Jejak Indonesia dalam Diplomasi Islam Moderat di Afghanistan

Kompas.com - 27/03/2018, 11:23 WIB
Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Gani di Kabul, Afghanistan, Senin (29/1/2018). Biro Pers SetpresPresiden Joko Widodo bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Gani di Kabul, Afghanistan, Senin (29/1/2018).

Konferensi ini diselenggarakan oleh World Organization for Resource Development and Education (WORDE). Dari PBNU hadir KH As’ad Said Ali dan KH Yahya C Staquf. Selain itu, hadir 80 ulama dari Afghanistan, juga beberapa ulama internasional seperti Syaikh Hisyam Kabbani, Syaikh Mustafa Ceric (Bosnia), dan Syaikh Cagrici (Turki).

Konferensi tersebut mempertemukan beberapa jaringan antarkabilah di Afghanistan serta ulama internasional untuk mencari kesepahaman bersama. Konferensi ini juga mendorong kampanye Islam yang mengedepankan toleransi, perdamaian, serta nilai-nilai ukhuwwah. Kegiatan konferensi menjadi rangkaian dari inisiasi perdamaian, untuk melempangkan jalan rekonsiliasi antar-kelompok di Afghanistan.

Selain itu, ulama Afghanistan juga berkunjung ke Indonesia, belajar tentang relasi agama dan negara dari beberapa kiai, serta mengikuti kuliah tentang Pancasila di Universitas Gadjah Mada (UGM). Belajar dari NU, ulama Afghanistan juga mendirikan Nahdlatul Ulama Afghanistan, yang menjadi organisasi kultur untuk mempromosikan Islam damai di negeri itu.

Di Afghanistan, negeri yang kaya dengan tradisi tasawuf, kultur masyarakat Muslim-nya hampir sama dengan tradisi NU. Di negeri itu, komunitas Muslim memegang peran penting sebagai mayoritas dalam lapisan kultur religiusnya. Di sana persoalannya bukan komunikasi antar-agama, akan tetapi bagaimana membangun kepercayaan antar-komunitas Muslim.

Terlebih lagi, di Afghanistan kultur tasawuf sangat kental. Negeri itu punya akar sejarah tasawuf yang demikian kokoh, dengan beragam dinamikanya. Kultur ini selaras dengan apa yang dimiliki NU, yaitu tradisi tasawuf yang berkelindan dengan nilai-nilai pesantren.

Titik kesamaan inilah yang membuat ulama dan aktor masing-masing kabilah di Afghanistan mau menerima delegasi NU dalam pertemuan-pertemuan awal untuk membincang perdamaian.

Dalam sebuah perbincangan dengan Dr Ichasan Malik, inisiator perdamaian dalam konflik Poso dan Ambon, saya bertanya bagaimana peluang Indonesia untuk menjadi bagian dari juru damai konflik internasional. Menurut beliau, modal sosial Indonesia lebih dari cukup untuk menginjeksi nilai-nilai kearifan di tengah meningkatnya eskalasi politik dunia.

"(Karena) semua konflik di dunia itu pernah ada di Indonesia. Pola yang hampir sama terjadi di negeri kita. Kita tengok konflik Kosovo, Bosnia, Timur Tengah, Afghanistan, hingga konflik Palestina-Israel, pola yang hampir sama pernah terjadi di negara kita. Dari konflik agama, etnis, komunitas, dan antar-komunitas, semuanya pernah terjadi (dan bisa dilewati)," ungkap Ichsan Malik, di kantor Litbang Kompas, Palmerah, beberapa waktu lalu.

Saat ini, inisiasi perdamaian di Afghanistan sudah melangkah jauh menuju level yang lebih baik. Meski, demi mencapai damai itu harus membayar mahal dengan wafatnya Syaikh Burhanuddin Rabbani serta beberapa risiko yang ditanggung oleh ulama Afghanistan.

Di tengah kemelut konflik, perdamaian menjadi sesuatu yang mahal. Tanpa harus menunggu terkoyak konflik terlebih dahulu, bukankah kita mesti bercermin dari kondisi Afghanistan?

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X