Jejak Indonesia dalam Diplomasi Islam Moderat di Afghanistan

Kompas.com - 27/03/2018, 11:23 WIB
Presiden Joko Widodo bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Gani di Kabul, Afghanistan, Senin (29/1/2018). Biro Pers SetpresPresiden Joko Widodo bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Gani di Kabul, Afghanistan, Senin (29/1/2018).


DALAM
beberapa bulan terakhir, pemerintah Indonesia terlihat sedang fokus dengan inisiasi damai di Afghanistan. Indonesia mencoba menjadi penengah, inisiator perdamaian atas konflik berlarut-larut yang terjadi di Afghanistan.

Melalui Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, pemerintah menyiapkan forum untuk mempertemukan ulama dan aktor penting dari tiap-tiap kabilah di Afghanistan.

Harapannya, terwujud perdamaian yang sesungguhnya, perdamaian yang mengakar dalam kultur masyarakat Afghanistan. Tidak hanya damai dalam kesepakatan, tetapi benar-benar damai dalam interaksi keseharian.

Langkah pemerintah Indonesia menjadi penting, yang itu menunjukkan kepedulian sekaligus peran di ranah internasional. Melalui inisiasi perdamaian ini, Indonesia melangsungkan diplomasi sebagai negara juru damai, yang memberi kontribusi bagi perdamaian dunia.

Presiden Joko Widodo juga berkunjung ke Afghanistan, menemui presiden dan beberapa pejabat di negeri itu pada Senin (29/1/2018). Kehadiran Presiden Jokowi di Afghanistan berlangsung di tengah sengkarut dan ancaman kekerasan di negeri itu.

Pada 21 Januari 2018, misalnya, bom meledak di Hotel Intercontinental, menewaskan 20 orang. Lalu, pada 24 Januari 2018, Islamic State of Iraq and the Levant (ISIS) membunuh tiga orang di kantor lembaga amal Save the Children di Jalalabad. Rangkaian kekerasan masih membara di Afghanistan, terutama dari kelompok ISIS serta jaringan teror internasional.

Namun, jauh sebelum berbagai upaya itu, sejak 2011 Nahdlatul Ulama (NU) telah menginisiasi perdamaian di Afghanistan dengan mempertemukan beberapa ulama penting dari beberapa kabilah. Langkah NU ini terwujud atas kerja sama dengan Badan Intelijen Negara (BIN) dan Kementerian Luar Negeri.

Ketika itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beberapa kali mengirim kiai-kiai pesantren dan tim pakar untuk menjadi juru damai di negeri penuh konflik ini. Afghanistan membara, komunikasi formal dengan menggunakan institusi negara untuk menginisiasi perdamaian menabrak tembok tebal nyaris mustahil terjadi karena interaksi kepentingan antarnegara dan ekskalasi geopolitik yang masih rumit.

Satu-satunya jalan yang bisa menebus celah ini adalah dengan menggunakan organisasi masyarakat Islam sebagai aktor second track diplomation. Dengan demikian, NU menjadi aktor perdamaian sekaligus media untuk menyebarkan pesan damai. Menggunakan pendekatan ormas yang mengedepankan nilai-nilai Islam ramah dan tasawuf, ulama di Afghanistan lebih terbuka membangun komunikasi dengan NU.

Second track diplomation

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas: Sejak Awal Mudik Bentuk Apa Pun Dilarang, Termasuk di Kawasan Aglomerasi

Satgas: Sejak Awal Mudik Bentuk Apa Pun Dilarang, Termasuk di Kawasan Aglomerasi

Nasional
Panduan Ibadah Kenaikan Isa Almasih, Menag Sarankan Lansia dan yang Rentan Ibadah Virtual

Panduan Ibadah Kenaikan Isa Almasih, Menag Sarankan Lansia dan yang Rentan Ibadah Virtual

Nasional
MA Batalkan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah, Kemendikbud-Ristek: Kami Koordinasi dengan Kemendagri dan Kemenag

MA Batalkan SKB 3 Menteri soal Seragam Sekolah, Kemendikbud-Ristek: Kami Koordinasi dengan Kemendagri dan Kemenag

Nasional
Tidak Mudik, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Akan Berada di Istana Bogor Saat Idul Fitri

Tidak Mudik, Presiden Jokowi dan Ibu Negara Akan Berada di Istana Bogor Saat Idul Fitri

Nasional
Saat Menpan RB Tjahjo Kumolo Berubah Sikap soal TWK dan Nasib 75 Pegawai KPK...

Saat Menpan RB Tjahjo Kumolo Berubah Sikap soal TWK dan Nasib 75 Pegawai KPK...

Nasional
Ada Pertemuan Sekjen Partai Koalisi, Golkar dan Nasdem Tak Hadir

Ada Pertemuan Sekjen Partai Koalisi, Golkar dan Nasdem Tak Hadir

Nasional
MA Batalkan SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah

MA Batalkan SKB 3 Menteri tentang Seragam Sekolah

Nasional
Indonesia Jadi Koordinator Kemitraan ASEAN dengan AS 2021-2024

Indonesia Jadi Koordinator Kemitraan ASEAN dengan AS 2021-2024

Nasional
Polri: Hari Pertama Larangan Mudik, 23.573 Kendaraan Diminta Putar Balik

Polri: Hari Pertama Larangan Mudik, 23.573 Kendaraan Diminta Putar Balik

Nasional
Kumpulkan Sekjen Partai Koalisi Pemerintahan, Hasto: Tidak Ada Pembicaraan Politik Serius

Kumpulkan Sekjen Partai Koalisi Pemerintahan, Hasto: Tidak Ada Pembicaraan Politik Serius

Nasional
Ini Sektor Esensial yang Diizinkan Beroperasi Selama Larangan Mudik

Ini Sektor Esensial yang Diizinkan Beroperasi Selama Larangan Mudik

Nasional
Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin Tak Penuhi Panggilan KPK Hari Ini

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin Tak Penuhi Panggilan KPK Hari Ini

Nasional
Para Sekjen Partai Pemerintah Buka Puasa Bersama, PPP: Semoga Menyolidkan

Para Sekjen Partai Pemerintah Buka Puasa Bersama, PPP: Semoga Menyolidkan

Nasional
Video Viral Gubernur Maluku Bentak Protokoler Kepresidenan, Ini Penjelasan Istana

Video Viral Gubernur Maluku Bentak Protokoler Kepresidenan, Ini Penjelasan Istana

Nasional
Ketua Satgas: Mohon Maaf yang Berniat Mudik, Tidak Bisa Terlaksana Tahun Ini

Ketua Satgas: Mohon Maaf yang Berniat Mudik, Tidak Bisa Terlaksana Tahun Ini

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X