Pengamat: Komunikasi PDI-P dan Demokrat Bisa Jadi Investasi Politik Bagi AHY

Kompas.com - 27/02/2018, 14:08 WIB
Presiden SBY bersama Ketua Umum PDI P Megawati Soekarnoputeri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyambut kedatangan jenazah Taufiq Kiemas di TMP Kalibata. Minggu (9/6/2013).Kompas.com/Robertus Belarminus Presiden SBY bersama Ketua Umum PDI P Megawati Soekarnoputeri dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menyambut kedatangan jenazah Taufiq Kiemas di TMP Kalibata. Minggu (9/6/2013).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif PARA Syndicate Ari Nurcahyo menilai komunikasi politik yang dilakukan antara PDI-P dan Partai Demokrat bisa menjadi investasi politik bagi sosok Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

Pasca-deklarasi dukungan kepada Presiden Joko Widodo, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengutus Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto untuk menjalin komunikasi dengan Demokrat melalui Agus Harimurti Yudhoyono. 

Ari melihat komunikasi politik antara PDI-P dan Demokrat memiliki dua tujuan, yakni menghindari pembelahan masyarakat yang terlalu dini ke dalam dua kubu, pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Selain itu, komunikasi politik juga bisa dilihat sebagai kompromi bagi Demokrat dalam mendorong AHY tampil sebagai capres atau cawapres.

(Baca juga: Pasca-Rakernas, PDI-P Agendakan Pertemuan dengan Partai Demokrat)

"Kompromi seperti ini perlu dibangun antara PDI-P dan Demokrat untuk dua maksud, pertama menghindari pembelahan massifikasi masyarakat yang terlalu dini ke dalam dua kubu pilpres. Kedua, memberikan 'panggung antara' bagi kandidat capres, misal AHY dari Demokrat utk investasi politik di next election 2024," ujar Ari kepada Kompas.com, Selasa (27/2/2018).

Ari menilai, setelah PDI-P mendeklarasikan dukungan terhadap Presiden Joko Widodo, Partai Demokrat memiliki peran strategis dalam Pilpres 2019 mendatang.

Ia menjelaskan, ada dua skenario yang bisa dilakukan oleh Demokrat, pertama mengikuti PDI-P bergabung dalam koalisi besar mengusung capres Joko Widodo.

Kedua, membangun poros ketiga di luar barisan pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto dengan mengajukan pasangan capres-cawapres sendiri sbg kandidat alternatif. Skenario kedua ini akan memunculkan tiga pasangan calon.

Terkait hal itu, kata Ari, PDI-P bisa "mengikat" Demokrat bahwa seandainya capresnya kalah, Demokrat dipastikan mengarahkan seluruh sumber daya politiknya untuk mendukung Joko Widodo di putaran kedua Pilpres.

"Nah di sini pentingnya komunikasi itu bagi PDI-P," kata Ari.

Kompas TV Pemilu 2019 berpeluang besar hanya akan diikuti oleh dua bakal calon presiden yaitu petahana Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

 



Close Ads X