Menelusuri Pertemuan Koalisi Keumatan - Kompas.com

Menelusuri Pertemuan Koalisi Keumatan

Kompas.com - 11/06/2018, 10:25 WIB
Tokoh Koalisi Merah Putih, Amien Rais, Prabowo Subianto, Akbar Tandjung, dan Aburizal Bakrie (kiri ke kanan) memberikan penjelasan seusai mengadakan pertemuan di kediaman Akbar Tandjung di Jakarta, Rabu (10/9/2014). Salah satu poin pertemuan adalah membahas mengenai rancangan undang-undang (RUU) pemilihan umum kepala daerah (pilkada) secara tidak langsung.KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Tokoh Koalisi Merah Putih, Amien Rais, Prabowo Subianto, Akbar Tandjung, dan Aburizal Bakrie (kiri ke kanan) memberikan penjelasan seusai mengadakan pertemuan di kediaman Akbar Tandjung di Jakarta, Rabu (10/9/2014). Salah satu poin pertemuan adalah membahas mengenai rancangan undang-undang (RUU) pemilihan umum kepala daerah (pilkada) secara tidak langsung.


PERTEMUAN yang menyita perhatian. Terjadi hanya selang beberapa hari, berawal dari ibadah umroh, berakhir dengan pertemuan sejumlah tokoh.

Adalah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan Pimpinan FPI Rizieq Syihab yang bertemu dalam sebuah kesempatan.

Ketiganya bertemu di kediaman Rizieq di Mekah, Arab Saudi. Yang menarik, pasca pertemuan tercetuslah istilah koalisi keumatan.

Saya tertarik untuk menelusuri asal-usul istilah, tujuan, dan latar belakang koalisi keumatan. Siapa yang pertama kali menginisiasi pertemuan dan bagaimana pula koalisi ini punya kelanjutan? Apakah akan mendongkrak signifikan gerakan #2019GantiPresiden?

Kronologi

Mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, saya menemui Ketua Umum Persaudaraan Alumni (PA) 212 Slamet Ma’arif. Wajahnya ada dalam foto bersama di Mekah.

Saya mewawancarainya. Kepadanya saya bertanya tentang siapa yang pertama kali menginisiasi pertemuan dan bagaimana caranya hingga sampai ada pertemuan itu?

Ia menjelaskan, semuanya berlangsung tidak sengaja. Ceritanya, Slamet dan rombongan beribadah umrah bersama dengan rombongan Amien Rais.  

Tanpa sengaja,  sebelum subuh tiba, saat tengah melakuan salah satu rangkaian wajib ibadah umrah, Thawaf, Ajudan Prabowo Subianto menelpon ajudan Amien Rais.

Telepon itu kemudian berlanjut dengan pertemuan antara Amien dan Prabowo. Amien datang ke penginapan Prabowo yang berada di areal Masjidil Haram.

Setelah kedua tokoh itu bertemu, Slamet kemudian mengajak mereka untuk bertemu dengan Rizieq Shihab.  Sontak usulan ini disambut positif oleh Amien Rais dan Prabowo yang saat itu mengatakan, “Layak mengunjungi sahabat kita yang sedang terzalimi.” 

Menuju ke kediaman Rizieq

Hanya selang beberapa jam dari pembicaraan di Hotel tempat Prabowo menginap, masih pada hari yang sama, Sabtu, 2 Juni 2018, rombongan bergegas menuju ke tempat tinggal Rizieq Syihab yang berjarak 15 menit perjalanan menggunakan mobil dari Masjidil Haram.

Pertemuan pun berlangsung.  Pembicaraan dilakukan selama kurang lebih 1 jam. Saat itu Slamet mengungkapkan ada 9 orang yang ikut dalam pertemuan, termasuk dirinya.

Dalam pertemuan itulah tercetus gagasan koalisi keumatan dari Rizieq Syihab. Ide ini disambut positif Prabowo dan Amien.  Itulah cerita asal muasal istilah koalisi keumatan.

PKS kala itu tidak ikut karena persoalan waktu. Waktu yang tersedia tidak memungkinkan bagi anggota PKS untuk menyusul ke Mekkah.  Namun, selang 3 hari, dua pimpinan PKS, Salim Segaf Al Jufri dan  Jazuli Juwaeni bertemu dengan Rizieq Shihab di tempat yang sama.

Pertemuan awal sebelumnya

Selain menemui Slamet, saya juga menemui anggota Badan Komunikasi Partai Gerindra Andre Rosiade yang mengakui bahwa ia adalah sosok yang pertama kali menemui Rizieq Syihab, sekitar 3 bulan sebelum pertemuan 2 Juni lalu.

Namun Andre menolak pernyataan yang menyebut bahwa pertemuan Prabowo, Amien, dan Rizieq dirancang pada pertemuan pertama 2 Juni tersebut. Menurut Andre, pertemuan ketiga tokoh itu berlangsung spontan tanpa rencana.

Peryataan Andre ini menguatkan apa yang disampaikan Slamet.

Koalisi keummatan, kekuatan baru?

Lalu kini pertanyaannya, apakah koalisi keumatan akan terbentuk secara nyata sebagai kekuatan politik baru yang berisi Gerindra, PAN, PKS?

Akankah kelompok ini juga akan mengajak PBB? Belakangan Demokrat juga diajak untuk bergabung.

Jikapun terbentuk sejauh mana koalisi ini akan menjadi kekuatan yang mendorong gerakan #2019GantiPresiden?

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan kepada saya, sejauh ini belum tampak gerakan #2019GantiPresiden mengubah peta politik elektoral menuju Pilpres tahun depan.

Elektabilitas alias tingkat keterpilihan Joko Widodo dalam berbagai Survei masih belum menunjukkan adanya “gangguan” berarti dari gerakan #2019GantiPresiden.

Situasi ini akan berbeda andai dua hal berikut ini terjadi.

Pertama, tantangan ekonomi yang mendera dunia dan berdampak pada Indonesia. Salah langkah penanganannya di dalam negeri, bisa berakibat fatal bagi pemerintahan Jokowi.

Kedua, tambahan energi dari partai politik yang menyeberang. Andai ada partai koalisi Jokowi menyeberang ke kelompok oposisi, sangat mungkin peta elektoral berubah.

Saya Aiman Witjaksono…
Salam.


Terkini Lainnya

Ke Rusia, Ridwan Kamil Tawarkan Peluang Bisnis Bagi Investor

Ke Rusia, Ridwan Kamil Tawarkan Peluang Bisnis Bagi Investor

Regional
Kompolnas Minta Polri Profesional Usut Peluru Nyasar Gedung DPR

Kompolnas Minta Polri Profesional Usut Peluru Nyasar Gedung DPR

Nasional
Dinkes Depok Tunggu Hasil Pemeriksaan Air di Sekolah yang Siswanya Diduga Terinfeksi Bakteri E-coli

Dinkes Depok Tunggu Hasil Pemeriksaan Air di Sekolah yang Siswanya Diduga Terinfeksi Bakteri E-coli

Megapolitan
Siang Ini, Sejumlah Wilayah di Jabodetabek Diprediksi Akan Diguyur Hujan

Siang Ini, Sejumlah Wilayah di Jabodetabek Diprediksi Akan Diguyur Hujan

Megapolitan
Tol Bawen-Yogyakarta Ditentang, Ganjar Mengadu ke Bappenas hingga Kemendagri

Tol Bawen-Yogyakarta Ditentang, Ganjar Mengadu ke Bappenas hingga Kemendagri

Regional
Polisi Sita Koleksi Senjata Api dari Apartemen Korban Bunuh Diri di Tanjung Duren

Polisi Sita Koleksi Senjata Api dari Apartemen Korban Bunuh Diri di Tanjung Duren

Megapolitan
Risma Akan Sulap Surabaya Utara Jadi Destinasi Wisata Kota Tua ala Jakarta

Risma Akan Sulap Surabaya Utara Jadi Destinasi Wisata Kota Tua ala Jakarta

Regional
4 Fakta Langkah Risma Antisipasi Ancaman Gempa dan Tsunami di Surabaya

4 Fakta Langkah Risma Antisipasi Ancaman Gempa dan Tsunami di Surabaya

Regional
5 BERITA POPULER NUSANTARA: Kisah Alfrits Rottie hingga Penolakan Tol Bawen-Yogyakarta

5 BERITA POPULER NUSANTARA: Kisah Alfrits Rottie hingga Penolakan Tol Bawen-Yogyakarta

Regional
Dapat Sertifikat Tanah dari Jokowi, Warga Tertarik Cari Pinjaman Modal Usaha

Dapat Sertifikat Tanah dari Jokowi, Warga Tertarik Cari Pinjaman Modal Usaha

Megapolitan
Ini Ruangan yang Digeledah KPK di Kantor Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bekasi

Ini Ruangan yang Digeledah KPK di Kantor Dinas Penanaman Modal dan PTSP Bekasi

Megapolitan
Tanah Retak di Pagedangan Bikin Warga Khawatir

Tanah Retak di Pagedangan Bikin Warga Khawatir

Megapolitan
BPJS Menunggak, Bupati Jombang Minta Layanan RSUD Tak Terganggu

BPJS Menunggak, Bupati Jombang Minta Layanan RSUD Tak Terganggu

Regional
Polisi Tangkap 4 Bandar Ekstasi

Polisi Tangkap 4 Bandar Ekstasi

Regional
Pemerkosa Anak Pengungsi Sulteng di Makassar Pecandu Isap Lem

Pemerkosa Anak Pengungsi Sulteng di Makassar Pecandu Isap Lem

Regional
Close Ads X