Algooth Putranto

Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Menanti Kemenangan Kedua Golkar di Pilkada Serentak

Kompas.com - 16/03/2018, 07:14 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bahkan, hanya butuh satu periode kepresidenan saja bagi Golkar untuk kembali menjadi rebutan politisi. Bagai kendaraan politik, singkatnya Golkar kendaraan yang sudah teruji dengan layanan purnajual dan servis di mana-mana.

Jika kita belum lupa pada 2004, konvensi calon presiden yang digelar Golkar dijejali banyak tokoh. Tak kurang dari 19 calon capres mengadu nasib, antara lain para mantan tentara seperti Wiranto, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Agum Gumelar.

Adapun dari kalangan pebisnis muncul Aburizal Bakrie dan Surya Paloh, sedangkan dari kalangan sipil-perguruan tinggi terdapat Akbar Tandjung dan Nurcholish Madjid. Bahkan Sri Sultan HB X yang sudah berstatus Raja pun ikut serta.

Uniknya, meski tersingkir dari konvensi lalu memilih membuat kendaraan sendiri dan berhasil menjadi Presiden RI, SBY tetap merasa perlu menyertakan Golkar dalam kabinetnya, serupa dengan yang dilakukan oleh dua presiden pendahulunya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri.

Otda dan Golkar

Berlangsungnya otonomi daerah (otda) sejak 2001 merupakan desentralisasi kekuasaan pemerintah pusat sekaligus menjadi medan pertempuran politik baru bagi partai-partai untuk menguasai daerah sebagai bekal bagi pemilu, baik pileg maupun pilpres.

Medan perang di daerah tersebut menjadi menarik jika kita mencermati hasil kemenangan PDI Perjuangan (PDI-P) pada Pilkada 2015 yang tidak bisa dibantah akibat Jokowi Effect pada Pilpres 2014.

Namun entah bagaimana, dengan status partai pemenang pileg dan pilpres, hanya dalam tempo tiga tahun saja, dengan mudah dominasi PDI-P di pilkada ditumbangkan oleh Golkar. Tercatat bahwa Pilkada 2017 dikuasai Golkar.

Saat itu, dari 98 kandidat yang diusung, Golkar meraih 54 kemenangan. Jauh mengungguli PDI-P yang hanya berada di urutan keempat di bawah Golkar, Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dan Partai Demokrat.

Keberhasilan Golkar memenangi pilkada tahun lalu memang kurang mendapat perhatian. Media tersita oleh melodrama Pilkada DKI Jakarta yang kebetulan menjadi panggung kekalahan koalisi Golkar dan PDI-P.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.