Ketika Peran Perempuan Kian Nyata dalam Aksi Radikal - Kompas.com

Ketika Peran Perempuan Kian Nyata dalam Aksi Radikal

Kompas.com - 16/05/2018, 07:49 WIB
Anggota kepolisian bersiap meledakkan bom sisa di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Anggota kepolisian bersiap meledakkan bom sisa di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5/2018). Akibat ledakan itu, 5 mobil dan 30 motor terbakar.

JAKARTA, KOMPAS.com - Rangkaian aksi teror belakangan ini banyak disoroti elemen masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah para pelaku merupakan satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak yang dilibatkan.

Dalam aksi bom bunuh diri di Surabaya, Minggu (13/5/2018), pelaku bukan hanya Dita Oepriarto. Istri Dita, Puji Kuswati, turut menjadi pelaku bom bunuh diri, bahkan mengikut sertakan anak-anaknya.

Kemudian, keterlibatan perempuan juga terjadi pada ledakan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Aksi tersebut dilakukan oleh Anton, beserta istri dan anaknya.

Tidak hanya itu, ada pula aksi bom bunuh diri yang dilakukan di Mapolrestabes Surabaya pada Senin (14/5/2018) pagi. Tri Murtiono, pelaku bom tersebut, mengajak serta istri dan anak-anaknya.

Sebelumnya, pada Sabtu (12/5/2018) lalu, aparat kepolisian mengamankan dua perempuan yang diduga akan melakukan penusukan terhadap anggota Brimob. Kedua perempuan berinisial DSM dan SNA diamankan bersama barang bukti berupa KTP, gunting, dan ponsel.

Baca jugaTerkait Bom Surabaya, Polisi Buru Satu Keluarga yang Dideportasi dari Turki

Terkait hal ini, Navhat Nuraniyah, peneliti dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) mengatakan tren ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. "Kenapa perempuan terlibat, tren ini bisa kita lihat sejak ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) berdiri pada 2014-2015," kata Navhat di Jakarta, Selasa (15/5/2018).

Navhat menyebut, ISIS pun kemudian mengeluarkan instruksi yang membolehkan perempuan melakukan jihad secara fisik pada sekira Oktober 2017 silam. Tren ini kemudian terlihat di Indonesia, ketimbang di kawasan lain seperti di Mindanao, Filipina Selatan.

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menuturkan, sebenarnya sudah sejak lama perempuan masuk ke dalam jaringan radikalisme maupun terorisme. Namun, baru-baru ini saja perannya terlihat semakin jelas.

"Mungkin baru sekarang kita sadar karena peran yang dimainkan langsung center stage," tutur Yenny.

Menurut Yenny, ada beberapa peran yang dimainkan perempuan dalam gerakan radikalisme dan terorisme. Pertama, perempuan merupakan perekrut orang untuk masuk ke dalam jaringan, maupun orang untuk dijadikan "pengantin" alias pelaku aksi teror.

Baca juga5 Korban Bom Surabaya Teridentifikasi, Salah Satunya Anak 15 Tahun

Kedua, perempuan pun kerap kali menjadi fundraiser atau penggalang dana untuk kegiatan radikalisme. Selain itu, perempuan pun menjadi pengatur logistik dalam aksi radikal atau teror.

"Kalau mau penyerangan, dia yang sewa mobil, sewa motor, atau beli ini itu," jelas Yenny.

Terakhir, peran lainnya adalah menjadi eksekutor. Peran ini yang terlihat dalam beberapa aksi teror baru-baru ini, termasuk aksi bom bunuh diri di Surabaya.

Dari sisi agama, Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Abdul Moqsith Ghozali menjelaskan, para pelaku teror dan bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu keliru membaca Al-Quran dan hadits. Tak hanya itu, mereka juga keliru memahami sejarah Nabi Muhammad SAW.

Moqsith menyebut pula, perang yang digadang-gadang oleh para pelaku teror tersebut, khususnya di Surabaya, tidak sesuai dengan syariat Islam. Sebab, Islam tidak membenarkan perempuan dan anak-anak terlibat dalam perang.

Baca jugaMendikbud: Semua Anak dalam Ledakan Bom Surabaya adalah Korban

Dalam sejarah, istri Nabi Muhammad maupun para sahabat-sahabatnya tidak pernah dilibatkan dalam perang. Melibatkan perempuan dan anak-anak dalam peperangan, imbuh Moqsith, tidak sesuai dengan syariat Islam.

"Itu tidak syar'i, salah kalau libatkan perempuan dalam peperangan. Melibatkan anak-anak dalam peperangan. Tidak benar kalau merujuk ke Al-Quran, hadits, dan sejarah Nabi," terang Moqsith.

Kompas TV Pihak kepolisian menduga pelaku masuk ke dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar

Terkini Lainnya

Sejak 2005, KY Terima 16.000 Laporan Pelanggaran Kode Etik Hakim

Sejak 2005, KY Terima 16.000 Laporan Pelanggaran Kode Etik Hakim

Nasional
Ombudsman Sebut Penghentian Layanan Publik Di Bekasi Terbukti dan Dilakukan Sistematis

Ombudsman Sebut Penghentian Layanan Publik Di Bekasi Terbukti dan Dilakukan Sistematis

Megapolitan
Ibu yang Ditahan di Bandara Dubai Mengaku Diperlakukan Tak Manusiawi

Ibu yang Ditahan di Bandara Dubai Mengaku Diperlakukan Tak Manusiawi

Internasional
Beredar Video Kepala Korps Brimob Polri Beri Sambutan sebagai Kapolda Metro Jaya, Ini Kata Polisi

Beredar Video Kepala Korps Brimob Polri Beri Sambutan sebagai Kapolda Metro Jaya, Ini Kata Polisi

Megapolitan
Ridwan Kamil Ajak Pemerintah Inggris Kerja Sama di Bidang Transportasi

Ridwan Kamil Ajak Pemerintah Inggris Kerja Sama di Bidang Transportasi

Regional
Obor Asian Games 2018 Tiba di Balai Kota

Obor Asian Games 2018 Tiba di Balai Kota

Megapolitan
Peras Kelompok Ternak Rp 36 Juta, KPK Gadungan Ditangkap Polisi

Peras Kelompok Ternak Rp 36 Juta, KPK Gadungan Ditangkap Polisi

Regional
Pengamen Binaan UPK Kota Tua Diminta Tak Beroperasi Saat Kirab Obor Asian Games

Pengamen Binaan UPK Kota Tua Diminta Tak Beroperasi Saat Kirab Obor Asian Games

Megapolitan
Hilang Tiga Hari di Hutan, Bocah Usia 2 Tahun Ditemukan Selamat

Hilang Tiga Hari di Hutan, Bocah Usia 2 Tahun Ditemukan Selamat

Internasional
Diuji Coba Mulai Hari Ini, Kereta LRT Jakarta Melaju 40 km/jam

Diuji Coba Mulai Hari Ini, Kereta LRT Jakarta Melaju 40 km/jam

Megapolitan
Penumpang Keluhkan Perpindahan Jalur KRL Bogor di Stasiun Manggarai, Ini Kata PT KCI

Penumpang Keluhkan Perpindahan Jalur KRL Bogor di Stasiun Manggarai, Ini Kata PT KCI

Megapolitan
Ketua DPR Tegaskan Kualitas UU Lebih Penting Dibandingkan Kuantitas

Ketua DPR Tegaskan Kualitas UU Lebih Penting Dibandingkan Kuantitas

Nasional
Ketua KPK Tanggapi Kritik Wadah Pegawai KPK soal Rotasi Jabatan

Ketua KPK Tanggapi Kritik Wadah Pegawai KPK soal Rotasi Jabatan

Nasional
Pengusutan Dugaan Mahar Sandiaga Diharapkan Menjadi Ajang Klarifikasi

Pengusutan Dugaan Mahar Sandiaga Diharapkan Menjadi Ajang Klarifikasi

Nasional
Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum

Ini Tugas Tim Evaluasi Tata Kelola Air Minum

Megapolitan
Close Ads X