Hanura dan Kepercayaan Diri Hadapi Pemilu 2019

Kompas.com - 23/02/2018, 06:43 WIB
Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (ketiga dari kiri) menunjukkan nomor urut 13 saat Pengambilan Nomor Urut Partai Politik untuk Pemilu 2019 di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Minggu (18/2/2018). Empatbelas partai politik (parpol) nasional dan empat partai politik lokal Aceh lolos verifikasi faktual untuk mengikuti Pemilu 2019.KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (ketiga dari kiri) menunjukkan nomor urut 13 saat Pengambilan Nomor Urut Partai Politik untuk Pemilu 2019 di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Minggu (18/2/2018). Empatbelas partai politik (parpol) nasional dan empat partai politik lokal Aceh lolos verifikasi faktual untuk mengikuti Pemilu 2019.

Selain itu ada pula Jend. Pol (Purn) Chaeruddin Ismail, Samuel Koto, LetJen. TNI (Purn) Suaidi Marasabessy, Marsdya TNI (Purn) Budhy Santoso, Djafar Badjeber, Uga Usman Wiranto, Letjen. TNI (Purn) Ary Mardjono, Elza Syarief, Nicolaus Daryanto, Anwar Fuadi, dan Dr. Teguh Samudra.

Kiprah di pemilu

2009

Partai Hanura pertama kali mengikuti pemilu pada 2009. Pada pemilu perdananya itu, Partai Hanura mendapatkan suara sebanyak 3.922.870 (3,8 persen) dan 18 kursi di DPR.

Setelah Pemilu Legislatif 2009, Wiranto bersama Jusuf Kalla mengumumkan pencalonannya sebagai pasangan capres-cawapres.

Wiranto menjadi cawapres yang diusung oleh Golkar dan Hanura. Namun, pasangan ini kalah bersaing dengan pasangan SBY-Boediono.

2014

Pada Pemilu Legislatif 2014, Partai Hanura mendapat 6.579.498 suara sah nasional dan 16 kursi di DPR.

Pada tahun yang sama, Wiranto sempat mencalonkan diri sebagai calon presiden berpasangan dengan pemilih MNC Group, Hary Tanoesoedibjo.

Baca juga: Pasek: Kader Hanura yang Ragu Silahkan Balik, Kita Ini Pemaaf

Namun, rencana tersebut akhirnya urung dilakukan mengingat minimnya perolehan suara Partai Hanura dalam Pemilu 2014.

Setelah Joko Widodo terpilih sebagai Presiden pada Pilpres 2014, Wiranto ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan pada reshuffle Kabinet Kerja kedua menggantikan Luhut Binsar Pandjaitan.

Atas alasan ingin fokus bekerja sebagai menteri dan tak ingin rangkap jabatan, Wiranto menyerahkan kepemimpinan Hanura kepada Oesman Sapta Odang.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X