Tak Ada Radar, Paspampres Daratkan Pesawat Bung Karno dengan Lagu Indonesia

Kompas.com - 03/01/2018, 13:37 WIB
Mantan kapten tim nasional Indonesia dan Ketua Umum PSSI, Maulwi Saelan. Dok. BolaMantan kapten tim nasional Indonesia dan Ketua Umum PSSI, Maulwi Saelan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Kepala Staf Resimen Cakrabirawa (Pasukan pengamanan presiden masa Presiden Soekarno) Maulwi Saelan punya cerita unik kala bertugas mengamankan lawatan Presiden Soekarno ke Korea Utara pada November 1964.

Saat itu perang Korea barus usai dan Korea Utara berupaya menutup diri dari dunia internasional.

Maulwi waktu itu diutus untuk mengecek kondisi bandara di sana agar bisa menyesuaikan dengan standar pendaratan penerbangan internasional demi keselamatan Presiden Soekarno.

Baca juga : 72 Tahun Lalu, Perintah Rahasia Bung Karno dan Cikal Bakal Paspampres

Kala itu, teknologi radar belum secanggih sekarang yang bisa melacak posisi pendaratan yang tepat. Maulwi pun memutar otak agar pesawat yang ditumpangi Bung Karno dengan mudah bisa posisi landasan pacu di bandara.

Tak kurang akal, Maulwi pun meminta rekannya, Ali Ebram, memutar lagu-lagu Indonesia supaya gelombang radio dapat ditangkap pesawat sehingga pilot mengenalinya dan bisa mendaratkan pesawat di lokasi yang tepat.

Baca juga : Tjakrabirawa, Paspampres Generasi Pertama dari Kisah Wayang Kulit

Dengan cara itulah pesawat yang ditumpangi Bung Karno bisa mendarat dengan selamat di Korea Utara.

"Waktu itu saya minta Ali Ebram pakai radio pemancar untuk memutar lagu-lagu Indonesia supaya gelombang radio ditangkap oleh pilot dan pilot bisa mengenali kode itu," kata Maulwi mengisahkan dalam buku berjudul Maulwi Saelan Penjaga Terakhir Sukarno.

****

Pada 3 Januari 2018, Paspampres tepat berusia 72 tahun. Di usia yang tak lagi muda, segudang cerita menarik menyertai kerja Paspampres selama ini. Maka dari itu, selama dua hari, mulai Rabu (3/1/2018) hingga Kamis (4/1/2018), Kompas.com akan menurunkan cerita-cerita menarik dan inspiratif seputar kerja Paspampres dari masa ke masa.

Kompas TV Paspampres telah mengamankan pria yang mencoba menerobos Kompleks Istana

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luhut ke Kepala Daerah: Jujur soal Data Covid-19, Jangan Ditutupi

Luhut ke Kepala Daerah: Jujur soal Data Covid-19, Jangan Ditutupi

Nasional
Anggota Komisi III Minta Polri Jelaskan Soal Pelat Mirip Polisi yang Dipakai Arteria Dahlan

Anggota Komisi III Minta Polri Jelaskan Soal Pelat Mirip Polisi yang Dipakai Arteria Dahlan

Nasional
Gandeng Dompet Dhuafa, Jenius Salurkan Bantuan untuk Anak Penderita Kanker

Gandeng Dompet Dhuafa, Jenius Salurkan Bantuan untuk Anak Penderita Kanker

Nasional
Komisi II, Pemerintah, dan KPU Bahas Jadwal Pemilu Senin Pekan Depan

Komisi II, Pemerintah, dan KPU Bahas Jadwal Pemilu Senin Pekan Depan

Nasional
Mabes Polri Investigasi Kecelakaan Maut di Rapak Balikpapan

Mabes Polri Investigasi Kecelakaan Maut di Rapak Balikpapan

Nasional
Hadirkan Aktivis Kemanusiaan PBB, Dompet Dhaufa Ajak Pemuda Dorong Perdamaian Dunia,

Hadirkan Aktivis Kemanusiaan PBB, Dompet Dhaufa Ajak Pemuda Dorong Perdamaian Dunia,

Nasional
Dukcapil Terbitkan 2.578 Dokumen Kependudukan untuk Warga Baduy

Dukcapil Terbitkan 2.578 Dokumen Kependudukan untuk Warga Baduy

Nasional
KPK Panggil Ajudan hingga Sekjen DPC Demokrat Terkait Dugaan Suap Bupati PPU Abdul Gafur

KPK Panggil Ajudan hingga Sekjen DPC Demokrat Terkait Dugaan Suap Bupati PPU Abdul Gafur

Nasional
MA Dukung Penegakan Hukum KPK Terkait OTT Hakim-Panitera PN Surabaya

MA Dukung Penegakan Hukum KPK Terkait OTT Hakim-Panitera PN Surabaya

Nasional
4 Kementerian Pindah ke IKN Tahun 2024: Setneg, Kemenhan, Kemenlu, Kemendagri

4 Kementerian Pindah ke IKN Tahun 2024: Setneg, Kemenhan, Kemenlu, Kemendagri

Nasional
Muhaimin Iskandar Berniat Maju Capres, Mengaku Diperintah Kiai

Muhaimin Iskandar Berniat Maju Capres, Mengaku Diperintah Kiai

Nasional
Dubes RI di AS Rosan Roeslani Serahkan Surat-surat Kepercayaan ke Joe Biden

Dubes RI di AS Rosan Roeslani Serahkan Surat-surat Kepercayaan ke Joe Biden

Nasional
Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Nasional
WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

Nasional
Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.