KPK Percaya Independensi Hakim Tipikor yang Menyidangkan Setya Novanto - Kompas.com

KPK Percaya Independensi Hakim Tipikor yang Menyidangkan Setya Novanto

Kompas.com - 07/12/2017, 21:25 WIB
Juru bicara KPK Febri Diansyah saat memberikan keterangan di gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2017).KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO Juru bicara KPK Febri Diansyah saat memberikan keterangan di gedung KPK, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi meyakini independensi hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang bakal menyidangkan tersangka kasus korupsi pada kasus korupsi proyek e-KTP, Setya Novanto.

"Kami percaya dengan independensi dan imparsialitas kekuasaan kehakiman, yang ditunjukkan dari hakim-hakim yang akan mengadili secara independen," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Adapun, Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Yanto, akan menjadi ketua majelis hakim dalam persidangan terhadap Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta. Yanto menggantikan hakim Jhon Halasan Butarbutar yang dimutasi ke daerah.

Sementara, susunan majelis hakim lainnya akan sama seperti dalam dua persidangan kasus korupsi pengadaan e-KTP sebelumnya.

(Baca juga: Ketua PN Jakpus Jadi Hakim Ketua Sidang Novanto di Pengadilan Tipikor)

Mereka yakni, Franky Tambuwun, Emilia Djaja Subagja, Anwar dan Anshori Saifuddin. Empat anggota majelis hakim itu disebut memimpin persidangan untuk tiga terdakwa, yakni Irman, Sugiharto dan Andi Agustinus alias Andi Narogong.

Pada persidangan nanti, KPK akan membuktikan seluruh perbuatan yang diduga dilakukan oleh Novanto dan pihak lain yang terkait.

"Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari komposisi majelis hakim yang baru, kami hormati itu dan kami akan buktikan seluruh dakwaan yang sudah kita sampaikan tersebut," ujar Febri.

(Baca juga: Sidang Perdana Novanto di Pengadilan Tipikor Digelar pada 13 Desember)

Kompas TV Menurut tim kuasa hukum, alat bukti yang telah digunakan untuk pihak lain tidak boleh berlaku untuk Setnov


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorBayu Galih
Komentar

Terkini Lainnya

Usai Bunuh Sang Istri, Pria Ini Berusaha Bunuh Diri Disaksikan 3 Anaknya

Usai Bunuh Sang Istri, Pria Ini Berusaha Bunuh Diri Disaksikan 3 Anaknya

Regional
Dapat Elektabilitas 72,4 Persen di Survei, Ini Kata Ganjar Pranowo

Dapat Elektabilitas 72,4 Persen di Survei, Ini Kata Ganjar Pranowo

Nasional
Bambang Soesatyo: Idealnya, Jokowi dan Prabowo Berhadapan di Pilpres 2019

Bambang Soesatyo: Idealnya, Jokowi dan Prabowo Berhadapan di Pilpres 2019

Nasional
Merapi Meletus Freatik, Tiga Kecamatan di Sleman Dilanda Hujan Abu

Merapi Meletus Freatik, Tiga Kecamatan di Sleman Dilanda Hujan Abu

Regional
Amien Rais: Hanya Satu Menteri yang Setia Dampingi Soeharto hingga Lengser

Amien Rais: Hanya Satu Menteri yang Setia Dampingi Soeharto hingga Lengser

Nasional
Pemkot Bekasi Pastikan Sudah Penuhi Syarat Pencairan Uang Bau Warga Bantargebang

Pemkot Bekasi Pastikan Sudah Penuhi Syarat Pencairan Uang Bau Warga Bantargebang

Megapolitan
Produk OK OCE Akan Dipasarkan di Jakarta Fair 2018

Produk OK OCE Akan Dipasarkan di Jakarta Fair 2018

Megapolitan
Jadi Korban Investasi Bodong, 30 Wanita di Prabumulih Lapor Polisi

Jadi Korban Investasi Bodong, 30 Wanita di Prabumulih Lapor Polisi

Regional
Kunci Keberhasilan? Tekad

Kunci Keberhasilan? Tekad

Edukasi
Peringati 20 Tahun Reformasi, 5 Mahasiswa Terobos DPR dan Bentangkan Spanduk

Peringati 20 Tahun Reformasi, 5 Mahasiswa Terobos DPR dan Bentangkan Spanduk

Nasional
Charta Politika: Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo Paling Pantas Jadi Cawapres Prabowo

Charta Politika: Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo Paling Pantas Jadi Cawapres Prabowo

Nasional
Menlu AS: Kami Bakal Beri Sanksi Terhebat dalam Sejarah kepada Iran

Menlu AS: Kami Bakal Beri Sanksi Terhebat dalam Sejarah kepada Iran

Internasional
Takut Multitafsir, Surat Edaran Disdik tentang Kartu Imunisasi Anak Diganti

Takut Multitafsir, Surat Edaran Disdik tentang Kartu Imunisasi Anak Diganti

Megapolitan
Sering Dipukuli Orangtuanya, Bocah Ini Ketakutan jika Melihat Emak-emak

Sering Dipukuli Orangtuanya, Bocah Ini Ketakutan jika Melihat Emak-emak

Regional
Idrus Marham Enggan Komentar soal Aliran Dana Korupsi di Bakamla

Idrus Marham Enggan Komentar soal Aliran Dana Korupsi di Bakamla

Nasional

Close Ads X