Pemerintah Fokus Atasi Stunting di 100 Kabupaten/Kota

Kompas.com - 06/04/2018, 13:46 WIB
Dua orang anak dari kampung Warse, Distrik Jetsy menunggu perawatan setibanya di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). Sebanyak 15 anak dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats untuk diberikan perawatan dan pengobatan.ANTARA FOTO / M AGUNG RAJASA Dua orang anak dari kampung Warse, Distrik Jetsy menunggu perawatan setibanya di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). Sebanyak 15 anak dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats untuk diberikan perawatan dan pengobatan.

BOGOR, KOMPAS.com - Pemerintah memfokuskan penanganan stunting (gagal tumbuh) di 100 kota/kabupaten di Indonesia. Ke-100 kota/kabupaten itu adalah daerah yang angka stunting-nya tinggi.

"Tahun ini pemerintah akan fokus ke desa-desa yang sudah kita tentukan sebelumnya, ada di 100 kabupaten/kota," ujar Presiden Joko Widodo di Istana Presiden Bogor, Jawa Barat, Jumat (6/4/2018).

Sebenarnya pemerintah sudah fokus dengan persoalan stunting sejak awal pemerintahan.

Selama ini, pemerintah hanya mendistribusikan makanan tambahan kepada ibu hamil dan anak-anak.

Namun pada tahun ketiga, pemerintah menyadari bahwa persoalan stunting akan lebih cepat diatasi jika pendistribusian makanan tambahan diikuti dengan perbaikan pola hidup dan kondisi lingkungan tempat tinggal.

(Baca juga : Kata Jokowi, Bagi-bagi Biskuit Tak Cukup Atasi Masalah Stunting)

Oleh sebab itu, mulai April 2018 ini, penanganan stunting tidak hanya akan dilakukan dengan pemberian makanan tambahan, namun juga pembangunan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak.

"Yang pemberian makanan tambahan, itu ditambah lagi. Kita kerja sama dengan PKK atau Posyandu untuk memberikan makanan tambahan, baik berupa telur, ikan, kacang hijau dan susu. Biskuit seperti yang kemarin juga tetap masih," ujar Jokowi.

"Termasuk pembangunan fisiknya melalui padat karya tunai. Kita sudah sampaikan kepada desa-desa agar digunakan juga dalam rangka pemenuhan gizi anak," kata Presiden.

"Karena sekali lagi, stunting ini bukan hanya masalah makanan, tapi juga berkaitan dengan kesehatan lingkungan, salah satunya sanitasi, air bersih. Jadi semuanya harus bekerja dan harus terintegerasi," lanjut Jokowi.

(Baca juga : Saat Jusuf Kalla Minta Ustaz Abdul Somad Bicara Stunting...)

Gambaran anak penderita stunting di Indonesia cukup menggelisahkan. Catatan Kemenkes pada 2013, jumlah anak penderita stunting sebesar 37,2 persen. Artinya, dari 10 anak Indonesia, dua orang di antaranya menderita gagal tumbuh.

Penyebabnya adalah kekurangan nutrisi secara kronis. Sejak bayi berada dalam kandungan, sang ibu tidak memberikan asupan bergizi. Itu menyebabkan sang ibu kekurangan gizi, demikian juga sang bayi.

Biasanya, seorang anak yang lahir dalam kondisi stunting juga akan berlanjut dalam masa tumbuh kembangnya.

Karena kekurangan informasi mengenai stunting, sang ibu tidak memberikan asi eksklusif, tidak memberikan makanan pendamping dan sebagainya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X