Politisi Demokrat: Beda dengan AHY, Prabowo Pesimistis soal Indonesia - Kompas.com

Politisi Demokrat: Beda dengan AHY, Prabowo Pesimistis soal Indonesia

Kompas.com - 20/03/2018, 21:03 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Selasa (31/10/2017).Dokumentasi Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Selasa (31/10/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik mengomentari pernyataan Ketua Umum Prabowo Subianto soal adanya kajian dari pihak asing yang menyatakan Indonesia tidak akan ada lagi pada 2030.

Adapun pernyataan tersebut dimuat dalam video yang diunggah di akun Facebook resmi Partai Gerindra pada Senin (19/3/2018) silam.

Dalam video tersebut, Prabowo mengungkapkan sejumlah persoalan perekonomian yang dialami Indonesia.

Namun, menurut Rachlan, pernyataan Prabowo tersebut hanya mengutip hasil studi tentang perkembangan geopolitik internasional yang bersifat pesimistis tentang Indonesia.

"Ia tidak membuat prediksi sendiri. Namun, kelihatannya ia sangat terobsesi dengan studi pihak asing tersebut," ujar Rachlan melalui keterangan tertulisnya, Selasa (20/3/2018).

Rachlan menuturkan, tak menutup kemungkinan sebuah studi meramal Indonesia akan bubar pada 2030.

Namun, di sisi lain ada juga proyeksi dari studi lain yang justru optimistis memandang peran dan kekuatan Indonesia di masa depan.

(Baca juga: Fadli Zon: Pernyataan Prabowo soal Indonesia Bubar pada 2030 Hanya Peringatan)

Indonesia, kata Rachlan, dilukiskan sebagai negara demokrasi yang bertambah kuat dan berpengaruh dengan kesejahteraan rakyatnya yang meningkat pesat.

Rachlan juga mencontohkan saat Pemerintah Indonesia memperkenalkan proyek desentralisasi dan otonomi daerah yang sangat massif serta radikal.

Saat itu, Indonesia pun diramalkan akan mengalami nasib seperti negara negara Balkan.

"Buktinya Indonesia tidak bubar, bahkan berhasil mengatasi masalah separatisme dan konflik etnis dengan perdamaian dan penegakan hukum," tuturnya.

Ia pun membandingkan Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, yang memprediksi Indonesia akan mencapai masa keemasan pada 2045 jika para pemudanya lebih serius dan peduli mengejar prestasi.

Rachlan meyakini niat Prabowo sama dengan AHY sama-sama baik untuk mengajak seluruh masyarakat lebih memedulikan Indonesia, tetapi dengan gaya yang berbeda.

"Seperti Pak Prabowo, AHY pun mengajak kita lebih memedulikan Indonesia. Bedanya, AHY menawarkan optimisme, bukan menakut-nakuti. Itu beda pemimpin zaman now dari pemimpin zaman old," kata Rachlan.

"Mungkin adalah gaya khas beliau saja bila ia melakukan itu dengan cara meniupkan ketakutan," ucapnya.

Kompas TV Partai Gerindra akan mendeklarasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2019 pada April mendatang.


Komentar
Close Ads X