Kompas.com - 09/04/2018, 10:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Komodor muda udara Marsekal TNI Agustinus Adisutjipto merupakan satu dari sedikit barisan pemuda yang memiliki kemampuan menerbangkan pesawat di masanya.

Ia merupakan penerbang Vaandrig Kortuerban Vlieger yang meraih groot military brevet (GMB) kelas 1 dan brevet navigator pada masa penjajahan Belanda.

Sebelum perang pasifik, Adisutjipto ditugaskan di salah satu skadron dengan kekuatan armada pesawat bomber Glenn Martin (B-10). Selanjutnya ia dialihtugaskan ke skadron pengintai Curtiss Falcon.

"Semangat dan keberaniannya itu mengalahkan segalanya, termasuk risiko yang kemungkinan dihadapinya. Tekadnya hanya satu, menerbangkan pesawat-pesawat itu," demikian kutipan buku "Persitiwa Heroik 29 Juli 1947" terbitan Subdinas Sejarah Dinas Penerangan Angkatan Udara.

(Baca juga: Adisutjipto, Bandara Paling Crowded dengan Kapasitas Terbatas)

Adisutjipto kemudian diajak kawan lamanya, Mayor Tentara Keamanan Rakyat Tarsono Rudjito untuk membentuk TKR Jawatan Penerbangan. Tanpa ragu ia pun bergabung. Ia merasa jiwanya terpanggil untuk bisa berbuat lebih banyak dalam melawan imperialis Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia.

Adisutjipto menyadari bahwa kemampuan yang ia miliki masih langka. Tenaganya sangat dibutuhkan untuk mempertahankan NKRI. Semangatnya terpompa untuk menghidupkan Angkatan Udara begitu sampai di Landasan Udara Maguwo, Yogyakarta.

Apalagi ia melihat rakyat Indonesia memiliki kualifikasi sebagai teknisi pesawat pada jaman Belanda dan Jepang. Hal tersebut bisa jadi modal untuk merebut dan menguasai lapangan terbang beserta pesawat-pesawat itu dari tangan penjajah.

"Ia menyadari beban ini dirasa berat, apalagi ia belum pernah menerbangkan pesawat buatan Jepang. Untungnya dia pernah belajar terbang dengan pesawat bersayap dua saat menjadi siswa penerbang jaman Belanda," dikutip dari buku tersebut.

 

Dirikan sekolah penerbangan

Awal baktinya bagi Angkatan Udara dimulai ketika dia menerbangkan pesawat Cureng buatan Jepang yang memakai tanda merah putih pada 27 Oktober 1945. Pesawat itu melintas di langit kota Yogyakarta.

(Baca juga: Bandara Adisutjipto Berbenah untuk Mengurai Kepadatan Penumpang)

 

Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah penerbangan nasional karena pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, sebuah pesawat terbang beridentitas merah putih terbang di angkasa. Penerbangnya pun orang Indonesia.

Keberhasilan ini memompa semangatnya untuk menerbangkan pesawat lainnya. Namun, ia menyadari bahwa tenaga penerbang sangat kurang.

Adisutjipto berambisi negaranya bisa melahirkan penerbang-penerbang andal pasca Indonesia merdeka. Atas dasar itulah ia memprakarsai sekolah penerbangan pertama di Indonesia yang bermarkas di pangkalan udara Maguwo, Yogyakarta.

Bandara ini yang kelak berubah nama menjadi Adisutjipto pada 17 Agustus 1947.

(Baca juga: Pengumuman di Bandara Adisutjipto Pakai Bahasa Jawa)

Suasana Bandara Internasional Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (26/1/2018). Pihak PT Angkasa Pura I menyebut bandara ini sudah melebihi kapasitas yang seharusnya, sehingga untuk meningkatkan pelayanan dibutuhkan bandara baru bernama New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo.KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA Suasana Bandara Internasional Adisutjipto di Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (26/1/2018). Pihak PT Angkasa Pura I menyebut bandara ini sudah melebihi kapasitas yang seharusnya, sehingga untuk meningkatkan pelayanan dibutuhkan bandara baru bernama New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulonprogo.

Siswanya terdiri dari beberapa orang yang sudah belajar menerbangkan pesawat, seperti Abdulrachman Saleh dan beberapa yang belum belajar sama sekali. Jumlah siswanya sekitar 30 orang. Tak hanya sebagai kepala sekolah, Adisutjipto juga berperan sebagai instruktur.

Bersama siswa lainnya, ia memperluas jaringan penerbangan ke pangkalan-pangkalan udara yang belum dibuka di Jawa maupun Sumatera bagian selatan.

Dalam waktu singkat, ia menghasilkan tenaga penerbang yang cukup andal. Pada akhirnya sekolah ini ditutup pada 21 Juli 1947 karena situasi dan hubungan dengan Belanda semakin memburuk.

 

Menerobos blokade Belanda

Adisutjipto dikenal bernyali besar menghadapi penjajah. Sewaktu kota Semarang diduduki tentara Inggris, penduduk dan pimpinan daerah mengungsi ke luar kota.

Adisutjipto langsung menemui pimpinan militer Inggris di Semarang untuk merundingkan masalah tersebut. Hasilnya, ia berhasil mengembalikan Gubernur Wongsonegoro ke Semarang dikawal para pemuda.

Selama Jepang menjajah, Adisutjipto bekerja di Jodsja Jimukyoku, perusahaan angkutan bus pemerintah Jepang. Pasca Indonesia merdeka, ia berhasil merebut pimpinan Jodsja Jimukyoku dan mengganti bendera Jepang yang berkibar di depan kantor tersebut dan menggantinya dengan bendera merah putih.

(Baca juga: AP I: Ada Kemungkinan Bandara Adisutjipto Disamakan dengan Halim)

Pada April 1946, Adisutjipto dijadikan Wakil Kepala Staf II Tentara Republik Indonesia. Ia masih menjalankan tugas penerbangan baik yang bersifat test-flight maupun tugas kemiliteran dan kenegaraan.

Adisutjipto beberapa kali mendapat tugas menerobos blokade Belanda di Indonesia untuk mencari bantuan dan dukungan luar negeri. Ia menumpang pesawat luar negeri yang datang ke Indonesia untuk bisa ke luar.

Saat itu, bangsa Indonesia mendapat simpati dari negara-negara tetangga. Bahkan, mereka bersedia memberi bantuan berupa tenaga instruktur, obat-obatan, persenjataan, termasuk pesawat.

Perjalanannya ke Pakistan dan India pada Juli 1947 menjadi misi terakhirnya. Ia bertemu Ali Jinnah di Pakistan dan Sri Nehru di India. Ia pulang ke Indonesia membawa serta bantuann obat-obatan.

Saat itu, ia menggunakan pesawat VT-CLA Dakota bersama Abdulrachman Saleh dan beberapa penumpang lainnya. Belum masuk ke wilayah Indonesia, pesawat itu diberondong tembakan pesawat Kitty Hawk milik Belanda. Pesawat Adisutjipto pun jatuh dan awak pesawat gugur.

***
Dalam rangka HUT ke-72 TNI AU ini pula, Kompas.com akan menayangkan sejumlah berita-berita angkatan udara Indonesia sejak dahulu hingga saat ini, termasuk kisah-kisah heroik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Simak selengkapnya di Kompas.com sepanjang hari ini.

Kompas TV 72 penerjun Korpashkas memeriahkan gelaran bulan Dirgantara peringatan HUT TNI AU yang ke 72.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Dansa Politik' Kader PDI-P,  Antara Dewan Kolonel dan Dewan Kopral

"Dansa Politik" Kader PDI-P, Antara Dewan Kolonel dan Dewan Kopral

Nasional
Dua Gibran, Merdeka Belajar dan Diplomasi Istana

Dua Gibran, Merdeka Belajar dan Diplomasi Istana

Nasional
Deretan Skandal Lukas Enembe, dari Dugaan Korupsi hingga Judi

Deretan Skandal Lukas Enembe, dari Dugaan Korupsi hingga Judi

Nasional
Ke MKD DPR, IPW Bakal Jelaskan soal 'Private Jet' yang Dipakai Brigjen Hendra Kurniawan

Ke MKD DPR, IPW Bakal Jelaskan soal "Private Jet" yang Dipakai Brigjen Hendra Kurniawan

Nasional
Laporan Keuangan Konsorsium Judi Mengalir ke Oknum Polisi

Laporan Keuangan Konsorsium Judi Mengalir ke Oknum Polisi

Nasional
Jemput Paksa Menanti Jika Lukas Enembe Mangkir Lagi dari Panggilan KPK

Jemput Paksa Menanti Jika Lukas Enembe Mangkir Lagi dari Panggilan KPK

Nasional
Teka-teki Hakim Agung Bakal Temani Sudrajad Dimyati di Sel KPK

Teka-teki Hakim Agung Bakal Temani Sudrajad Dimyati di Sel KPK

Nasional
Hobi Judi Lukas Enembe Terbongkar, Mahfud MD Dibuat Geram

Hobi Judi Lukas Enembe Terbongkar, Mahfud MD Dibuat Geram

Nasional
Sulitnya Koalisi Nasdem-Demokrat-PKS: antara Dilema Surya Paloh dan Alotnya Nama Capres-Cawapres

Sulitnya Koalisi Nasdem-Demokrat-PKS: antara Dilema Surya Paloh dan Alotnya Nama Capres-Cawapres

Nasional
[POPULER NASIONAL] Lukas Enembe Minta Berobat ke Luar Negeri | Mahfud soal Hakim Agung yang Terseret OTT

[POPULER NASIONAL] Lukas Enembe Minta Berobat ke Luar Negeri | Mahfud soal Hakim Agung yang Terseret OTT

Nasional
Paket Diduga Bom Meledak di Asrama Polisi Sukoharjo, Densus 88 Bergerak

Paket Diduga Bom Meledak di Asrama Polisi Sukoharjo, Densus 88 Bergerak

Nasional
Pengacara Pastikan Lukas Enembe Tak Penuhi Panggilan KPK Besok

Pengacara Pastikan Lukas Enembe Tak Penuhi Panggilan KPK Besok

Nasional
Musra II Relawan di Makassar, Jokowi Dicurigai Jadi Capres Paling Unggul Lagi

Musra II Relawan di Makassar, Jokowi Dicurigai Jadi Capres Paling Unggul Lagi

Nasional
Wapres Ma'ruf Amin Bertolak ke Jepang Hadiri Pemakaman Kenegaraan Shinzo Abe

Wapres Ma'ruf Amin Bertolak ke Jepang Hadiri Pemakaman Kenegaraan Shinzo Abe

Nasional
Pengacara Ungkap Tito Karnavian dan Bahlil Lahadlia Pernah Temui Lukas Enembe, Minta Paulus Waterpau jadi Wagub Papua

Pengacara Ungkap Tito Karnavian dan Bahlil Lahadlia Pernah Temui Lukas Enembe, Minta Paulus Waterpau jadi Wagub Papua

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.