Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur Paling Berpotensi Longsor

Kompas.com - 08/02/2018, 10:07 WIB
Jenasah korban longsor di Kampung Maseng, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, ditemukan, Selasa (6/2/2018). Longsor ini mengakibatkan tiga rumah warga rusak, jalur kereta api Bogor-Sukabumi putus, dan lima orang meninggal dunia. KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMOJenasah korban longsor di Kampung Maseng, Desa Warung Menteng, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, ditemukan, Selasa (6/2/2018). Longsor ini mengakibatkan tiga rumah warga rusak, jalur kereta api Bogor-Sukabumi putus, dan lima orang meninggal dunia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) memprediksi hujan berintensitas tinggi akan berlangsung hingga Maret 2018 mendatang. Sementara puncak hujan terjadi selama Februari 2018.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, diprediksi potensi bencana banjir, longsor dan puting beliung juga akan meningkat. Ada sejumlah wilayah yang diperkirakan paling berpotensi ancaman bencana longsor.

"Dari peta potensi longsor pada Februari 2018, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah daerah yang memiliki potensi paling banyak dari ancaman longsor," ujar Sutopo melalui keterangan tertulis, Kamis (8/2/2018).

Menurut Sutopo, potensi longsor di Pulau Jawa meluas, yaitu di daerah-daerah yang memiliki topografi pegunungan, perbukitan dan di lereng-lereng tebing yang di bawahnya banyak permukiman. Wilayah tersebut memanjang di Jawa bagian tengah hingga selatan.

(Baca juga: Hingga 31 Mei 2018, Jabar Siaga Darurat Bencana Banjir dan Longsor)

Daerah rawan longsor tinggi di Jawa Barat meliputi Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Bandung Barat, Bandung Selatan, Purwakarta, Garut, Sumedang, Kuningan, dan Tasikmalaya.

Sedangkan di Jawa Tengah terdapat di Kabupaten Banjarnegara, Cilacap, Purwokerto, Purworejo, Pekalongan, Temanggung, Semarang, Karanganyar, Tegal, Wonogiri, Magelang, Purbalingga dan Boyolali.

Di Jawa Timur, potensi itu terutama di Kabupaten Ponorogo, Trenggalek, Malang, Pacitan, Mojokerto, Jember, dan Banyuwangi.

Sutopo mengatakan, selama 2018, telah terjadi 275 bencana yang menyebabkan 30 jiwa meninggal dan hilang, 66 jiwa luka, 153.183 menderita dan mengungsi, 10.254 unit rumah rusak, dan 92 bangunan fasilitas umum rusak.

"Bencana longsor adalah bencana yang paling banyak menimbulkan korban jiwa meninggal dunia," kata Sutopo.

(Baca juga: BNPB Mencatat Ada 2.271 Bencana Alam Sepanjang 2017)

Sejak 1 Januari hingga 7 Februari 2018, terdapat 19 orang meninggal dunia akibat longsor. Sedangkan korban puting beliung 5 orang, banjir 3 orang, kombinasi banjir dan longsor 2 orang, dan gempa 1 orang.

Sutopo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan di awal tahun 2018.

"Saat hujan lebat waspadalah. Jika perlu mengungsi sesaat ke tempat aman," kata Sutopo.

Masyarakat diminta mengenali lingkungan sekitarnya dari tanda-tanda akan terjadinya longsor.

Tanda tersebut antara lain retakan tanah, amblesan tanah, keluarnya mata air pada lereng, air sumur dan mata air tiba-tiba keruh, pohon dan tiang listrik miring, tembok bangunan dan pondasi tiba-tiba retak dan sebagainya.

"Periksa adanya retakan tanah di bukit yang merupakan cikal bakal dari mahkota longsor," kata Sutopo.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X