82 Tahun Habibie dan Cintanya kepada Ainun

Kompas.com - 26/06/2018, 12:26 WIB
Foto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. KOMPAS.com/SABRINA ASRILFoto Habibie dan Ainun dalam salah satu ruangan di kediaman Presiden ketiga RI BJ Habibie di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden ketiga RI BJ Habibie baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke-82, Senin (25/6/2018). Sebagai tokoh bangsa, telah banyak jasa yang dibaktikan Habibie bagi bangsa dan negara, namun yang paling menyita perhatian masyarakat adalah kecintaannya kepada sang istri, Ainun.

Habibie menikah dengan Hasri Ainun, seorang dokter, pada 12 Mei 1962. Ainun berpulang pada 22 Mei 2010 silam, karena penyakit tumor yang dideritanya.

Setelah Ainun wafat, Habibie menulis buku berjudul Habibie & Ainun yang menceritakan kehidupan cinta dan pernikahan mereka hingga Ainun wafat. Buku tersebut diadaptasi ke layar lebar berjudul sama yang dirilis pada 20 Desember 2012 lalu.

Salah satu petikan dalam buku tersebut yang menyentuh hati adalah kala mereka merayakan hari jadi pernikahan ke-48.

"Ainun, tahukah hari ini hari apa?" Habibie bertanya. Ainun mengangguk. "Hari pernikahan kita selama enam windu atau 48 tahun," ujar Habibie.

Baca juga: Saat Kehilangan Ainun, BJ Habibie Membenci Semua Dokter...

Ainun kembali mengangguk sembari tersenyum. Memandang Habibie dengan wajah cerah, tetapi aura sedihnya tetap tidak dapat disembunyikan.

Habibie kemudian mencium bibir Ainun sembari berbisik, "Saya selalu akan mendampingimu di mana pun kamu berada. Jiwa, roh, dan batin kita sudah menyatu dan manunggal sepanjang masa."


Ainun terdiam. Air matanya menetes diiringi senyum. Demikian penggalan momen yang Habibie tuliskan dalam buku Habibie dan Ainun.

Momen itu terjadi pada Rabu, 12 Mei 2010, tepat pukul 10.00 WIB, di ruang ICCU, tempat Ainun dirawat. Tumor ganas terus menjalar dan menggerogoti kesehatan Ainun.

Baca juga: Kecupan Habibie di Bibir Ainun dan Doa pada 48 Tahun Perkawinan

Habibie kemudian memanjatkan doa. Berikut kutipan doa itu :

"Terima kasih Allah, ENGKAU telah lahirkan saya untuk Ainun dan Ainun untuk saya. Terima kasih Allah, ENGKAU telah pertemukan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya. Terima kasih Allah tanggal 12 Mei 1962 ENGKAU nikahkan saya dengan Ainun dan Ainun dengan saya. ENGKAU titipi kami Bibit Cinta murni, sejati, suci, sempurna dan abadi. Sepanjang masa kami sirami titipanMU dengan Kasih Sayang, nilai Iman, Takwa dan Budaya. Kini 48 tahun kemudian, Bibit Cinta telah menjadi Cinta yang paling indah, Sempurna dan Abadi. Ainun dan saya bernaung di bawah Cinta milikMU ini dipatri menjadi manunggal sepanjang masa. Manunggal dalam Jiwa, Hati, Batin, Nafas dan semua yang menentukan dalam kehidupan. Terima kasih Allah, menjadikan kami Manunggal kami sepanjang masa. Berilah kami kekuatan mengatasi segala permasalahan yang sedang dan masih akan kami hadapi. Ampunilah dosa kami dan lindungilah kami dari segala pencemaran Cinta Abadi kami."

Kata demi kata Habibie diperhatikan betul oleh Ainun dan ia menganggukkan kepalanya setiap Habibie menyelesaikan kalimat per kalimat.

"Sambil mengelus kepala Ainun, kami ulangi bersama doa yang sebelumnya saya bisikkan di telinganya. Bibir Ainun bergetar memanjatkan doa kami, kata demi kata dengan mata air berlinang. Saya harus menahan diri dan dokter dan perawat yang kebetulan masuk ke kamar, diam dan penuh pengertian segera meninggalkan kami berdua," tulis Habibie.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo BJ Habibie

Harian Kompas, pada 8 Februari 1997 silam, pernah mempublikasikan artikel mengenai kehidupan pernikahan yang dijalani Ainun bersama Habibie. Ketika menikah dengan Habibie, ia dihadapkan dengan dua pilihan, tetap bekerja di rumah sakit anak-anak di Hamburg atau berperan dan berkarya di belakang layar sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Setelah berdiskusi dengan sang suami, Ainun akhirnya memilih yang kedua. Ainun berpandangan, yang lebih maju dan berpenghasilan lebih besar harus jadi penopang keluarga.

Salah satu harus mengalah. Dalam satu keluarga tidak bisa ada dua kapten. Ainun yang melihat suaminya amat energetik merasa ia sudah semestinya tak menghambat.

"Kalau orang energetik, kerjanya begitu keras, kompensasinya justru romantik, aleman... he loves such small gestures (ia lalu senang dengan perhatian-perhatian kecil). Karenanya, saya yang tahu sifatnya itu, harus menyesuaikan. Kalau orang menikah, `kan harus the big you and the small I," ujar Ainun seperti dikutip Solichin Salam dalam biografi BJ Habibie Mutiara dari Timur (1986).

Baca juga: Cerita Habibie soal Ainun, Tak Pernah Naksir hingga Menyebutnya Jelek

Perjodohannya dengan Habibie kemudian memang mengubah jalan hidupnya. Keduanya sudah saling kenal sejak sama-sama di sekolah, dan Habibie adalah teman sekolah kakak Ainun. SMP berdekatan, dan SMA malah satu sekolah, hanya Habibie sekelas lebih tinggi.

Keduanya lalu berpisah, Rudy diterima di ITB tetapi lalu pindah ke Jerman, sementara Ainun kuliah di FKUI. Ia bertemu kembali dengan Rudy ketika sang insinyur muda ini liburan ke Indonesia dan berkunjung ke kediaman keluarga Besari, keluarga Ainun, di malam Lebaran tahun 1962.

Mungkin, saat itulah keduanya saling jatuh cinta, meski perasaan itu boleh jadi sudah datang sebelumnya. (Dari BJH, Riwayat Hidup dan Kariernya, A Makmur Makka, 1987)

Salah satu hal yang kuat tercermin dari pribadi Ainun adalah kesetiaan dan keyakinan pada peranan istri yang suportif terhadap suami dan keluarga.

"Kalau istri banyak ngomel, rewel, dan cerewet, suami jadi tidak luwes bergaul. Akhirnya tidak bisa maju dalam pekerjaan. Sedapat mungkin suami harus bebas dari keruwetan rumah tangga agar bisa leluasa berpikir tentang pekerjaan," kata Ainun seperti dikutip dalam Mutiara dari Timur.

Kompas TV BJ Habibie berharap opera ini dapat menjadi inspirasi untuk generasi muda.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jajal Tol Terpanjang, Jokowi Tempuh 155 Km Kurang dari 2 Jam

Jajal Tol Terpanjang, Jokowi Tempuh 155 Km Kurang dari 2 Jam

Nasional
Tutup Gebyar Karya Pertiwi 2019, Panglima TNI Bicara Potensi Ekonomi Kreatif

Tutup Gebyar Karya Pertiwi 2019, Panglima TNI Bicara Potensi Ekonomi Kreatif

Nasional
Cegah Intoleransi, BPIP Minta Materi Keberagaman Diajarkan di Sekolah

Cegah Intoleransi, BPIP Minta Materi Keberagaman Diajarkan di Sekolah

Nasional
Soal Jiwasraya, Kejaksaan Agung Tunggu Hasil Perhitungan Kerugian Negara

Soal Jiwasraya, Kejaksaan Agung Tunggu Hasil Perhitungan Kerugian Negara

Nasional
Ibas Apresiasi Pemerintah yang Teruskan Pembangunan Era Presiden SBY

Ibas Apresiasi Pemerintah yang Teruskan Pembangunan Era Presiden SBY

Nasional
Usai Diperiksa KPK, Lukman Hakim Sebut Tak Etis Bawa Materi Hukum ke Ranah Publik

Usai Diperiksa KPK, Lukman Hakim Sebut Tak Etis Bawa Materi Hukum ke Ranah Publik

Nasional
Tak Diizinkan Menikah jika Belum Lulus Pembekalan akan Berlaku Bagi Semua Pasangan dan Agama

Tak Diizinkan Menikah jika Belum Lulus Pembekalan akan Berlaku Bagi Semua Pasangan dan Agama

Nasional
Polri Petakan Daerah Rawan Gangguan Keamanan Terkait Pilkada 2020

Polri Petakan Daerah Rawan Gangguan Keamanan Terkait Pilkada 2020

Nasional
Presiden PKS Tak Khawatir Kadernya Pindah ke Partai Gelora

Presiden PKS Tak Khawatir Kadernya Pindah ke Partai Gelora

Nasional
Kemendagri Luncurkan Mesin Cetak Dokumen Dukcapil Layaknya ATM

Kemendagri Luncurkan Mesin Cetak Dokumen Dukcapil Layaknya ATM

Nasional
Koordinasi Penanganan Terorisme di Bawah Komando Ma'ruf Amin

Koordinasi Penanganan Terorisme di Bawah Komando Ma'ruf Amin

Nasional
Wapres Sebut Radikalisme Perlu Ditangani Sejak Usia Dini, Hulu ke Hilir

Wapres Sebut Radikalisme Perlu Ditangani Sejak Usia Dini, Hulu ke Hilir

Nasional
Pasca-Bom Medan, Polda Metro Jaya Ingatkan SOP Masuk Markas Kepolisian

Pasca-Bom Medan, Polda Metro Jaya Ingatkan SOP Masuk Markas Kepolisian

Nasional
Presiden PKS: Sebagai Oposisi, Bukan Berarti Kami Akan Jatuhkan Pemerintah

Presiden PKS: Sebagai Oposisi, Bukan Berarti Kami Akan Jatuhkan Pemerintah

Nasional
KPK Ingatkan Pengusaha Lapor ke Aparat Bila Dimintai Uang oleh Pejabat

KPK Ingatkan Pengusaha Lapor ke Aparat Bila Dimintai Uang oleh Pejabat

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X