Aksi Intelijen di Hari Bebas Kendaraan Bermotor? - Kompas.com

Aksi Intelijen di Hari Bebas Kendaraan Bermotor?

Kompas.com - 07/05/2018, 06:34 WIB
Suasana pesta kembang api saat malam tahun baru 2018 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (1/1/2018). Sejumlah warga ibukota dan sekitarnya memadati kawasan itu untuk merayakan malam pergantian tahun 2017 ke 2018.ANTARA FOTO / HAFIDZ MUBARAK A Suasana pesta kembang api saat malam tahun baru 2018 di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Senin (1/1/2018). Sejumlah warga ibukota dan sekitarnya memadati kawasan itu untuk merayakan malam pergantian tahun 2017 ke 2018.

Sepekan lebih, terjadi perdebatan soal intimidasi yang diperlihatkan video viral saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor alias Car Free Day (CFD), Minggu (29/4) pekan lalu.

Awalnya perdebatan berkisar antara adanya intimidasi atau tidak. Namun belakangan, perdebatan mengarah kepada tagar alias tanda pagar #KodeGelang, yang berafiliasi dengan aksi intelijen di balik peristiwa intimidasi CFD.

Adalah Mustofa Nahrawardaya, seorang Aktivis Muhammadiyah yang juga vokal bersuara di media sosial, dan kerap menjadi narasumber di Televisi.

Baca juga: Sandiaga Minta Jakarta Smart City Cek Video Viral Bernuansa Politis di CFD

Tofa, panggilannya, yang pertama kali mengungkapkan bahwa ada gelang khusus yang dipergunakan saat CFD lalu, dan diduga kuat menjadi penanda aksi, yang ditengarainya berkaitan dengan operasi Intelijen.

Gelang 

Gelang yang dimaksud, adalah gelang Kokka, yang berasal dari Arab Saudi, selain sering digunakan untuk asesoris, juga bisa digunakan untuk membantu menghitung bacaan dzikir.

Benarkah apa yang disampaikan Tofa?

Saya mewawancarainya dalam progam AIMAN, yang akan tayang malam ini (7/5/2018) pukul 20.00 wib di KompasTV.

Saya mewawancarainya detail terkait hal ini, termasuk ada tiga alasan ia ungkapkan.

Ia menggunakan istilah operasi Intelijen, karena ada sebuah kesengajaan yang nyata, menurutnya.

Tidak mungkin hal ini adalah sesuatu yang alami terjadi, tanpa ada operatornya.

Gelang bukan satu–satunya tanda, adanya kecurigaan ini.

“Gelang hanya dipakai menandakan kelompok yang memiliki tujuan sama untuk menyukseskan aksi”, menurut Tofa yang kerap menganalisi kasus kriminal di media massa.

Selain gelang, ada aksi sepekan sebelumnya di tempat yang sama dari kelompok yang berseberangan dengan kelompok #2019GantiPresiden dan berkumpul di sekitar Bundaran HI.

Menurut Tofa, aksi ini untuk memicu aksi pekan setelahnya, agar muncul aksi tandingan dari kelompok #2019GantiPresiden.

Harapannya jika bertemu, maka akan mudah melakukan operasi gelap ini, dalam kaitannya untuk membenturkan kedua kelompok.

Tanda selanjutnya menurut Tofa, adanya kejanggalan pada Susi Ferawati yang menjadi korban intimidasi bersama anaknya, pada CFD pekan lalu.

“Susi tahu bahwa kubu yang berseberangan ada di depannya, namun ia nekat berjalan menuju ke sana”, kata Mustofa.

Tiga alasan inilah, yang membuat Tofa yakin bahwa ada operasi intelijen yang bekerja saat itu, selain Video rekaman intimidasi yang dinilainya terlalu sempurna.

Kubu bercampur

Saya mencoba mewawancarai Susi Ferawati, terkait dua tudingan Tofa, kepadanya.

Pertama soal gelang yang dipakai Susi dan tudingan penanda yang biasa digunakan dalam sebuah operasi intelijen.

Susi mengatakan gelang itu, bukan baru ia gunakan, melainkan sejak tahun lalu. Ia membelinya di Madinah, Arab Saudi, dan kerap dipakainya untuk berdzikir.

Selanjutnya soal “nekat” melipir ke kubu yang berbeda, Susi mengungkapkan bahwa ia bersama kelima rekan termasuk anaknya, memang berjalan dari arah Monas menuju ke Bundaran HI.

Dan selama perjalan itu, sekitar 3 kilometer, ia tidak menemukan kubu–kubu seperti yang selama ini diperkirakan.

Justru ia menemui selama perjalanan, dua kubu #DiaSibukKerja yang merupakan pendukung Jokowi, dengan kubu #2019GantiPresiden yang merupakan yang berseberangan, bercampur baur selama perjalanan.

“Saya melihat, kedua kelompok ini berbaur di sepanjang jalan Thamrin sampai di depan Hotel Pullman, jadi tidak ada kecurigaan saya akan terjadi sesuatu di depan”, papar Susi.

Mudah dilihat

Lalu mana yang benar dari pernyataan keduanya? Dan mungkinkah ada operasi intelijen di balik insiden saat CFD yang berujung pada Intimidasi pekan lalu?

Saat pertanyaan ini saya ajukan kepada mantan Perwira Tinggi TNI yang mayoritas kariernya dihabiskan di dunia Intelijen, Laksamana Muda (Purn) Soleman Ponto, ia menjawab, “sangat mungkin ada operasi intelijen di CFD!”

Alasannya, ada dua kelompok yang saat ini hangat menjadi pembahasan di tengah masyarakat, berkumpul di tempat itu.

Apapun yang terjadi, pasti menjadi isu nasional. Mudah untuk melihat apakah ada aksi Intelijen di suatu kasus.

“Tinggal dilihat, pihak mana yang paling diuntungkan dari peristiwa ini? Jika ada jawaban itu, besar kemungkinan, ada operasi di dalamnya! Ungkap Soleman, yang menjabat kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, hingga tahun 2014.

Namun, untuk kasus Susi, Soleman mengungkapkan, kejadian itu, adalah peristiwa yang alami, dan bukan rekayasa.

Soleman mengungkapkan, dalam dunia intelijen selalu tidak tampak siapa yang melakukan dan siapa jadi operator.

Bahkan orang yang dituduh pun, bukan bagian dari Intelijen. Dan orang–orang tersebut tidak tahu, bahwa sebelumnya, ia telah diperdaya oleh seseorang yang merupakan agen intelijen.

Kasus yang pernah terjadi dan masih hangat di ingatan, adalah kasus yang menimpa sosok Siti Aisyah, WNI yang kini ditahan Pemerintah Malaysia, karena dituduh terlibat dalam operasi Intelijen yang berujung pada kematian sepupu Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Nam. 

Dalam dunia intelijen dikenal istilah, Nyata, tapi tak terlihat, Bergerak, tapi tak terdengar.

Saya Aiman Witjaksono…

Salam.


Komentar

Close Ads X