Kompas.com - 12/04/2018, 10:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai koalisi poros ketiga di luar kubu Presiden Joko Widodo dan kubu Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sulit terbentuk. Sebab, Hamdi melihat partai Demokrat, PAN dan PKB telah memiliki kecenderungan preferensi politik tertentu.

Hamdi mengungkapkan, partai Demokrat cenderung mengarah ke kubu Jokowi. Sebab, Demokrat akan mencari koalisi yang memiliki peluang kemenangan yang besar.

Sementara PAN, kata dia, lebih condong ke koalisi Prabowo. Karena, ia melihat sosok Amien Rais memiliki sentimen yang negatif terhadap Jokowi.

"Karena secara psikologis Amien Rais benci sama Jokowi dan mengarahkan PAN ke kubu Prabowo," kata Hamdi kepada Kompas.com, Kamis (12/4/2018).

Hamdi MulukKOMPAS.com/Indra Akuntono Hamdi Muluk

(Baca juga: Syarat PKS Usung Prabowo di Pilpres 2019, Cawapres Harus Kadernya)

Di satu sisi, PKB juga bersikap gamang. Sebab, Muhaimin Iskandar yang mendeklarasikan dirinya sebagai cawapres Jokowi, harus terjun dalam pertarungan perebutan kursi cawapres yang sengit. Sehingga, itu juga akan berdampak pada sikap PKB nantinya.

"Nah, apakah nanti cuma dua kubu? Atau ada kubu ketiga. Kubu ketiga secara hitung-hitungan bisa muncul. Kan yang belum jelas ada Demokrat, PAN dan PKB. Nah, itu kalau mereka buka kubu, itu bisa," ujar Hamdi.

Namun demikian, Hamdi menilai jika koalisi ketiga terbentuk, maka akan terjadi kegamangan dalam menentukan kandidat calon presiden dan wakil presidennya. Sebab, mereka juga harus memperhatikan elektabilitas calon sebagai indikator yang paling menentukan kesuksesan koalisi.

(Baca juga: Prabowo Disarankan Cari Cawapres yang Bisa Naikkan Elektabilitas)

"Memang elektabilitas itu semacam hukum besinya, jadi paling menentukan itu preferensi politik berdasarkan popularitas, kesukaan, dan mau dipilih apa enggak. Itu kan ujungnya disitu," kata dia.

Hamdi memaparkan, elektabilitas Jokowi cenderung kuat, disusul oleh Prabowo yang cukup rendah. Sementara itu, nama-nama lain seperti Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memiliki elektabilitas yang sangat kecil.

"Yang lain kan kecil sekali, Gatot, Anies, AHY, juga pertanyaannya apakah cukup waktu menyaingi Prabowo atau Jokowi. Itu pertanyaannya," katanya.

Kompas TV Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyambut baik apapun keputusan Partai Gerindra.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.