Chappy Hakim
KSAU 2002-2005

Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Selamat Tinggal, The Jumbo Jet

Kompas.com - 02/11/2017, 07:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorLaksono Hari Wiwoho

Pesawat terbang raksasa bermesin empat dengan bentuk sangat artistik itu terlihat anggun sekaligus berwibawa.

Karena bentuknya yang lebih terlihat "cantik" daripada "gagah perkasa" terutama saat melayang di udara, maka kata ganti dalam bahasa Inggris untuk menyebutnya pun adalah "she" dan bukan "he".

Pesawat terbang B747 disebut juga sebagai "Big and Beautiful Birds" atau "Queen of the Sky" atau bahkan sebagai sebuah pesawat terbang yang nothing as beautiful as B747.

Akan tetapi, harus diakui bahwa B747 tidak mampu mengarungi kurun waktu 50 tahun berjaya di udara, walaupun sudah diproduksi tidak kurang dari 1.500 pesawat yang tersebar ke hampir seluruh dunia.

Semua itu tiada lain karena kemajuan dan inovasi teknologi penerbangan demikian pesat perkembangannya. Pesawat B747 yang menggunakan empat mesin jet menjadikan biaya operasionalnya sangat tinggi dalam hal pemakaian fuel dibanding kebutuhan bahan bakar bagi pesawat yang hanya bermesin dua.

Pertimbangan dari hasil perhitungan komersial telah menyingkirkan B747 dari kancah persaingan pesawat terbang sipil komersial yang berbasis bisnis jutaan bahkan miliaran dollar AS.

Banyak catatan istimewa yang diukir oleh pesawat terbang Boeing 747, di mana beberapa di antaranya digunakan sebagai pesawat terbang kepresidenan untuk melayani lima presiden Amerika Serikat.

Bentuknya yang istimewa memudahkannya membawa penumpang dan kargo ukuran raksasa telah membuat B747 tidak ada bandingannya. Tidak hanya itu, dengan bentuk aerodinamis, NASA menggunakan B747 sebagai alat angkut "Space Shuttle" dengan meletakkan pesawat ulang alik ruang angkasa itu di atas punggungnya.

Di sisi lain, B747 juga digunakan NASA sebagai airborne observatory aircraft. Kabin yang dilengkapi dengan tiga buah eskalator, tangga berbentuk spiral dan bagian kabin di upper-deck telah menempatkan B747 sebagai pesawat terbang terfavorit bagi para pengguna jasa transportasi udara global.

Captain Pilot Jack Waddel, seorang test pilot Boeing mengatakan bahwa menerbangkan B747 sangat mudah dan B747 adalah sebuah impian bagi semua pilot.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.