Catatan Pertemuan dengan BJ Habibie di Muenchen

Kompas.com - 12/03/2018, 18:33 WIB
Duta Besar RI untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi (dua dari kiri) beserta istri dan anaknya menjenguk Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie di Starnberg Klinikum, Muenchen, Jerman, Jumat (9/3/2018). DOK. PRIBADIDuta Besar RI untuk Ukraina Yuddy Chrisnandi (dua dari kiri) beserta istri dan anaknya menjenguk Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie di Starnberg Klinikum, Muenchen, Jerman, Jumat (9/3/2018).

SELASA, 6 Maret 2018, pukul 05.00 waktu Kiev, Ukraina. Saya baru saja shalat sunnah sambil menantikan masuknya waktu subuh.

Saat memeriksa HP, saya tersentak membaca sebuah berita tentang kondisi Pak Habibie di Jerman.

Dikatakan, Bacharuddin Jusuf Habibie dilarikan ke sebuah klinik di Kota Muenchen, Jerman. Semua orang di Tanah Air berharap kesembuhan segera bagi mantan Menristek kebanggaan Indonesia itu.

Sakitnya pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, itu mengusik ketenangan saya. Di luar, udara Kiev minus 3 derajat Celcius menyapa halaman Wisma Indonesia tempat tinggal saya. Saya menarik napas panjang seraya beristigfar.

Segera saya mengonfirmasi kebenaran berita tersebut. Pak Rubyanto, ajudan yang merangkap staf pribadi Pak Habibie saya hubungi. Kabar tersebut benar. Namun, tak banyak informasi yang bisa saya gali dari Pak Rubyanto.

Usai sarapan, saya memberitahukan ke Elvira, istri saya, dan Ayesa Nandira, anak saya, agar siap siap berangkat menemani saya ke Muenchen membesuk Pak Habibie.

Di kantor KBRI Kiev, saya meminta bagian protokol mencari jalur "kilat" ke Kedutaan Besar Jerman di Kiev agar saya bersama istri dan anak bisa segera dibuatkan visa kunjungan ke Jerman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rabu siang, 7 Maret, semua berkas pengurusan visa lengkap. Diantar Yurah, sopir KBRI berkebangsaan Ukraina, dan ditemani bagian protokol KBRI, kami meluncur ke Kedutaan Besar Jerman di Jalan Bohdana Khmel'nyts'koho St, 25, Kyiv, Ukraina, 02000.

Terus terang, saya belum pernah masuk Jerman, meski saat menjadi anggota parlemen saya beberapa kali transit di Frankfurt. Jadi, kunjungan ke Jerman ini adalah pertama kali bagi saya.

Seperti biasa, di depan loket pengurusan visa, saya diwawancarai alasan kenapa mau ke Jerman. Saya bilang, saya mau besuk guru saya. Petugas loketnya orang Jerman yang masih muda.

Saya jelaskan bahwa guru saya itu bernama Pak Habibie, beliau adalah Presiden ke-3 RI dan warga kehormatan Jerman.

Seorang penyelia kemudian mendekat saat saya menyampaikan hal itu. Cepat ia mengambil alih. Alhamdulilah, urusan visa saya kelar sore itu, saya dapat visa kunjungan multiple selama 3 bulan.

Visa Jerman sudah di tangan. Sekarang saya mencari penerbangan ke Frankfurt. Di Ukraina, hari Kamis 8 Maret adalah hari libur nasional. Pada hari libur, biasanya semua penerbangan penuh dan mencari tiket pesawat menjadi sulit.

Alhamdulillah lagi, saya mendapatkan penerbangan pas tersisa tiga seat. Saya, istri, dan anak mendapat kursi di paling belakang.

Sebelumnya, saya sudah mengontak KJRI di Frankfurt untuk menolong menjemput dan mengantarkan saya ke stasiun kereta terdekat saat tiba di Frankfurt. Rencananya, dengan kereta kami bertiga menuju Muenchen.

Landasan lapangan udara Boryspil Kiev, Kamis 8 Maret pagi, berselimut salju. Suhu masih minus 3 sampai 5 derajat Celcius.

Pesawat Ukraina Airlines bertolak menuju Frankfurt. Setelah terbang 2 jam 50 menit dengan burung besi seri 737-800, kami pun mendarat di Frankfurt. Jam menunjukkan sekitar pukul 11 siang.

Cuaca Frankfurt lumayan bersahabat, sekitar 7 derajat Celcius. Jonery, Sekretaris 1 KJRI Frankfurt ditemani stafnya yang bernama Mang Asep menyambut kami ramah.

Jonery menawarkan makan siang. Saya menolak mengingat keterbatasan waktu. Saya sampaikan, cukup saya ke toilet sebentar sambil berwudhu dan nanti shalat duhur dan ashar di kereta saja saja.

Semula kami tak ingin merepotkan KJRI Frankfurt. Namun, Jonery bersikeras menolong kami mengantarkan langsung ke Muenchen dengan mobilnya.

Mercedes-Benz seri Viano yang dikemudikan Mang Asep menembus pemandangan Frankfurt. Jarak tempuh hingga Muenchen sekitar 428 km.

Kami membelah jalanan menuju Muenchen. Saking mulusnya jalanan, mobil sepertinya tidak menapak, namun melayang indah dan nyaman. Antara Frankfurt dan Muenchen, kami melintasi sebuah kota bernama Nurnberg.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X