Refleksi Persatuan Pasca-Pilkada Serentak

Kompas.com - 05/07/2018, 17:40 WIB
Sejumlah petugas membuka kotak suara saat Pleno Rekapitulasi Penghitungan Suara Pilkada Jabar 2018 di tingkat kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/7/2018). Rekapitulasi dilakukan berdasarkan rekapitulasi perhitungan suara yang telah diselenggarakan di tiap kecamatan di Kota Bandung oleh PPK. ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASASejumlah petugas membuka kotak suara saat Pleno Rekapitulasi Penghitungan Suara Pilkada Jabar 2018 di tingkat kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (5/7/2018). Rekapitulasi dilakukan berdasarkan rekapitulasi perhitungan suara yang telah diselenggarakan di tiap kecamatan di Kota Bandung oleh PPK.

MASA pemilihan kepala daerah acapkali menjadi masa yang kerap menimbulkan konflik. Kohesi sosial kita sebagai warga negara merenggang, bahkan tak jarang malah berubah menjadi permusuhan.

Kontestasi kepentingan yang mencuat ke ruang publik melalui intrik-intrik politik semestinya berhenti segera setelah pesta demokrasi usai.

Semua pihak harus kembali menggelorakan persatuan di atas hasil kontestasi, sepanas apa pun suasana psikologis pihak-pihak tertentu atas hasil yang telah ditetapkan.

Dengan kata lain, demokrasi sejatinya mengajarkan kearifan kepada semua pihak untuk menerima apa pun hasil kompetisi dan tetap menjunjung persatuan di tengah banyaknya perbedaan yang mencuat selama proses kontestasi.

Negara ini sejatinya berdiri kokoh di atas fondasi persatuan, bukan di atas kepentingan satu atau beberapa kelompok.

Jadi, untuk mendamaikan persatuan dan demokrasi yang cenderung memecah-belah, memang dibutuhkan sebentuk sikap arif dalam menerima apa pun hasil dari kompetisi demokratik.

Signifikansi persatuan dapat kita lacak ke masa-masa penting pendirian bangsa ini. Secara historis, aksi melawan penjajahan dimulai dari organisasi-organisasi yang menyadari bahwa perlawanan terhadap penjajah hanya bisa berhasil jika ada satu konsep persatuan dan kebangsaan yang solid.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Upaya menuju persatuan dan kebangsaan tersebut tidaklah mudah dan membutuhkan proses panjang. Stimulus untuk lahirnya rasa kebangsaan dan persatuan tersebut tidak lahir dengan mudah.

Oleh karena itu, akan sangat berbahaya jika euforia demokrasi justru melunturkan semangat persatuan di antara kita.

Setiap momentum kebangsaan adalah episode sejarah yang tidak terjadi dengan serta merta, tetapi butuh perjuangan.

Perjuangan dalam melahirkan episode kebangkitan nasional itu pun bukanlah perjuangan sederhana.

Tidak terkira besarnya pengorbanan yang telah diberikan para pahlawan pendiri bangsa ini untuk menuliskan kata "Republik Indonesia” dan menyusun benang-benang yang membentuk bendera Merah Putih.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luhut dan Moeldoko, Para Pejabat yang Laporkan Aktivis ke Polisi...

Luhut dan Moeldoko, Para Pejabat yang Laporkan Aktivis ke Polisi...

Nasional
Dilaporkan Luhut, Kuasa Hukum Fatia Sebut yang Disampaikan Kliennya Bukan Pencemaran Nama Baik

Dilaporkan Luhut, Kuasa Hukum Fatia Sebut yang Disampaikan Kliennya Bukan Pencemaran Nama Baik

Nasional
Kemenkes: Kasus Kematian Covid-19 Turun 48 Persen Sepekan Terakhir

Kemenkes: Kasus Kematian Covid-19 Turun 48 Persen Sepekan Terakhir

Nasional
Akses Konten Negatif Terkait SARA Diputus, Menkominfo: Tak Ada Ruang bagi Penista Agama

Akses Konten Negatif Terkait SARA Diputus, Menkominfo: Tak Ada Ruang bagi Penista Agama

Nasional
TNI AL Bangun 2 Kapal Rumah Sakit untuk Penanganan Covid-19

TNI AL Bangun 2 Kapal Rumah Sakit untuk Penanganan Covid-19

Nasional
Wapres: Sektor Utama Halal Value Chain Produk Indonesia Tumbuh Positif Meski Pandemi

Wapres: Sektor Utama Halal Value Chain Produk Indonesia Tumbuh Positif Meski Pandemi

Nasional
Usai Diperiksa Terkait Dugaan Penganiayaan Muhammad Kece, Irjen Napoleon Diisolasi

Usai Diperiksa Terkait Dugaan Penganiayaan Muhammad Kece, Irjen Napoleon Diisolasi

Nasional
Polisikan Haris Azhar dan Fatia, Luhut: Siapa Pun Boleh Kritik Selama Pakai Data yang Bisa Diuji

Polisikan Haris Azhar dan Fatia, Luhut: Siapa Pun Boleh Kritik Selama Pakai Data yang Bisa Diuji

Nasional
OTT di Kolaka Timur, KPK Amankan 6 Orang Termasuk Bupati dan Kepala BPBD

OTT di Kolaka Timur, KPK Amankan 6 Orang Termasuk Bupati dan Kepala BPBD

Nasional
UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 22,33 Persen

UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 22,33 Persen

Nasional
Kemenkominfo Putus Akses terhadap 2,6 Juta Konten Negatif, Terbanyak Pornografi

Kemenkominfo Putus Akses terhadap 2,6 Juta Konten Negatif, Terbanyak Pornografi

Nasional
UPDATE 22 April: Ada 49.662 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 22 April: Ada 49.662 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 22 September: Sebaran 2.720 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jatim

UPDATE 22 September: Sebaran 2.720 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jatim

Nasional
Haris Azhar Sempat Kirim Undangan Pertemuan, tapi Luhut Tidak Datang

Haris Azhar Sempat Kirim Undangan Pertemuan, tapi Luhut Tidak Datang

Nasional
UPDATE 22 September: 256.163 Spesimen Diperiksa, Positivity Rate dengan PCR 5,24 Persen

UPDATE 22 September: 256.163 Spesimen Diperiksa, Positivity Rate dengan PCR 5,24 Persen

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.