Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/12/2017, 15:50 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Ombudsman Alamsyah Saragih mengatakan, ada indikasi kejanggalan pada proses peralihan lahan dari warga ke perusahaan PT Bumi Pari Asri di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Alamsyah mengatakan, saat ini Ombudsman sedang menindaklanjuti kasus tersebut berdasarkan aduan kelompok warga di Pulau Pari.

"Di Pulau Pari kami lihat ada kejangganan dalam tanda kutip, dalam proses peralihan hak warga Pulau Pari ke PT Bumi Pari," kata Alamsyah, dalam jumpa pers di Kantor Ombudsman, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (19/12/2017).

Indikasi kejanggalan itu terdapat pada jangka waktu pengalihan hak dengan penerbitan Sertifikat Hak Guna Bangunan perusahaan tersebut.

"SHGB 2014, pengalihan hak terjadi pada tahun 1970-an. Selama ini lantas motivasinya apa," ujar Alamsyah.

Baca juga: Privatisasi Lahan di Pulau Pari, Sandi Akan Koordinasi dengan BPN

Dalam kasus ini, Ombudsman menilai, ada kecenderungan warga yang menghuni suatu tempat dapat dikalahkan oleh pendatang baru hanya karena punya sertifikat.

Dia mengakui, sulit untuk membuktikan pengakuan warga Pulau Pari bahwa dahulu mereka pernah menyerahkan surat atau tanda kepemilikan lahan kepada kelurahan setempat.

Akan tetapi, kata Alamsyah, Undang-Undang Pokok Agraria mengatur bahwa tanah mempunyai fungsi sosial dan berasaskan keadilan.

Artinya, tidak bisa hanya karena penduduk yang sudah lama tinggal tetapi tidak punya bukti-bukti kepemilikan lahan, lantas lahan yang mereka tempati dibebaskan semena-mena.

"Enggak bisa hanya karena orang enggak punya bukti-bukti, dia sudah lebih dulu tinggal, karena sebagian orang punya uang, lantas dia bisa bebaskan semena-mena," ujar Alamsyah.

Ombudsman sudah dua kali mendatangi Pulau Pari untuk melakukan pemeriksaan. Jika diperlukan, Ombudsman akan datang kembali untuk pemeriksaan.

Ombudsman fokus pada pemeriksaan untuk melihat bagaimana peralihan hak lahan tersebut dan mencari bukti klaim warga bahwa mereka sudah lama menempati lahan di Pulau Pari.

"Kami lihat dari status-status kuburan di situ memang mereka domisili cukup lama. Sebagian cukup clear, sebagian kami belum tahu," ujar Alamsyah.

Baca: Belum Ada Action dari Anies, Warga Pulau Pari ke Balai Kota Lagi

"Nah apakah mereka bisa disingkirkan begitu saja kan tidak mungkin, harus ada proses administrasi lahan yang berkeadilan," tambah dia.

Ombudsman juga akan mengecek mengenai peruntukan lahan Pulau Pari. PT Bumi Pari Asri disebut-sebut berencana membangun resor, akuarium, dan tempat pertemuan di Pulau Pari.

"Kami harus cek nanti kesesuaian tata ruangnya. Apakah itu boleh nanti dibangun pariwisata yang untuk cottage atau untuk permukiman yang untuk perumahan, itu kan juga ada kesesuaian yang harus kami cermati juga," ujar Alamsyah.

Tidak menutup kemungkinan Ombudsman akan berkoordinasi dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Menurut dia, Gubernur punya peranan dalam menegakkan aturan masalah tata ruang.

"Kita lihat dulu tata ruangnya sudah ditetapkan enggak? Kalau tata ruangnya enggak sinkron, gubernur harus menegakkan tata ruang itu. Tapi kalau tata ruangnya sinkron, (ya) aspek keadilan, nah itu adalah BPN," ujar Alamsyah.

Namun, Ombudsman belum melakukan pembicaraan dengan DKI mengenai aduan warga yang mereka tangani ini.

"Belum, kami masih fokus untuk dapatkan temuannya. Jadi begitu kami fix, kami akan mulai memuat catatan-catatan untuk para pihak semua," kata dia.

Kompas TV Ombudsman menyerahkan rapor pelayanan publik kementerian dan pemerintah daerah, kepada Presiden Joko Widodo, di Istana Bogor.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Di Depan Jokowi, PM Li Qiang Kembali Tegaskan Komitmen China Beli Produk Pertanian ASEAN Rp 2.294 Triliun

Di Depan Jokowi, PM Li Qiang Kembali Tegaskan Komitmen China Beli Produk Pertanian ASEAN Rp 2.294 Triliun

Nasional
Pro dan Kontra KPK Panggil Cak Imin Usai Deklarasi Jadi Bacawapres Anies

Pro dan Kontra KPK Panggil Cak Imin Usai Deklarasi Jadi Bacawapres Anies

Nasional
Bahas Rencana Kerja Anggaran 2024, Rapat Komisi I DPR Bareng Wamen Pertahanan dan Panglima Digelar Tertutup

Bahas Rencana Kerja Anggaran 2024, Rapat Komisi I DPR Bareng Wamen Pertahanan dan Panglima Digelar Tertutup

Nasional
Survei Litbang “Kompas”: Elektabilitas PKB di Kalangan NU Urutan ke-3, Setelah PDI-P dan Gerindra

Survei Litbang “Kompas”: Elektabilitas PKB di Kalangan NU Urutan ke-3, Setelah PDI-P dan Gerindra

Nasional
Pesan Rafael Alun dari Pengadilan Tipikor untuk Mario Dandy yang Akan Divonis Besok di PN Jaksel...

Pesan Rafael Alun dari Pengadilan Tipikor untuk Mario Dandy yang Akan Divonis Besok di PN Jaksel...

Nasional
Soal YouTube DPR Diretas Live Judi Online, Menkominfo: 'Cyber Security'-nya Harus Lebih Kuat

Soal YouTube DPR Diretas Live Judi Online, Menkominfo: "Cyber Security"-nya Harus Lebih Kuat

Nasional
PM Jepang Undang Pemimpin ASEAN ke Tokyo pada Desember 2023

PM Jepang Undang Pemimpin ASEAN ke Tokyo pada Desember 2023

Nasional
Singgung Kerja Sama dengan ASEAN, PM China Kenang Masa Sulit saat Covid-19

Singgung Kerja Sama dengan ASEAN, PM China Kenang Masa Sulit saat Covid-19

Nasional
Survei Litbang “Kompas”: Suara Anies Lemah di Jateng dan Jatim

Survei Litbang “Kompas”: Suara Anies Lemah di Jateng dan Jatim

Nasional
Bacakan Eksepsi, Rafael Alun Trisambodo Minta Dibebaskan dan Dipulihkan Martabatnya

Bacakan Eksepsi, Rafael Alun Trisambodo Minta Dibebaskan dan Dipulihkan Martabatnya

Nasional
Polri Bentuk Satgas Preventif, Cegah Gangguan Keamanan Selama KTT ASEAN

Polri Bentuk Satgas Preventif, Cegah Gangguan Keamanan Selama KTT ASEAN

Nasional
Di Depan PM China, Jokowi Tekankan Realisasi Kerja Sama Konkret ASEAN-China

Di Depan PM China, Jokowi Tekankan Realisasi Kerja Sama Konkret ASEAN-China

Nasional
Buka KTT ASEAN-Korea Selatan, Jokowi Tekankan Kemitraan Transisi Energi dan Transformasi Digital

Buka KTT ASEAN-Korea Selatan, Jokowi Tekankan Kemitraan Transisi Energi dan Transformasi Digital

Nasional
AHY Kumpulkan DPD Demokrat, Cari Masukan Soal Langkah ke Depan

AHY Kumpulkan DPD Demokrat, Cari Masukan Soal Langkah ke Depan

Nasional
Survei Litbang “Kompas”: Pamor Anies di Kalangan NU Jauh di Bawah Ganjar dan Prabowo

Survei Litbang “Kompas”: Pamor Anies di Kalangan NU Jauh di Bawah Ganjar dan Prabowo

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com