Wakapolri Tak Ingin Miras Oplosan Ganggu Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan

Kompas.com - 15/04/2018, 10:44 WIB
Wakapolri Komjen Pol Syafruddin tampak melakukan jalan sehat di kawasan stadion Gelora Bung Karno, Minggu (15/4/2018). DYLAN APRIALDO RACHMAN/KOMPAS.comWakapolri Komjen Pol Syafruddin tampak melakukan jalan sehat di kawasan stadion Gelora Bung Karno, Minggu (15/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakapolri Komjen Pol Syafruddin memastikan seluruh jajaran Kapolda bersemangat untuk menuntaskan peredaran minuman keras oplosan di wilayahnya masing-masing.

Syafruddin tak ingin peredaran miras oplosan mengganggu dan menghambat jalannya ibadah puasa di bulan Ramadhan nanti.

"Saya kasih target waktu sebelum Ramadhan harus tuntas. Orang mau beribadah ada isu miras kan enggak lucu. Bulan puasa harus fokus ibadah yang khusyuk," ujarnya.

(Baca juga: Razia Digalakkan, Petugas Amankan Miras dan Pemiliknya)


Syafruddin menuturkan, Polri juga akan menerjunkan tim investigasi internal untuk melakukan pengawasan kinerja aparat kepolisian daerah, kepolisian resor dan kepolisian sektor dalam menangani peredaran miras oplosan.

"Kalau serius ya kita appreciate, kalau tidak serius, ada laporan ya kita ganti. Saya sudah sampaikan, harus serius, kami turunkan tim dari mabes buat memantau kinerja," ujarnya.

Ia menilai aparat kepolisian yang paling menunjukkan kinerja signifikan, yakni kepolisian di Jawa Barat dan Jakarta. Oleh karena itu, ia meminta seluruh aparat di daerah lainnya untuk meneladani kinerja kepolisian di dua daerah tersebut.

"Saya yakin itu di tempat lain pasti ada banyak. Di Jawa Barat aja itu sampai ke polsek-polsek-nya operasi besar besaran. Itu harus dijadikan contoh," paparnya.

(Baca juga: Mengapa Miras Oplosan Diminati?)

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasiato mengatakan, penjualan minuman keras oplosan yang mengandung methanol dilakukan dengan sangat tertutup. Ada tempat-tempat tertentu di mana hanya kalangan mereka yang tahu untuk mendapatkan miras tersebut.

Pengguna bilang, bapak tidak akan bisa mendapatkan itu di tempat lain. Begitu bapak sweeping di situ gak ada," ujar Setyo di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/4/2018).

"Itu tahu sama tahu lah pasarnya," lanjut dia.

Selain tempatnya yang eksklusif dan terselubung, penjualnya juga tak bisa menjual ke orang sembarangan. Setyo mengatakan, penjual tidak akan memberikannya ke polisi karena takut ketahuan.

Setyo mengatakan, kemungkinan pelaku meracik miras oplosan dengan methanol dann ethanol karena faktor ekonomi. Dengan menjual seharga Rp 10.000-20.000 mereka mendapat keuntungan luar biasa.

(Baca juga: Polisi Sebut Penjual dan Pembeli Miras Oplosan Tahu Sama Tahu)

Korban yang tewas akibat miras oplosan terus bertambah di Jawa Barat dan Jakarta. Di wilayah Jawa Barat, korban tewas akibat miras oplosan di Jabar menjadi 58 orang. Rinciannya yakni 41 orang di Cicalengka, 7 orang di Kota Bandung, 7 orang di Sukabumi, 2 orang di Cianjur, dan 1 orang di Ciamis.

Sementara di wilayah hukum Polda Metro Jaya, ada 33 korban meninggal. Rinciannya, 10 orang meninggal di Jakarta Timur, 8 orang meninggal di Jakarta Selatan, 6 orang meninggal di Depok, 7 orang meninggal di Bekasi Kota, dan 2 orang meninggal di Ciputat.

Dengan demikian, total korban miras oplosan di Jakarta hingga Jawa Barat adalah 91 orang.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X