Islam Indonesia dan Narasi Anti-semitisme

Kompas.com - 27/01/2018, 21:31 WIB
Warga berjalan di dekat masjid Kubah Batu di Yerusalem.AFP/AHMAD GHARABLI Warga berjalan di dekat masjid Kubah Batu di Yerusalem.


DI TENGAH kontroversi isu Israel- Palestina, menarik untuk melihat framing dari suara publik yang menjadi representasi Islam Indonesia atas isu ini. Di tengah renungan, saya melihat isu Yerusalem menjadi titik penting untuk melihat ketegangan Israel-Palestina, sekaligus masa depan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Keputusan presiden Donald Trump atas penetapan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel tidak hanya mengguncang geopolitik dunia internasioal. Lebih dari itu, keputusan tersebut menimbulkan gejolak baru di berbagai negara.

(Baca juga: Menteri Agama RI: Soal Yerusalem, Indonesia Tetap Tolak Keputusan AS )

Isu Israel-Palestina memang sangat seksi, menjadi titik panas dalam kajian antar-agama, politik internasional, hingga diplomasi kemanusiaan. Dalam kerangka kajian kawasan, isu ini sangat dinamis dan menyedot perhatian publik serta akademisi internasional.

Saya berusaha melihat isu panas ini dalam kerangka Islam Indonesia. Yaitu, bagaimana ormas Islam moderat dan tokoh-tokohnya—terutama dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama—merespons isu ini sebagai kajian yang penting dan strategis. Melihat kedua ormas ini menjadi penting, untuk menangkap bagaimana ormas Islam moderat merespons ketegangan ini.

Yerusalem merupakan kota tiga agama Abrahamik—Islam, Nasrani, Yahudi—yang selalu bergolak dalam beberapa abad. Sepanjang sejarahnya, Yerusalem selalu menyisakan catatan perdamaian, sekaligus ketegangan, antar-umat manusia.

(Baca juga: Tak Mengikat, Apa Arti Resolusi Majelis Umum PBB soal Yerusalem? )

Jika kita menyimak film Kingdom of Heaven garapan Ridley Scott dan William Monahan, akan terasa betul ketegangan, dinamika, sekaligus manipulasi politik yang melingkupinya. Konflik terus terjadi sepanjang abad, dalam perebutan klaim atas tanah dan kekayaan, juga tentang kota suci yang mengalirkan darah dan air mata.

Pada narasi film Kingdom of Heaven, tergambar kontestasi di arena kota suci Yerussalem. Saladin (atau Shalahuddin), sultan sekaligus pemimpin perang dari kelompok Islam, pada akhir penguasaan atas Yerussalem mengungkapkan makna yang mendalam.

Ia ditanya oleh Ksatria dari Ibelin, "Apa makna Yerusalem?" Saladin menjawab, "Nothing…. Everything!"

Betapa, di balik perang berkepanjangan yang merenggut ribuan nyawa, ada pertaruhan harga diri dan kekuasaan, yang berujung pada kekosongan, sekaligus pengakuan atas semuanya.

Islam Indonesia dan Isu Yahudi

Manuver Donald Trump membuat dunia internasional terguncang. Menanggapi manuver Trump, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama langsung bereaksi.

(Baca juga: Voting di Majelis Umum PBB soal Yerusalem, 128 Negara Menentang AS )

Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkapkan bahwa klaim sepihak Amerika Serikat tentang Yerussalem sebagai Ibu Kota Israel akan memicu konflik baru. Nashir juga menganggap AS tidak memiliki komitmen perdamaian di Timur Tengah.

Adapun pimpinan Nahdlatul Ulama juga tidak kalah garang. KH Yahya C Staquf, Katib Syuriah PBNU, menegaskan betapa langkah Trump menimbulkan masalah baru dalam lanskap geopolitik kawasan. Kebijakan Trump terasa merobek inisiasi damai yang sedang direnda oleh berbagai pihak, baik dari kubu Israel dan Palestina maupun negara-negara yang selama ini menginsiasi perdamaian.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorPalupi Annisa Auliani
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X