Perang Tagar Dinilai Tak Banyak Pengaruhi Elektabilitas Parpol

Kompas.com - 08/05/2018, 19:50 WIB
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia Ardian Sopa, di Kantor LSI, Jakarta,  Kamis (14/12/2017). KOMPAS.com/IhsanuddinPeneliti Lingkaran Survei Indonesia Ardian Sopa, di Kantor LSI, Jakarta, Kamis (14/12/2017).
Penulis Yoga Sukmana
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Ardian Sopa menilai, perang tagar di media sosial terkait PIlpres 2019 tak banyak mendongkrak elektabilitas parpol.

Seperti diketahui, belakangan bermunculan tagar-tagar di media sosial. Mulai dari #2019GantiPresiden hingga #DiaSibukKerja.

“Kami lihat berpengaruh tetapi tidak terlalu besar,” ujar Ardian di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (8/5/2018).

Menurut dia, perang tagar di media sosial dibangun oleh partai-partai politik. Namun parpol dinilai tak bisa mengatrol elektabilitas dari tagar yang diciptakan.

Ardian mengatakan, elektabilitas partai lebih ditentukan oleh tiga faktor.

Baca juga : Ketua KPU: Masak Tagar Pilkada Kalah dengan Tagar Pilpres?

Pertama, parpol yang terasosiasi kuat ke capres yang punya elektabilitas tinggi. Kedua program parpol yang popular dan dikenal luas. Ketiga, tidak terkait skandal.

Beberapa skandal yang memengaruhi elektabilitas diantaranya yakni kasus korupsi.

Sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan hanya ada tiga partai yang akan berebut menjadi jawara di Pemilu 2019.

Berdasarkan survei terbarunya, LSI membagi hasil elektabilitas partai politik ke dalam 4 divisi. Pertama, divisi utama yang diisi oleh 3 parpol yakni PDI-P, Golkar dan Gerindra.

Baca juga : Survei LSI: Kasus Korupsi E-KTP dan Setya Novanto Buat Golkar Stagnan

Ardian menuturkan, dalam survei LSI Danny JA, 21,7 persen responden memilih PDI-P, 15,7 persen Golkar, dan 14,7 persen Gerindra.

Beberapa hal yang menjadi kunci utama besarnya elektabilitas ketiga partai tersebut yakni PDI-P karena faktor Jokowi, Gerindra karena faktor Prabowo, dan Golkar karena faktor programnya.

Sementara itu, untuk parpol lainnya, elektabilitas tidak mencapai 10 persen. PKB hanya 6,2 persen sementara Demokrat hanya 5,8 persen. LSI memasukan dua partai ini ke dalam divisi menengah.

Adapun divisi bawah dihuni oleh PAN 2,5 persen, Nasdem 2,3 persen, Perindo 2,3 persen, PKS 2,2 persen, dan PPP 1,8 persen.

Di divisi paling bawah yakni divisi nol koma, ada partai-partai yakni Hanura 0,7 persen, PBB 0,4 persen, Garuda 0,3 persen, PKPI 0,1 persen, dan Berkarya 0,1 persen.

Baca juga : Survei LSI Bagi Parpol Jadi 4 Divisi: Gerindra, Golkar, PDI-P Divisi Utama

Kompas TV Menurutnya, partai pendukung pemerintah saat ini tetap solid di pemilu 2019.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X