Gerindra Yakin Prabowo Tak Kesulitan Hadapi Jokowi pada Pilpres 2019 - Kompas.com

Gerindra Yakin Prabowo Tak Kesulitan Hadapi Jokowi pada Pilpres 2019

Kompas.com - 13/04/2018, 07:40 WIB
Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai  berkuda bersama disela-sela pertemuan mereka di Padepokan Garuda Yaksa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016). Selain sebagai bentuk silaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendiskusikan berbagai permasalahan di Indonesia.KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto (kanan) menjawab pertanyaan wartawan usai berkuda bersama disela-sela pertemuan mereka di Padepokan Garuda Yaksa Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (31/10/2016). Selain sebagai bentuk silaturahmi, pertemuan itu juga untuk mendiskusikan berbagai permasalahan di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani meyakini ketua umumnya, Prabowo Subianto, tak akan kesulitan dalam menghadapi Presiden Joko Widodo pada Pemilihan Presiden ( Pilpres) 2019 mendatang.

Muzani mengatakan pihaknya telah memiliki catatan atas kekalahan Prabowo dalam Pilpres 2014 lalu.

"Kami punya pengalaman berhadapan dengan Pak Jokowi di tahun 2014 dan kami punya banyak catatan. Sehingga catatan itu yang akan kami buka kembali," ujar Muzani saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/4/2018).

(Baca juga: Sandiaga Ibaratkan Jokowi Vs Prabowo Kisah David Vs Goliath)

Muzani tak sepakat dengan pendapat bahwa Prabowo akan kesulitan dalam menghadapi Jokowi atas dasar perbedaan elektabilitas.

Meski beberapa hasil survei menyatakan elektabilitas Prabowo saat ini masih jauh di bawah Jokowi, namun Muzani tak melihat hal itu sebagai persoalan.

Ia menuturkan, pada Pilpres 2014 kesenjangan elektabilitas juga terjadi. Ketika mesin partai bergerak, pertarungan sengit pun terjadi.

Hal yang sama terjadi ketika Gerindra mendukung Joko Widodo menghadapi Fauzi Bowo pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012. Sebelum pemilihan, elektabilitas Jokowi berada di bawah Fauzi Bowo.

"Sama saja ketika gap di Pilkada DKI. Gap-nya jauh antara Pak Jokowi dengan Foke (Fauzi Bowo). Kami juga punya cara bagaimana memenangkan Pak Jokowi," tuturnya.

(Baca juga: Gagal Dua Kali Pilpres, Prabowo Dinilai Sulit Hadapi Jokowi di 2019)

 

Selain itu ia juga mencontohkan upaya Gerindra saat memenangkan Anies Baswedan pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu.

Secara elektabilitas, Anies Baswedan selalu berada di bawah lawannya, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Kami juga punya cara memenangkan Anies. Jadi cerita itu biasa dalam sebuah pilkada dan pilpres, bukan sesuatu yang mengucurkan keringat," kata Muzani.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya memprediksi posisi Prabowo Subianto akan sulit dalam menghadapi Presiden Joko Widodo pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Pasalnya Prabowo tercatat sudah dua kali menjadi mencalonkan diri, yaitu di Pilpres 2009 sebagai cawapres Megawati dan di Pilpres 2014 sebagai capres. Namun, Prabowo gagal.

"Kalau kita menggunakan pendekatan kualitatif atau pendekatan brand, sebuah produk yang pernah di-launching dua kali dan gagal berturut-turut biasanya sulit untuk di-launching ketiga kalinya dan berhasil. Itu Pak Prabowo menurut saya," ujar Yunarto saat dihubungi, Kamis (12/4/2018).

(Baca juga: Prabowo Jadi Capres, Ketum PPP Yakin Jokowi Menang Lebih Mudah)

Menurut Yunarto, posisi Prabowo akan lebih menguntungkan bila menjadi "king maker" dengan mengajukan calon lain. Misalnya figur mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Belakangan mereka disebut-sebut sebagai calon kuat pendamping Prabowo.

Yunarto mengatakan, meski elektabilitas Gatot dan Anies saat ini masih rendah, namun ia menilai keduanya memiliki efek kejut yang tidak dimiliki oleh Prabowo.

Ia mencontohkan bagaimana Anies mampu mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Saya meyakini peluang Gatot dan Anies masih ada. Walaupun elektabilitasnya rendah ketika disurvei tapi dia bisa punya efek kejut, daya kejut yang tidak dimiliki oleh Prabowo. Jadi menurut saya faktor 'fresh' itu sudah hilang dari Prabowo dengan kegagalan dua kali yang dialami dari dua pemilu," kata Yunarto.

"Itu menurut saya menarik untuk dikaji dalam konteks ingin memenangkan pertarungan dengan Jokowi yang tidak mudah," ucapnya.

Kompas TV Simak dialognya dalam Kompas Petang berikut ini!


Komentar
Close Ads X