Pengamat: Kelihatannya Penentuan Cawapres Prabowo Mengalami Jalan Buntu

Kompas.com - 03/08/2018, 10:35 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunggu kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi politik yang dibangun kedua partai untuk Pilpres 2019. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANKetua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunggu kedatangan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7/2018). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi politik yang dibangun kedua partai untuk Pilpres 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik Universitas Paramadina Hendri Satrio berpendapat, tampaknya Prabowo Subianto mengalami jalan buntu dalam penentuan calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada Pemilihan Presiden 2019.

"Jadi, kelihatannya cawapres Pak Prabowo ini mengalami jalan buntu," ujar Hendri saat bincang-bincang dengan Kompas.com, Jumat (3/8/2018).

Saat ini, Prabowo dihadapkan pada tiga nama cawapres. Dua di antaranya adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Salim Segaff Al Jufri.

Baca juga: Kata Fadli Zon, Cawapres Prabowo Mengerucut ke Tiga Nama Ini

Apabila Prabowo menggaet Agus Harimurti Yudhoyono menjadi cawapres, kemungkinan besar Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tidak akan mendukungnya.

Hal itu tergambar dari pernyataan Direktur Pencapresan PKS Suhud Aliyudin meski belakangan dibantah elite PKS lain.

Selain itu, Hendri menilai, Prabowo kurang "sreg" dengan sosok Agus yang terbilang baru terjun di dunia politik dan langsung mendapatkan tiket menjadi cawapres.

"Karena memang AHY belum mumpuni di atas kertas maupun secara pengalaman. Modal besarnya hanya di SBY saja. Bayangkan pada saat misalnya Prabowo terpilih sebagai presiden, kemudian AHY juga memegang tampuk kepemimpinan, apa yang terjadi? Perbaiki citra dulu pada Mas AHY sebagai mantan TNI berpangkat mayor," ujar Hendri.

Baca juga: Sekjen PKS: Hanya Ada 2 Opsi Cawapres Prabowo, Salim Segaf atau Ustaz Abdul Somad

Demikian pula apabila Prabowo menggaet sosok Salim Segaf. Demokrat yang memiliki dana kuat berpotensi menolak opsi tersebut.

Masalah lain, kata dia, elektabilitas Salim Segaf saat ini belum mampu mendongkrak elektabilitas Prabowo untuk mengalahkan Joko Widodo.

"Salim Segaf pun nampaknya akan sulit juga mendampingi Prabowo karena memang Prabowo ini sangat butuh tambahan elektoral yang cukup tinggi. Lawan terberat Jokowi memang masih Prabowo. Hanya saja, memang disparitas elektabilitasnya masih terlihat jauh meskipun setelah selesai pendaftaran, elektabilitas akan naik," ujar Hendri.

Baca juga: Baliho AHY untuk Promosi Cawapres? Ini Kata Demokrat...

Oleh sebab itu, satu-satunya cara Prabowo keluar dari jalan buntu itu adalah dengan mengusung tokoh nasional alternatif.

Tokoh itu harus mendapatkan dukungan dari partai politik koalisi dan memiliki elektabilitas sebagai modal untuk mengalahkan Jokowi.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

UPDATE 24 Januari: Bertambah 171, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Kini 27.835

Nasional
UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

UPDATE 24 Januari: Bertambah 7.751, Pasien Sembuh dari Covid-19 Kini 798.810

Nasional
UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

UPDATE: Bertambah 11.788, Kasus Covid-19 di Indonesia Mencapai 989.262

Nasional
Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Kematian Anggota FPI Dilaporkan ke Komite Antipenyiksaan Internasional

Nasional
Bakamla Deteksi Dua Kapal Tanker Asing di Pontianak dari Dimatikannya AIS

Bakamla Deteksi Dua Kapal Tanker Asing di Pontianak dari Dimatikannya AIS

Nasional
Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren, FPI: Itu 'Grand Design' untuk Kerjai Kami

Rizieq Shihab Dilaporkan soal Lahan Pesantren, FPI: Itu "Grand Design" untuk Kerjai Kami

Nasional
Walhi: Pelepasan Hutan Kalimantan Era Jokowi Capai 427.952 Hektare

Walhi: Pelepasan Hutan Kalimantan Era Jokowi Capai 427.952 Hektare

Nasional
Banjir di Paniai, Kemensos Salurkan Bantuan Senilai Rp 300 Juta

Banjir di Paniai, Kemensos Salurkan Bantuan Senilai Rp 300 Juta

Nasional
Rizieq Shihab Dilaporkan PTPN ke Bareskrim soal Lahan untuk Pesantren di Megamendung

Rizieq Shihab Dilaporkan PTPN ke Bareskrim soal Lahan untuk Pesantren di Megamendung

Nasional
Bakamla Amankan Kapal Tanker Panama dan Iran yang Diduga Transfer BBM Ilegal

Bakamla Amankan Kapal Tanker Panama dan Iran yang Diduga Transfer BBM Ilegal

Nasional
Kompolnas Beberkan Latar Belakang Listyo Sigit Ingin Ubah Tugas Polsek

Kompolnas Beberkan Latar Belakang Listyo Sigit Ingin Ubah Tugas Polsek

Nasional
Kompolnas: Pengaktifan Pam Swakarsa Diatur Undang-undang

Kompolnas: Pengaktifan Pam Swakarsa Diatur Undang-undang

Nasional
Soal Restorative Justice yang Disinggung Listyo Sigit, Pengamat: Belum Dipahami hingga Level Bawah

Soal Restorative Justice yang Disinggung Listyo Sigit, Pengamat: Belum Dipahami hingga Level Bawah

Nasional
Kompolnas: Pam Swakarsa Bermakna Keinginan Masyarakat

Kompolnas: Pam Swakarsa Bermakna Keinginan Masyarakat

Nasional
Tambah 5 di Belanda, Total 2.942 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

Tambah 5 di Belanda, Total 2.942 WNI Terpapar Covid-19 di Luar Negeri

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X