Pilkada Jabar 2018 dan Peluang Koalisi di Pilpres 2019

Kompas.com - 29/06/2018, 16:16 WIB
Pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jawa Barat, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dalam debat publik Pilgub Jabar terakhir, Jumat (22/6/2018).KOMPAS.com/Dendi Ramdhani Pasangan calon gubernur-wakil gubernur Jawa Barat, Sudrajat-Ahmad Syaikhu dalam debat publik Pilgub Jabar terakhir, Jumat (22/6/2018).

Ada tiga faktor kunci dalam keberhasilan pasangan calon Sudrajat-Syaikhu atau sering disebut "Asyik".

Pertama, mesin partai PKS kembali terbukti dapat diandalkan untuk Jabar. Bersama mesin partai Gerindra yang sudah terasah ketika Pilkada Jakarta 2017 lalu, sangat terasa ada lonjakan signifikan dalam pergerakan penggalangan massa yang dilakukan tim paslon "Asyik" dalam dua tiga minggu terakhir. Baik melalui penggalangan suara secara fisik maupun penggunaan media sosial secara terarah. 


Kedua, tanpa adanya faktor isu yang tepat sesuai dengan segmen pemilih yang dituju, mesin partai yang rapi dan terstruktur laiknya armada transportasi yang besar tanpa adanya muatan atau ‘barang’ yang diinginkan oleh publik.

Di Pilkada Jabar 2018, pasangan "Asyik" memanfaatkan segmen masyarakat yang jenuh dengan situasi Indonesia saat ini. Segmen yang merasa perlu perubahan kepemimpinan di tingkat nasional.

Tagar #2019GantiPresiden yang memang diinisiasi oleh salah satu petinggi PKS, Mardani Ali Sera, benar-benar dieksploitasi pasangan "Asyik".

Narasi yang digulirkan pendukung "Asyik" adalah asosiasi kuat pergantian kepemimpinan nasional dengan terpilihnya "Asyik" sebagai gubernur-wakil gubernur Jabar. Dan, jika memilih tiga pasangan calon lain, berarti mendukung terpilihnya kembali Jokowi di 2019.

Narasi ini terbukti berhasil menggerus suara pemilih yang sebelumnya memilih pasangan calon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi.

Mengingat Demokrat yang selalu menggaungkan kepedulian terhadap rakyat, serta menampilkan sosok AHY selaku pemimpin muda, pemimpin baru untuk Indonesia, sempat memikat warga Jabar yang menginginkan perubahan kepemimpinan nasional.

Hanya, momen ini berhasil "diambil" di tikungan terakhir oleh pasangan Sudrajat-Syaikhu karena digaungkan secara masif dan fokus.

Di sisi lain, pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi memang tidak pernah menunjukkan ketegasan dukungan terhadap aspirasi pergantian kepemimpinan nasional di 2019. Hal ini secara tidak langsung mengkonfirmasi narasi yang dikembangkan oleh pendukung "Asyik".

Ketiga, segmen pemilih muslim Jabar merupakan yang terbesar di Indonesia, dan kesadaran beragamanya relatif tinggi. Karena itu, sosok pemimpin yang dianggap relijius, bakal lebih mudah memikat sebagian warga Jabar.

Masih ingat dengan Aher yang berhasil menjadi gubernur dua periode di Jabar, dengan citra sebagai ustaz yang sederhana melekat kuat di sosok Aher?

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X