Oligarki, Ketimpangan Ekonomi, dan Imajinasi Politik Kita

Kompas.com - 07/03/2018, 06:46 WIB
Ilustrasi KOMPAS.com/LAKSONO HARI WIlustrasi

Imagine no possessions, I wonder if you can

No need for greed or hunger, a brotherhood of man

Imagine all the people sharing all the world, you...

-- Imagine, John Lennon, 1971

SATU pagi di Leiden. Seorang gadis mengendarai sepeda menyusuri tepian sungai. Ia memakai mantel warna hitam. Syal berwarna terang. Kemeja putih. Juga celana legging dan sepatu boot dengan hak tinggi.

Rambutnya yang ikal diterpa angin. Aroma wangi semerbak di sekelilingnya. Ditingkahi udara pagi yang dingin, wajahnya yang putih berpijar diterpa mentari pagi.

Pemandangan seperti ini biasa saya dapati sambil saya sendiri bersepeda ke kampus, selama lima tahun berada di Belanda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seorang pria separuh baya mengenakan jaket warna biru tua yang telah memudar. Memakai kemeja warna merah muda. Ia menambatkan sepeda nya di halaman depan De Vrieshof, salah satu bangunan paling tua di universitas paling tua di Belanda: Universitas Leiden.

Pria paruh baya ini bernama David Henley. Tingginya hampir 1,8 meter. Dia berdarah Inggris, namun telah tiga dekade tinggal dan menjadi warga negara Belanda.

Saya mengenalnya karena dia adalah pembimbing akademik saya. Di halaman kampus universitas itu kadang kami berpapasan, sama-sama memarkirkan sepeda kami.

Dalam sebuah kesempatan excursion, Margreet van Till, koordinator program kami, mengajak saya jalan-jalan ke Binnenhof. Ia merupakan sebuah kompleks bangunan pemerintahan di pusat kota Den Haag di tepi Danau Hofvijver yang luas dan jernih.

Di kompleks Beinnehof itu, terletak gedung Twedee Kamer alias gedung parlemen Belanda. Ada juga bangunan-bangunan kementerian, termasuk kantor Perdana Menteri, tempat kepala pemerintahan belanda bekerja setiap hari. Bangunan itu juga dilengkapi parkir sepeda. Margreet menunjukkan kepada saya di mana tepatnya sang Perdana Menteri memarkir sepedanya.

Apa yang muncul dalam benak kita ketika membaca ilustrasi di atas? Romantis, seperti halnya si gadis tadi? Hemat dan menyukai olahraga seperti halnya profesor saya dan sang Perdana Menteri? Atau, mungkinkah ketiganya adalah orang-orang yang sekaligus memiliki semua sifat itu? Itulah yang saya pikirkan saat awal-awal tiba di Belanda dulu.

Tapi bagaimana jika saya mengatakan bahwa keadaan itu adalah socially constructed atau politically designed? Dengan kata lain, ia lahir dari imajinasi politik masyarakatnya. Apakah Anda akan percaya? Bagaimana ia bisa dijelaskan?

Memangkas jarak si kaya dan si miskin

Sepeda menjadi alat transportasi Belanda usai perang dunia kedua, terutama pada tahun 70-an di mana pertumbuhan ekonomi mencapai 222 persen. Kondisi itu membuat bangsa Belanda memiliki kemampuan untuk memenuhi jalan-jalan mereka dengan mobil. Hasilnya adalah angka kecelakaan lalu lintas yang mencapai belasan ribu per tahun.

Saat itulah muncul class action atau protes masal dari masyarakat menuntut pertumbuhan jumlah mobil dan mulai memprioritaskan sepeda. Lalu pada tahun 1973, Belanda mengalami krisis ekonomi yang cukup berat setelah beberapa dekade yang penuh kemakmuran.

Ini membuat pemerintah makin mendengarkan protes masyarakat. Maka, pada tahun 1975, mulailah diawali kebijakan sepeda sebagai raja jalanan dengan dibangunnya jalur khusus sepeda. Bermula dari Den Haag dan Till Burg, dan akhirnya meliputi seluruh wilayah Belanda. Jika kita mengikuti jalur sepeda itu tanpa henti, kita akan sampai di luar negeri: Jerman, Belgia, Perancis.

Dengan kata lain, saat saya menyaksikan sang gadis, profesor saya, dan Perdana Menteri bersepeda, kenyataan yang saya lihat bukanlah sesuatu yang alamiah. Dia adalah produk dari keputusan politik yang lahir dari sebuah imajinasi bahwa mencipta masyarakat dengan sedikit kecelakaan adalah mungkin.

Namun, sepeda bukan hanya tentang menekan angka kecelakaan, melainkan juga tentang upaya menciptakan masyarakat yang setara secara ekonomi dan sesedikit mungkin memiliki ketimpangan sosial. Mengapa?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Statuta UI Dinilai Cacat, Anggota Parpol Bisa Masuk MWA hingga Kewenangan Dewan Guru Besar Dikerdilkan

Statuta UI Dinilai Cacat, Anggota Parpol Bisa Masuk MWA hingga Kewenangan Dewan Guru Besar Dikerdilkan

Nasional
Pimpinan DPR: Jangan Sampai Ada Penimbunan Obat Terapi Covid-19

Pimpinan DPR: Jangan Sampai Ada Penimbunan Obat Terapi Covid-19

Nasional
Wapres: 14.385 Insan Pers Telah Divaksinasi Dosis Kedua

Wapres: 14.385 Insan Pers Telah Divaksinasi Dosis Kedua

Nasional
Ribuan Orang Meninggal Saat Isolasi Mandiri, Tanggung Jawab Negara Dinanti

Ribuan Orang Meninggal Saat Isolasi Mandiri, Tanggung Jawab Negara Dinanti

Nasional
UPDATE 24 Juli: Sebaran 45.416 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi DKI Jakarta

UPDATE 24 Juli: Sebaran 45.416 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi DKI Jakarta

Nasional
UPDATE 24 Juli: 17.475.996 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

UPDATE 24 Juli: 17.475.996 Juta Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua

Nasional
UPDATE 24 Juli: Sebanyak 252.696 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate Harian 25,24 Persen

UPDATE 24 Juli: Sebanyak 252.696 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate Harian 25,24 Persen

Nasional
Sebanyak 39.767 Pasien Covid-19 Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Selama Pandemi

Sebanyak 39.767 Pasien Covid-19 Sembuh dalam Sehari, Tertinggi Selama Pandemi

Nasional
UPDATE 24 Juli: Ada 264.578 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 24 Juli: Ada 264.578 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 24 Juli: Ada 574.135 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Juli: Ada 574.135 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 24 Juli: Bertambah 39.767, Jumlah Pasien Covid-19 yang Sembuh Mencapai 2.471.678

UPDATE 24 Juli: Bertambah 39.767, Jumlah Pasien Covid-19 yang Sembuh Mencapai 2.471.678

Nasional
UPDATE 24 Juli: Tambah 1.415, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Kini 82.013

UPDATE 24 Juli: Tambah 1.415, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Kini 82.013

Nasional
UPDATE 24 Juli: Bertambah 45.416, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini Capai 3.127.826 Orang

UPDATE 24 Juli: Bertambah 45.416, Kasus Covid-19 di Indonesia Kini Capai 3.127.826 Orang

Nasional
BEM UI: PP 75/2021 tentang Statuta UI Harus Dicabut, Banyak Pasal Bermasalah

BEM UI: PP 75/2021 tentang Statuta UI Harus Dicabut, Banyak Pasal Bermasalah

Nasional
Ular Sanca 2 Meter Ditemukan di Ventilasi Kamar Mandi Rumah Warga di Pamulang

Ular Sanca 2 Meter Ditemukan di Ventilasi Kamar Mandi Rumah Warga di Pamulang

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X