PBNU Anggap Pengakuan AS atas Yerusalem Ganggu Stabilitas Perdamaian Dunia - Kompas.com

PBNU Anggap Pengakuan AS atas Yerusalem Ganggu Stabilitas Perdamaian Dunia

Kompas.com - 07/12/2017, 18:23 WIB
Sekretaris Jenderal PBNU, Helmi Faishal Zaini (kanan) saat menggelar jumpa pers terkait pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem, Palestina sebagai Ibu Kota Israel, menggantikan Tel Aviv di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (7/12/2017). KOMPAS.com/ MOH NADLIR Sekretaris Jenderal PBNU, Helmi Faishal Zaini (kanan) saat menggelar jumpa pers terkait pengakuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas Jerusalem, Palestina sebagai Ibu Kota Israel, menggantikan Tel Aviv di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (7/12/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Pengurus Bfesar Nahdhatul Ulama ( PBNU) Helmi Faisal Zaini menilai, pengakuan Amerika Serikat atas Yerusalem, Palestina, sebagai Ibu Kota Israel, menggantikan Tel Aviv, telah menganggu stabilitas keamanan dunia.

Hal itu dikatakan Helmi di Kantor PBNU, Jakarta, Kamis (8/12/2017). 

"Sebuah tindakan yang sangat ceroboh dan gegabah. Ini memancing konstelasi politik pada satu situasi yang sangat rumit dan panas. Ini mengganggu stabilitas perdamaian dunia," ujar Helmi.

Pengakuan itu, kata dia, juga merugikan Amerika Serikat. Sebab, masyarakat di negara-negara yang pro Palestina akan mendesak duta besar di negara mereka didepak dari negaranya masing-masing.

"Dalam pandangan kami, ini akan merugikan Amerika Serikat sendiri. Pasti desakan-desakan di seluruh negara-negara Asia dan Timur Tengah agar pemerintahnya mengusir duta besarnya akan meningkat," ujar Helmi.

Baca: PBNU Imbau Masyarakat Tak Anarkistis Sikapi Pengakuan AS atas Yerusalem

Bahkan, menurut Helmi, pengakuan Presiden AS Donald Trump tersebut telah memantik konflik baru bagi kedua belah negara yakni Palestina dan Israel untuk terus "berperang".

"Ini pernyataan yang membuat situasi sangat panas, dan juga akan melahirkan konflik baru yang tak berkesudahan. Mudah-mudahan sikap ini didengar dan ada perubahan-perubahan yang mendasar," kata Helmi.

Presiden Joko Widodo sebelumnya telah menegaskan bahwa Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pemerintah Indonesia, kata Jokowi, meminta Amerika Serikat mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

"Indonesia mengecam keras pengakuan sepihak Amerika Serikat terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut," kata Jokowi dalam jumpa pers di Istana Bogor, Kamis (7/12/2017).

Baca: PBNU: Pengakuan AS atas Yerusalem Akan Buat Konflik Tak Berkesudahan

Menurut Jokowi, pengakuan sepihak tersebut melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan dan Majelis Umum PBB di mana Amerika Serikat justru menjadi anggota tetapnya.

Jokowi mengatakan, ia dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan haknya sesuai UUD 1945.

Pemerintah mendorong agar OKI segera melaksanakan sidang khusus atas pengakuan sepihak ini pada kesempatan pertama.

Pemerintah RI juga meminta PBB segera bersidang serta menyikapi pengakuan sepihak AS.

Jerusalem atau sebagian orang membacanya sebagai Yerusalem, merupakan salah satu kota tertua di dunia. Nama Yerusalem begitu akrab di hati umat Kristen, Yahudi, dan Islam seluruh dunia termasuk di Indonesia sejak berabad-abad.

Kota ini unik dengan berbagai peninggalan sejarah yang amat penting bagi ketiga umat tersebut. Yerusalem, dalam bahasa Ibrani disebut Yerushalayim, dan dalam bahasa Arab disebut Al Quds. Di Indonesia, orang mengucapkannya sebagai Yerusalem.

Kompas TV Presiden Trump memerintahkan kedubes AS pindah ke Yerusalem.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorInggried Dwi Wedhaswary
Komentar

Terkini Lainnya

Charta Politika: Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo Paling Pantas Jadi Cawapres Prabowo

Charta Politika: Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo Paling Pantas Jadi Cawapres Prabowo

Nasional
Menlu AS: Kami Bakal Beri Sanksi Terhebat dalam Sejarah kepada Iran

Menlu AS: Kami Bakal Beri Sanksi Terhebat dalam Sejarah kepada Iran

Internasional
Takut Multitafsir, Surat Edaran Disdik tentang Kartu Imunisasi Anak Diganti

Takut Multitafsir, Surat Edaran Disdik tentang Kartu Imunisasi Anak Diganti

Megapolitan
Sering Dipukuli Orangtuanya, Bocah Ini Ketakutan jika Melihat Emak-emak

Sering Dipukuli Orangtuanya, Bocah Ini Ketakutan jika Melihat Emak-emak

Regional
Idrus Marham Enggan Komentar soal Aliran Dana Korupsi di Bakamla

Idrus Marham Enggan Komentar soal Aliran Dana Korupsi di Bakamla

Nasional
Pemprov DKI Buka Dapur Umum Bila Banjir Tinggi di Kebon Pala

Pemprov DKI Buka Dapur Umum Bila Banjir Tinggi di Kebon Pala

Megapolitan
Gubernur DKI Pastikan Shalat Tarawih di Monas Batal dan Dipindah ke Masjid Istiqlal

Gubernur DKI Pastikan Shalat Tarawih di Monas Batal dan Dipindah ke Masjid Istiqlal

Megapolitan
Ramadhan, BI Kediri Ingatkan Warga Utamakan Ibadah daripada Belanja

Ramadhan, BI Kediri Ingatkan Warga Utamakan Ibadah daripada Belanja

Regional
'Biasanya Buka Puasa Gratis Hanya Dapat Makanan Takjil, di Sini Menunya Lengkap...'

"Biasanya Buka Puasa Gratis Hanya Dapat Makanan Takjil, di Sini Menunya Lengkap..."

Megapolitan
Novel Baswedan Kembali ke Singapura, Jalani Perawatan Lanjutan

Novel Baswedan Kembali ke Singapura, Jalani Perawatan Lanjutan

Nasional
Imunisasi akan Dikaitkan dengan Sekolah, KK, SIM, hingga Paspor

Imunisasi akan Dikaitkan dengan Sekolah, KK, SIM, hingga Paspor

Megapolitan
Keamanan Jakarta Fair 2018 Akan Diperketat

Keamanan Jakarta Fair 2018 Akan Diperketat

Megapolitan
Cerita Amien Rais Didatangi Yusril Sehari Sebelum Soeharto Lengser

Cerita Amien Rais Didatangi Yusril Sehari Sebelum Soeharto Lengser

Nasional
Menperin Airlangga: Golkar Bahas Cawapres Setelah Pilkada Serentak

Menperin Airlangga: Golkar Bahas Cawapres Setelah Pilkada Serentak

Regional
Minta Gajinya Dibayar, Seorang PRT Dibunuh Majikannya

Minta Gajinya Dibayar, Seorang PRT Dibunuh Majikannya

Internasional

Close Ads X