Pengacara Korban Berharap Bos First Travel Dituntut Maksimal, Ini 4 Alasannya

Kompas.com - 07/05/2018, 11:18 WIB
Terdakwa yaitu Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan menjalani sidang perdana kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh agen perjalanan umrah First Travel di Pengadilan Negeri Depok, Senin (19/2/2018). KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOTerdakwa yaitu Direktur Utama First Travel Andika Surachman, Direktur First Travel Anniesa Hasibuan, dan Direktur Keuangan First Travel Siti Nuraidah Hasibuan menjalani sidang perdana kasus dugaan penipuan dan penggelapan oleh agen perjalanan umrah First Travel di Pengadilan Negeri Depok, Senin (19/2/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com — Kuasa hukum korban First Travel, Luthfi Yazid, berharap, jaksa penuntut umum (JPU) mampu menuntut ketiga terdakwa bos First Travel, yakni Andhika Shurachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan, dengan hukuman yang maksimal.

"Sebagaimana dalam dakwaannya terdahulu bahwa JPU menuntut para terdakwa dengan dakwaan alternatif dan berlapis, yakni penipuan, penggelapan, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU)," ujar Luthfi Yazid, Senin (7/5/2018), dikutip dari Tribunnews.com.

Baca juga: Hari Ini, Tiga Bos First Travel Jalani Sidang Tuntutan

"Maka, sudah sewajarnya dan semestinya jika JPU dalam surat tuntutannya menuntut pidana para terdakwa secara maksimal," sambung Luthfi.


Menurut Luthfi, setidaknya ada empat alasan mengapa JPU harus menuntut trio bos First Travel dengan hukuman yang maksimal.

"Pertama, penipuan yang mereka lakukan bukanlah penipuan biasa, tetapi 'penipuan yang extraordinary', yang terstruktur, dan massif," ujar Luthfi.

Yang kedua, korban dari kejahatan ini mencapai 63.310 calon jemaah umrah yang ditipu dan tidak berangkat dan mencapai kerugian yang mendekati angka Rp 1 trilliun.

Baca juga: Ada CCTV di Ruang Pemeriksaan, Polri Cek Pengakuan Bos First Travel

Ketiga, pertimbangan keadilan dan nurani haruslah dikedepankan, dan bukan hanya pendekatan legalistik formal belaka.

Sebab, banyak dari korban kejahatan ini adalah orang yang hidupnya juga pas-pasan untuk mengumpulkan uang agar berangkat umrah ke Tanah Suci.

"Misalnya, mengandalkan uang lembur yang dikumpulkan, uang pensiun, tabungan, pinjaman, jual tanah atau uang hasil berjualan di pasar. Terlebih lagi, banyak juga korban FT yang menunggu diberangkatkan sampai mereka menjemput ajal," ujar Luthfi.

Dan yang terakhir dalam fakta persidangan telah terbukti semua kejahatan tersebut termasuk TPPU, misalnya dengan membeli restoran di London, Inggris.

Baca juga: Bantah Ada Intimidasi, Polisi Tuding Bos First Travel Berbohong

Menyelenggarakan fashion week di New York, Amerika Serikat, dan sebagainya. Jika mau konsisten dengan UU TPPU, ancaman pidananya adalah 20 tahun penjara.

"Sebab itu, para korban kejahatan bos First Travel mengharapkan JPU menuntut secara maksimal para terdakwa. Pun para korban selalu masih berharap agar uang mereka kembali bagaimana pun cara dan medianya," ucap Luthfi.

"Dan last but not least, jika tidak dituntut secara maksimal, hal ini akan menjadi preseden buruk bagi kasus serupa di mana banyak travel umrah bermasalah yang kini banyak terjadi dan sedang menunggu persidangan," tutup Luthfi. (Yanuar Nurcholis Majid)

***

Berita ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Kuasa Hukum Korban Berharap JPU Menuntut Trio Bos First Travel dengan Hukuman Maksimal

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X