Kompas.com - 02/11/2017, 05:05 WIB
Penulis Moh. Nadlir
|
EditorSabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono mulai gencar melakukan pertemuan dengan berbagai tokoh politik tanah air beberapa waktu belakangan ini.

Tak hanya itu, putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyno itu kerap melakukan perjalanan ke berbagai kota di Indonesia untuk menyapa warga setempat.

Apa yang sebenarnya yang sedang dilakukan AHY?

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menilai safari politik yang dilakukan oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak lepas dari upaya untuk mencari peluang maju di Pilkada serentak 2018 sekaligus Pemilu 2019.

Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menganggap bahwa, langkah DPR RI berkirim surat ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar penyidikan Ketua DPR RI Setya Novanto terkait kasus e-KTP ditunda adalah salah kaprah. Jakarta, Rabu (13/9/2017).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris menganggap bahwa, langkah DPR RI berkirim surat ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar penyidikan Ketua DPR RI Setya Novanto terkait kasus e-KTP ditunda adalah salah kaprah. Jakarta, Rabu (13/9/2017).
"Saya kira safari politik AHY tentu saja mencari peluang politik, baik untuk Pilkada serentak 2018 maupun Pilpres 2019," ujar Haris kepada Kompas.com, Rabu (1/11/2017).

Menurut Haris, safari politik itu mau tak mau harus dilakukan AHY tersebut untuk mencari peluang dicalonkan atau mencalonkan diri pada dua kontestasi demokrasi yang akan datang.

Apalagi beberapa waktu lalu sudah ada kelompok relawan yakni President Republic of Indonesia atau Pro-1 (Pro-One) mendukung Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dan AHY maju di Pilpres 2019.

(Baca: Apa Sinyal di Balik Pertemuan Jokowi-SBY dan JK-AHY?)

"AHY kan sudah mundur dari TNI. Jadi dia harus cari peluang di politik," kata Haris.

Kata Haris, safari politik itu perlu dilakukan AHY agar semakin dikenal oleh masyarakat luas di berbagai wilayah tanah air. Tak hanya di DKI Jakarta semata, lantaran pernah ikut Pilkada Ibu Kota yang lalu.

"Safari politik diperlukan agar publik makin mengenalnya. Biarkan publik yang menilai layak atau tidak. Kita tidak berhak melarang orang bersafari," kata dia.

Rabu malam (31/10/2019) AHY bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Pertemuan tersebut disebut merupakan pertemuan lanjutan dari silahturahmi AHY dengan sejumlah tokoh sebelumnya seperti Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, hingga mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Kompas TV Agus Harimurti bahkan disebut sebagai sosok di belakang pertemuan Presiden Jokowi dan SBY.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.