Menurut Pengamat, Ini Alasan Prabowo Masih Galau Tentukan Cawapresnya

Kompas.com - 09/07/2018, 08:34 WIB
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunjukkan kertas suara saat akan memberikan hak suara dalam Pilkada Serentak 2018 di TPS 017 Bojong Koneng, Bababakan Madang,  Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/6).  Prabowo memberikan hak suara pada Pilbub Kabupaten Bogor dan Pilgub Jawa Barat dalam Pilkada Serentak 2018. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama/18. ANTARA FOTO/Yulius Satria WijayaKetua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menunjukkan kertas suara saat akan memberikan hak suara dalam Pilkada Serentak 2018 di TPS 017 Bojong Koneng, Bababakan Madang, Bogor, Jawa Barat, Rabu (27/6). Prabowo memberikan hak suara pada Pilbub Kabupaten Bogor dan Pilgub Jawa Barat dalam Pilkada Serentak 2018. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/ama/18.

JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris mengatakan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih menimbang beberapa hal sehingga muncul nama-nama di luar partai koalisinya untuk dijadikan cawapres.

Padahal, PKS sebagai partai koalisinya sudah menyatakan ada sembilan kader yang bisa dipilih untuk menjadi cawapres Prabowo.

Alih-alih mempertimbangkan mereka, Prabowo malah tampak mempertimbangkan nama lain, seperti Gubernur DKI Anies Baswedan maupun Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Baca juga: Koalisi Sembunyikan Nama Cawapres Prabowo, Tunggu Detik-detik Akhir Pendaftaran

“Pertama apakah elektabilitasnya akan meningkat, kedua apakah PKS mau membantu pembiayaan pilpres itu sendiri. Itu juga menjadi hitungan sehingga sampai saat ini tidak kunjung memutuskan siapa cawapresnya,” kata Syamsuddin saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/7/2018).

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris KOMPAS.com/Kristian Erdianto Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris

Sembilan kader PKS itu adalah Gubernur Jawa Barat dari PKS Ahmad Heryawan, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden PKS Anis Matta, dan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno.

Kemudian, Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman, Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufrie, mantan Presiden PKS Tifatul Sembiring, Ketua DPP PKS Al Muzammil Yusuf, dan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Baca juga: PKS: Koalisi Lebih Setuju Usung Anies Jadi Capres

Menurut Syamsuddin, Gerindra yang sudah menyatakan capresnya adalah Prabowo harus mengingat bahwa tanpa koalisinya, PKS dan PAN, mereka tidak akan bisa maju dalam Pilpres 2019.

Oleh karena itu, opsi yang harus mereka ambil adalah memilih cawapres dari PKS atau PAN.

“Prabowo juga nggak bisa maju sendiri, butuh partai koalisi. Take and give saja. Kalau Gerindra mau ngajak PKS ya mestinya mau cawapresnya dari PKS. Logika sederhana saja sebab kalau nggak, dia tidak bisa maju juga,” kata dia.

Baca juga: Prabowo Masih Lakukan Diskusi soal Cawapresnya di Pilpres 2019

"Kecuali Prabowo ngambil PAN, pertanyaan apakah mau juga? Kemudian kalau ngajak PAN, PKS mau mendukung koalisi Prabowo dengan Zulkifli, misalnya? Ini kan belum ada yang jelas,” sambung Syamsuddin.

PKS yang mewacanakan pasangan Anies-Aher (Ahmad Heryawan) atau Anies-AHY dianggapnya hal yang lumrah dalam dunia politik.

Baca juga: Gerindra: Tak Ada Lawan Jokowi yang Setangguh Pak Prabowo

Hanya saja, PKS tetap membutuhkan koalisi yang kuat untuk mewujudkan itu. PKS dan Demokrat membutuhkan tambahan parpol sebagai koalisinya menghadapi Pilpres 2019.

“Intinya, baik PKS maupun Demokrat butuh teman koalisi jika ingin Anies jadi capres. Jadi kembali lagi kepada PKS dan Demokrat, bisa nggak mereka ajak parpol lain untuk dukung Anies-Aher, atau Anies-AHY,” ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X