"Kalau Jokowi Pilih Ekonom Jadi Cawapres, Apa Partai Mau Mengusung?"

Kompas.com - 27/02/2018, 19:43 WIB
Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017). Kompas.com/Kurnia Sari AzizaDirektur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/7/2017).
Penulis Yoga Sukmana
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Peluang Presiden Joko Widodo memilih calon wakil presiden dari kalangan teknokrat, terutama ekonom, dinilai masih terbuka. Apalagi, bidang ekonomi menjadi bidang yang medapatkan sorotan utama publik.

Namun, Direktur Institute for Development of Economics and Finance ( Indef) Enny Sri Hartati menilai, peluang Jokowi memilih ekonom sebagai cawapres akan terbentur realitas politik.

"Persoalannya kan pencalonan ini hanya oleh partai dan ada presidensial threshold. Artinya kan ini tidak melulu dari Pak Jokowi tetapi dari partai juga," ujar Enny kepada Kompas.com, Jakarta, Selasa (27/2/2018).

Dengan realitas itu, kata Enny, maka pencalonan pendamping Jokowi perlu persetujuan atau rekomendasi dari partai politik pengusung.


"Kalau pilih ekonom, persoalannya apakah nanti partai-partai itu ada yang mengusung atau tidak? Ini persolan realitas politik," kata dia.

(Baca juga: Ekonomi Jadi Sorotan, Perlukah Jokowi Pilih Cawapres Ekonom?)

Enny menilai, posisi cawapres tidak perlu selalu diisi oleh seorang ekonom. Menurut dia, siapa pun cawapres yang dipilih, yang penting memiliki dukungan politik yang kuat dan perhatian yang besar dalam bidang ekonomi.

Hal itu harus tercermin dari susunan kabinet yang diisi oleh para profesional yang ahli di bidang ekonomi.

Bidang ekonomi, menurut Enny, justru membutuhkan orang-orang yang profesional. Sementara bila ditarik menjadi wapres, maka tokoh tersebut justru akan mengakomodasi kepentingan-kepentingan politik lain.

Sebelumnya, Ketua DPP PDI-P Andreas Hugo Pareira menyatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa menggaet calon wakil presiden (cawapres) dari kalangan profesional bila elektabilitasnya tetap tinggi hingga menjelang masa pencoblosan.

"Kalau Pak Jokowi sudah cukup tingkat elektabilitasnya tinggi, saya kira perlu cari wapres yang bisa kerja sama dengan Pak Jokowi. Bisa memperkuat pemerintahan Pak Jokowi. Seorang profesional misalnya," kata Andreas, Minggu (25/2/2018).

Ia mengatakan, pemilihan cawapres dari kalangan profesional bukanlah hal tabu bagi partai politik. Sebab, hal ini pernah terjadi di era kepresidenan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kala itu SBY memilih Boediono, yang saat itu menjabat Gubernur Bank Indonesia, sebagai wakilnya di periode kedua.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X