Partai-partai Baru Pemilu 2019, Sekadar Penggembira? - Kompas.com

Partai-partai Baru Pemilu 2019, Sekadar Penggembira?

Kompas.com - 26/10/2017, 13:43 WIB
IlustrasiKOMPAS Ilustrasi

TAHAPAN pendaftaran peserta dan pelengkapan dokumen bagi partai politik peserta Pemilihan Umum 2019 telah ditutup Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Terdapat 14 partai politik yang lolos seleksi dengan empat partai peserta baru yakni Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Berkarya, dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Partai Garuda).

Keempat partai baru seperti bersepakat untuk menetapkan ideologi Pancasila sebagai platform partai.

Keputusan partai-partai baru tersebut secara sederhana, ditambah Partai Bulan Bintang ( PBB) yang gagal memenuhi syarat pendaftaran peserta Pemilu 2019, dapat dilihat sebagai semakin tegasnya tren kemunduran partai berasaskan Islam pasca-tumbangnya Orde Baru.

Kondisi yang saya nilai mulai memudarkan tesis Marx Juergensmayer (1998) di awal reformasi yang menyatakan bahwa pemilu pasca-Orde Baru yang digelar di era globalisasi adalah pertarungan ‘nasionalis-religius’ versus ‘nasionalis-sekuler’

Padahal jika mau menengok ke belakang ramalan kegagalan partai berbasis agama sebetulnya sudah disuarakan oleh almarhum Nurcholis Majid pada dekade 1960-1970 yang terkenal dengan sikap politik "Islam Yes, Partai Islam No".

Baca juga : Elektabilitas 10 Parpol Versi PolMark Indonesia

Cak Nur saat itu meyakini bahwa mayoritas masyarakat Islam Indonesia secara individu taat beragama namun tidak merefleksikan hal tersebut sebagai sudut pandang kepartaian. Saat itu pendapatnya ditentang banyak pihak, namun waktu yang membuktikan.

Ketua Umum DPP Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Ahmad Ridha Sabana mendaftarkan partainya menjadi partai ke-13 yang mendaftar sebagai partai politik calon peserta Pemilu 2019. Jakarta, Minggu (15/10/2017).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Ketua Umum DPP Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda), Ahmad Ridha Sabana mendaftarkan partainya menjadi partai ke-13 yang mendaftar sebagai partai politik calon peserta Pemilu 2019. Jakarta, Minggu (15/10/2017).
Belum lagi publik disuguhi keras dan berlarutnya pertarungan internal partai-partai Islam sebagai contoh konflik di Partai Kedaulatan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maupun kasus moral dan korupsi yang melibatkan kader partai-partai berbasis Islam.

Dinamika partai yang berimbas pada penciutan pendukung (decreasing-party). Sudah bukan rahasia jika partai Islam tidak cukup memiliki sumberdaya untuk menggaet anggota baru, bersamaan semakin berkurangnya kekuatan internalnya partai untuk memobilisasi pendukung.

Baca juga : KPU Disarankan Keluarkan Dokumen Status 13 Parpol

Kondisi tersebut sedikit banyak berperan memperkecil simpati pemilih partai berbasis Islam yang dengan mudah dilihat pada perolehan suara partai-partai Islam, termasuk Partai Amanat Nasional (PAN) yang secara AD/ART sebetulnya tidak berbasis Islam, selama satu dekade terakhir.

Fenomena kemunduran partai-partai Islam di Indonesia, tidak berbeda jauh dengan fenomena yang telah dialami partai-partai berbasis Kristen di Eropa Barat.

Riset Stathis N. Kalyvas (1996) di lima negara Eropa Barat yang memiliki partai Kristen raksasa akhirnya harus menerima kenyataan digerus oleh demokratisasi dan sekulerisme.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendaftarkan diri sebagai peserta pemilu 2019 ke Komisi Pemilihan Umum, Selasa (10/10/2017).KOMPAS.com/IHSANUDDIN Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendaftarkan diri sebagai peserta pemilu 2019 ke Komisi Pemilihan Umum, Selasa (10/10/2017).
Faktor yang juga tidak bisa dikesampingkan adalah aktifnya partai-partai nasionalis, terlepas dari motif bersifat substantif ataupun simbolik, untuk menggarap kantong-kantong Islam. Mereka mengakomodasi kepentingan dan jika perlu memperjuangkan agenda kelompok Islam.

Meski demikian, meningkatnya kuantitas partai-partai berideologi Pancasila atau secara sederhana kita sebut sebagai partai nasionalis pun tidak menjamin kematangan ideologi yang diusung. 

Sejauh ini, tak banyak partai-partai nasionalis yang bertarung mampu menjabarkan ideologi Pancasila mereka secara gamblang.

Baca juga : Presidential Treshold Dinilai Hilangkan Hak Parpol Baru Usung Capres

Lebih sering terjadi pertarungan yang terjadi di antara partai nasionalis adalah memperebutkan suara ‘wong cilik’ atau menjalankan politik patronase dengan mengeksploitasi citra atau figur. Bukan program yang nyata dan terukur sebagai pengejawantahan ideologi partai.


Potensi Gen YZ

Menariknya dari empat partai baru nasionalis, kecuali PSI, rupanya adalah hasil pecahan dari partai-partai lama yang bertarung sejak 2004. Seperti Perindo yang sejatinya adalah pecahan dari Partai Nasional Demokrat (Nasdem) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Ketua KPU RI, Arief Budiman Menerima Pendaftaran Partai Berkarya besutan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto sebagai calon peserta Pemilu 2019. Jakarta, Jumat (13/10/2017).KOMPAS.com/ MOH NADLIR Ketua KPU RI, Arief Budiman Menerima Pendaftaran Partai Berkarya besutan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto sebagai calon peserta Pemilu 2019. Jakarta, Jumat (13/10/2017).
Demikian pula Partai Berkarya yang meski berasal dari fusi Partai Beringin Karya dan Partai Nasional Republik, jika ditelusuri masih terkait dengan Partai Hanura dan Partai Golkar. Sementara pada Partai Garuda adalah pecahan dari Partai Hanura dan Partai Gerindra.

Saling silang hubungan antara partai-partai lama dan baru berbasis nasionalis peserta Pemilu 2019 semakin menegaskan sulitnya melakukan identifikasi terhadap partai-partai baru tersebut karena tidak adanya basis ideologi yang jelas.

Selain itu, seiring meningkatnya persaingan, diperlukan upaya dari masing-masing partai politik baru untuk menciptakan citra yang positif di kalangan pemilih yang terbagi antara pemilih rasional dan pemilih emosional.

Baca juga : Ketum PPP Sebut jika Parpol Baru Usung Capres Bisa Jadi Bencana Konstitusional

Menariknya, dunia politik terutama pada periode kampanye bergantung pada kecerdikan partai mobilisasi emosi masyarakat. Bahkan tak jarang ide dan gagasan tentang nilai dan sentimen yang aneh sekalipun jika berhasil mengena sisi emosi dan mood masyarakat akan berujung pada meningkatnya elektabilitas partai.

Sebut saja kondisi psikologis seperti frustasi, kekecewaan, ketakutan, stres yang terus disuarakan berulang dan diamplifikasi melalui berbagai saluran media yang menjadi modal menyatukan harapan pada partai politik yang jeli.

Bukan rahasia jika di antara partai-partai baru peserta Pemilu 2019 memang memiliki modal untuk menciptakan citra positif melalui terpaan pesan yang berulang melalui media massa yang dibeli (beriklan), melalui jaringan media massa yang terafiliasi (dimiliki), maupun melalui sosial media yang menjadi referensi pemilih pemula (generasi Y dan Z).

Meski demikian, patut diingat, untuk meraup jumlah suara yang signifikan dibutuhkan kejelian untuk menyodorkan tokoh yang memiliki elektabilitas kuat. Sayang, hingga saat ini cukup sulit menemukan tokoh yang lebih kuat dibandingkan Joko Widodo (PDI-Perjuangan) ataupun Prabowo Subianto (Partai Gerindra).

Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Hary Tanoesoedijo dan istri, Liliana Tanoesoedibjo, berjalan kaki menyambangi kantor KPU di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (9/10/2017). Diiringi seribuan kader Partai Perindo serta pawai marching band dan pakaian adat, kedatangan Hary mendaftarkan Partai Perindo sebagai calon peserta pemilu 2019.Fachri Fachrudin Ketua Umum Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Hary Tanoesoedijo dan istri, Liliana Tanoesoedibjo, berjalan kaki menyambangi kantor KPU di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (9/10/2017). Diiringi seribuan kader Partai Perindo serta pawai marching band dan pakaian adat, kedatangan Hary mendaftarkan Partai Perindo sebagai calon peserta pemilu 2019.
Dengan kondisi ini, adakah peluang bagi partai-partai baru untuk mengail suara? Secara optimistis tentu ada dan tampaknya akan menjadi pilihan utama bagi partai-partai baru tersebut yaitu sejak awal menautkan diri pada tokoh-tokoh yang telah memiliki elektabilitas tinggi.

Dalam kondisi ini, langkah cerdik sudah dilakukan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) maupun Perindo yang sejak awal menautkan diri pada sosok Joko Widodo yang sejak 2012 secara sadar membidik basis massa generasi Y dan Z.

Baca juga : Mendagri Minta Parpol Baru Usung Capres pada Pilpres 2024, Perindo Tersinggung

Pilihan yang menurut saya realistis mengingat PSI maupun Perindo tidak cukup memiliki sumber daya manusia dan basis politik tradisional sehingga mau tidak mau hanya mengekor popularitas tokoh yang telah ada yang dianggap kuat.

Pilihan yang secara politik adalah sesuatu yang lumrah bahkan jika beruntung, pada pemilu nanti meraih kuantitas suara yang signifikan sebagai modal tawar-menawar politik yang akan dapat menempatkan wakil-wakil mereka pada posisi strategis.

Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra, di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI saat mendaftarkan partainya untuk Pemilu 2019 mendatang, Jakarta, Senin malam (16/10/2017).  KOMPAS.com/ MOH NADLIR Ketua Umum PBB, Yusril Ihza Mahendra, di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI saat mendaftarkan partainya untuk Pemilu 2019 mendatang, Jakarta, Senin malam (16/10/2017).
Meski demikian, harapan partai-partai baru untuk bertarung dengan hanya bermodal belanja iklan maupun aktif bermedia sosial tanpa modal basis massa akan tetap sulit meraup suara. Pasalnya, pada dasarnya jumlah pemilih terbesar tetap masyarakat yang tinggal di pedesaan yang tidak memiliki akses Internet.

Baca juga : Daftar ke KPU, PBB Percaya Diri Lolos Pemilu 2019

Selain itu, para pemilih yang belum memiliki tingkat literasi media yang cukup itu umumnya sekadar masih menjadikan televisi free to air berbasis di Jakarta sebagai referensi politik. Mereka akan sulit untuk secara serta merta beralih pilihan pada partai-partai baru. Kalau begini sudah bisa ditebak mana partai baru yang akan cukup meraih suara.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorAmir Sodikin

Terkini Lainnya

Bupati Pakpak Bharat Diduga Instruksikan Semua Kepala Dinas untuk Atur Pengadaan

Bupati Pakpak Bharat Diduga Instruksikan Semua Kepala Dinas untuk Atur Pengadaan

Nasional
Tiba di Surabaya, Jokowi Langsung Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza

Tiba di Surabaya, Jokowi Langsung Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza

Nasional
Cerita Fatmawati dan 5 Putrinya Lolos dari Kebakaran Hebat di Rumahnya

Cerita Fatmawati dan 5 Putrinya Lolos dari Kebakaran Hebat di Rumahnya

Regional
'Jangan Sampai Ambisi Pribadi Rusak Tata Negara di Indonesia'

"Jangan Sampai Ambisi Pribadi Rusak Tata Negara di Indonesia"

Nasional
Uang Suap Bupati Pakpak Bharat Diduga untuk Amankan Kasus Hukum Istrinya

Uang Suap Bupati Pakpak Bharat Diduga untuk Amankan Kasus Hukum Istrinya

Nasional
Bupati Pakpak Bharat Diduga Terima Suap Rp 550 Juta dari Kontraktor

Bupati Pakpak Bharat Diduga Terima Suap Rp 550 Juta dari Kontraktor

Nasional
Kim Jong Un Ingin Memodernisasi Pabrik Kaca Taegwan

Kim Jong Un Ingin Memodernisasi Pabrik Kaca Taegwan

Internasional
Titik Terang Misteri Kematian Bapak dan Anak Asal Lahat di Sukabumi

Titik Terang Misteri Kematian Bapak dan Anak Asal Lahat di Sukabumi

Regional
KPK Tetapkan Bupati Pakpak Bharat dan Kepala Dinas PUPR sebagai Tersangka

KPK Tetapkan Bupati Pakpak Bharat dan Kepala Dinas PUPR sebagai Tersangka

Nasional
Warga Keluhkan Pasangan Mesum di Rumah Kos, Polisi Amankan 4 Mahasiwa

Warga Keluhkan Pasangan Mesum di Rumah Kos, Polisi Amankan 4 Mahasiwa

Regional
Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Dalam Drum Ditemukan Pemulung di Bogor

Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Dalam Drum Ditemukan Pemulung di Bogor

Regional
Puting Beliung Terjang Madiun, Empat Rumah Rata dengan Tanah

Puting Beliung Terjang Madiun, Empat Rumah Rata dengan Tanah

Regional
Tunawisma Pahlawan dalam Serangan Melbourne Kini Diseret ke Pengadilan

Tunawisma Pahlawan dalam Serangan Melbourne Kini Diseret ke Pengadilan

Internasional
Tiba di Surabaya dari Papua, Ini Agenda Kunjungan Kerja Jokowi Senin Besok

Tiba di Surabaya dari Papua, Ini Agenda Kunjungan Kerja Jokowi Senin Besok

Nasional
3 Fakta Unik Harimau Sumatera 'Atan Bintang', Disebut Pintar hingga Sulit Dievakuasi

3 Fakta Unik Harimau Sumatera 'Atan Bintang', Disebut Pintar hingga Sulit Dievakuasi

Regional

Close Ads X