Kepemilikan BMW Nur Alam Terlacak dari Nama Anak dan Nomor Kendaraan

Kompas.com - 09/03/2018, 09:16 WIB
Gubernur nonaktif Sulawesi Tenggara Nur Alam tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (19/10). KPK melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Nur Alam sebagai tersangka kasus korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam persetujuan dan penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) di wilayah Sulawesi Tenggara pada 2008-2014. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/17.ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN Gubernur nonaktif Sulawesi Tenggara Nur Alam tiba untuk menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (19/10). KPK melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Nur Alam sebagai tersangka kasus korupsi penyalahgunaan kewenangan dalam persetujuan dan penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) di wilayah Sulawesi Tenggara pada 2008-2014. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) meyakini Gubernur nonaktif Sulawesi Tenggara Nur Alam ikut diperkaya dari perbuatan melawan hukum yang ia lakukan.

Nur Alam diyakini menerima Rp 1 miliar yang digunakan untuk melunasi satu unit mobil BMW Z4 tipe 2.3 warna hitam.

"Bahwa nomor polisi kendaraan identik dengan nama anak kandung terdakwa," ujar jaksa Muhammad Nur Aziz saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Menurut jaksa, Nur Alam memiliki beberapa kendaraan yang semua nomor kendaraannya mirip atau identik dengan nama anak kandung Nur Alam. Dua di antaranya identik dengan nama Sitya Giona dan Enoza Genastry.

(Baca juga: Didakwa Perintahkan Anak Buah Beli BMW dan Rumah, Ini Kata Gubernur Sultra)

Adapun, mobil BMW Z4 tipe 2.3 warna hitam tersebut menggunakan nomor kendaraan B 4 DAN. Nomor tersebut identik dengan nama anak Nur Alam yang bernama Radhan.

"Kami yakin mobil BMW yang kepemilikannya diakui saksi Ridho Insana, identik nomor polisinya dengan anak terdakwa Radhan. Apalagi Ridho mengakui mobil itu pernah digunakan anak terdakwa," ujar jaksa Nur Aziz.

Awalnya, Nur Alam membantah kepemilikan mobil tersebut. Nur Alam mengatakan bahwa mobil itu milik Ridho Insana, yang merupakan pegawai negeri sipil di bawah Sekretaris Daerah Sulawesi Tenggara.

Namun, menurut jaksa, bantahan itu tidak masuk akal. Sebab, jaksa membandingkan profil Ridho yang cuma staf PNS dengan gaji perbulan Rp 2 juta.

Walaupun Ridho mengaku memiliki usaha jual beli emas, jaksa menilai pendapatannya tidak sebanding dengan kepemilikan BMW.

(Baca juga: Jadi Saksi Gubernur Sultra, PNS Golongan III Mengaku Bisa Beli BMW)

Menurut jaksa, uang Rp 1 miliar untuk pelunasan mobil itu sebagai kompensasi atas perbuatan Nur Alam dalam memberikan Persetujuan Pencadangan Wilayah Pertambangan, Persetujuan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi.

Kemudian, Persetujuan Peningkatan IUP Eksplorasi menjadi IUP Operasi  Produksi kepada PT Anugerah Harisma Barakah (AHB).

Dari perbuatannya itu, Nur Alam diduga diperkaya Rp 2,7 miliar. Selain satu unit mobil, Nur Alam juga menggunakan uang untuk pembelian sebidang tanah berikut bangunan di Komplek Perumahan Premier Estate Blok I/9 seharga Rp 1,7 miliar.

Nur Alam dituntut 18 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan. Dia juga dituntut membayar uang pengganti Rp 2,7 miliar, sesuai keuntungan yang didapatkan.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X