Teror Bom yang Libatkan Keluarga Diprediksi Tak Akan Terjadi Lagi

Kompas.com - 22/05/2018, 21:43 WIB
Petugas kepolisian saat mengevakuasi jenasah di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Hingga pukul 12.30 WIB, jumlah korban ledakan di 3 gereja mencapai 10 korban meninggal dan 41 luka-luka. KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGPetugas kepolisian saat mengevakuasi jenasah di depan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Hingga pukul 12.30 WIB, jumlah korban ledakan di 3 gereja mencapai 10 korban meninggal dan 41 luka-luka.

JAKARTA, KOMPAS.com - Teror bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo beberapa waktu lalu menjadi perhatian besar. Salah satunya adalah karena aksi tersebut dilakukan oleh keluarga yang melibatkan anak-anak.

Akan tetapi, ke depan apakah aksi semacam itu akan terjadi lagi?

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones memandang, apa yang terjadi di Surabaya sebagai pola baru harus dipandang secara hati-hati.

"Tidak berarti bahwa dari sekarang sampai dua tahun ke depan akan lebih banyak keluarga bergerak seperti tiga keluarga di Surabaya," kata Jones di sela-sela diskusi tentang terorisme di Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Baca juga: KPAI: Dilibatkan dalam Aksi Teror, Anak-anak adalah Korban Salah Pengasuhan

Menurut Jones, kelompok ekstrimis pun tidak mau mengorbankan anaknya dalam aksi teror. Ia pun memandang, teror yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo adalah peristiwa luar biasa.

"Mungkin itu single incident (insiden tunggal) yang tidak akan terjadi lagi. Saya berharap begitu," ungkap Jones.

Ia berpandangan, akan kecil kemungkinan anak-anak kembali dilibatkan sebagai pelaku bom bunuh diri. Menurut dia, hanya tiga keluarga di Surabaya dan Sidoarjo tersebut yang melakukan aksi teror secara luar biasa.

"Saya kira bagaimana bisa orang tua mengorbankan anak sendiri?" tutur Jones.

Pada teror bom di tiga gereja di Surabaya, satu keluarga terlibat. Kepala keluarga Dita Oepriarto (47) dan istrinya, Puji Kuswanti (43) turut mengajak anak-anak mereka dalam aksi bom bunuh diri. Ada empat anak mereka yang tewas dalam aksi itu. 

Baca juga: Cerita Jokowi Melihat Langsung Tubuh Anak-anak yang Hancur Akibat Teror Bom

Hal serupa juga terjadi pada peledakan bom di Mapolrestabes Surabaya. Empat terduga pelaku tewas di tempat, namun seorang anak berinisial Ais (8) yang dibonceng pelaku di sepeda motor selamat, meski terluka.

Adapun pada ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo, selain Anton sebagai pelaku, dua orang juga tewas, yakni istri Anton dan anaknya. Istri Anton dan anaknya tewas akibat ledakan bom yang ditemukan di dalam unit rusun mereka.

Sementara tiga anak Anton lainnya dalam kondisi terluka. Mereka kemudian dirawat di RS Siti Khodijah.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X