polisi Perlu Ditingkatkan

Pengamat: Marak Serangan Teror, Perlindungan Polisi Perlu Ditingkatkan

Nasional
Hendak ke Mana Boeing dan FAA Pasca Tragedi  B-737-MAX-8?

Hendak ke Mana Boeing dan FAA Pasca Tragedi B-737-MAX-8?

Nasional
PKS Dorong RUU Perlindungan Tokoh Agama Masuk Prolegnas 2020-2024

PKS Dorong RUU Perlindungan Tokoh Agama Masuk Prolegnas 2020-2024

Nasional
Waspadai Kamuflase Teroris, dari Pura-pura Motor Hilang hingga 'Nyamar' jadi Ojol

Waspadai Kamuflase Teroris, dari Pura-pura Motor Hilang hingga 'Nyamar' jadi Ojol

Nasional
Pemerintah Bakal Tingkatkan Kualitas Bimbingan Pranikah, Ini Penjelasan Menko Muhadjir

Pemerintah Bakal Tingkatkan Kualitas Bimbingan Pranikah, Ini Penjelasan Menko Muhadjir

Nasional
Rektor UIN: Ada Konflik, Bukan Berarti Toleransi Indonesia Rendah

Rektor UIN: Ada Konflik, Bukan Berarti Toleransi Indonesia Rendah

Nasional
Patok Batas Indonesia-Malaysia di Sebatik akan Dihancurkan

Patok Batas Indonesia-Malaysia di Sebatik akan Dihancurkan

Nasional
Polisi Gerebek 6 Pabrik Miras Lokal di Tengah Hutan Mimika Papua

Polisi Gerebek 6 Pabrik Miras Lokal di Tengah Hutan Mimika Papua

Nasional
[POPULER DI KOMPASIANA] Pendaftara CPNS 2019 | Sulitnya Jadi Dokter Spesialis | Lemahnya Literasi Statistik

[POPULER DI KOMPASIANA] Pendaftara CPNS 2019 | Sulitnya Jadi Dokter Spesialis | Lemahnya Literasi Statistik

Nasional
BNPT Sebut Pemblokiran Situs Radikal Terhambat Aturan Kemenkominfo

BNPT Sebut Pemblokiran Situs Radikal Terhambat Aturan Kemenkominfo

Nasional
BNPT Ungkap Tren Baru Teroris: Dulu Suami Saja, Sekarang Bawa Keluarga

BNPT Ungkap Tren Baru Teroris: Dulu Suami Saja, Sekarang Bawa Keluarga

Nasional
Cerita Sohibul Minta Paloh Tak Sembarang Bicara soal Kader PKS Radikal

Cerita Sohibul Minta Paloh Tak Sembarang Bicara soal Kader PKS Radikal

Nasional
Peneliti LIPI: Pendekatan Menangani Persoalan Perbatasan Harus Diubah

Peneliti LIPI: Pendekatan Menangani Persoalan Perbatasan Harus Diubah

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X