Belajar Mencerap Film G30S/PKI ala Generasi Milenial

Kompas.com - 02/10/2017, 10:47 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
EditorAmir Sodikin

Perlahan-lahan, semua yang ada dalam film G30S/PKI tidak lagi relevan untuk cukup menjelaskan peristiwa 1965 bagi generasi milenial di tengah derasnya arus informasi.

Oleh karena itu, ketika Panglima TNI Gatot Nurmantyo memerintahkan penyelenggaraan nonton bareng film G30S/PKI bagi generasi muda untuk belajar sejarah tentang bahaya komunisme, saya terheran-heran. Apalagi setelah film ini sudah dilarang oleh pemerintah untuk ditayangkan di publik di tahun 1998 karena dianggap mengultuskan Soeharto dan rezim Orde Baru.

Jika memang maksudnya ingin membangkitkan narasi tunggal yang dulu pernah jaya, apa Panglima TNI segitu enggak gaulnya sampai dia tidak tahu bahwa narasi sejarah yang dia maksud itu sudah ketinggalan zaman di kalangan anak milenial?

Karena menurut saya, sebelum disuruh nonton film ini, generasi milenial sudah mendapatkan banyak informasi dari berbagai sumber tentang peristiwa 1965.

Banyak dari kami mungkin bahkan belum nonton film tersebut, tapi sudah beberapa kali melihat Jagal atau Senyap dan lewat pengalaman menonton yang kaya ini mudah bagi generasi muda untuk mencium kebohongan di narasi tunggal di film tersebut. Apakah ini tidak menjadi senjata makan tuan buat Sang Panglima?

Dalam studi khalayak, generasi milenial ini dikategorikan sebagai penonton yang aktif yang bisa memaknai pesan dari media secara bebas sesuai dengan latar belakang pengetahuan, politik, sosial, dan ekonominya.

Konsep penonton yang aktif dicetuskan pertama kali oleh Stuart Hall sebagai antitesa dari teori jarum suntik yang sebaliknya percaya bahwa penonton selalu pasif dan mengiyakan pesan yang disampaikan media.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Teori jarum suntik sempat ngetop di era propaganda tahun 1940-an. Di era internet dan keterbukaan informasi seperti sekarang ini, sepertinya susah memahami bahwa penonton adalah jiwa-jiwa yang pasif yang hanya mengiyakan pemberi pesan.

Berangkat dengan asumsi bahwa generasi muda sekarang adalah penonton yang pintar, seharusnya kita tidak usah terlalu takut. Banyak aktivis menolak pemutaran film itu karena takut bakal menimbulkan trauma dan menghambat proses rehabilitasi dan rekonsiliasi yang diperjuangkan buat korban 1965.

Justru saya melihat dengan kacamata yang berbeda. Saya melihat bahwa menonton film ini bisa menjadi cara lain untuk menjalankan kembali upaya penyelesaian peristiwa 1965 yang selama ini macet.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Angka Kasus Positif Covid-19 Meningkat, Orang Tua Diingatkan untuk Jaga Kesehatan Anak

Angka Kasus Positif Covid-19 Meningkat, Orang Tua Diingatkan untuk Jaga Kesehatan Anak

Nasional
Usai Diperiksa Komnas HAM, Kepala BKN: Kami Beri Keterangan Sejujur-Jujurnya

Usai Diperiksa Komnas HAM, Kepala BKN: Kami Beri Keterangan Sejujur-Jujurnya

Nasional
Kementerian PPPA Dorong Kemenag Susun Regulasi Pencegahan Kekerasan Anak di Satuan Pendidikan Berbasis Agama

Kementerian PPPA Dorong Kemenag Susun Regulasi Pencegahan Kekerasan Anak di Satuan Pendidikan Berbasis Agama

Nasional
Ketua Tim Riset: Jangan Takut Vaksin Covid-19, Takutlah pada Virusnya

Ketua Tim Riset: Jangan Takut Vaksin Covid-19, Takutlah pada Virusnya

Nasional
Kemenkes: Hasil Swab Antigen Dimasukkan ke Laporan Harian Covid-19 Sejak Februari 2021

Kemenkes: Hasil Swab Antigen Dimasukkan ke Laporan Harian Covid-19 Sejak Februari 2021

Nasional
UPDATE: 130.630 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari, Total 18.864.666

UPDATE: 130.630 Spesimen Covid-19 Diperiksa dalam Sehari, Total 18.864.666

Nasional
KPK: Berkas Perkara Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial Dinyatakan Lengkap

KPK: Berkas Perkara Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial Dinyatakan Lengkap

Nasional
Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa Sejumlah Dirut Perusahaan Sekuritas

Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa Sejumlah Dirut Perusahaan Sekuritas

Nasional
Soal Wacana Presiden Tiga Periode, Gerindra Tak Pernah Dengar Ada Gerakan dari Istana

Soal Wacana Presiden Tiga Periode, Gerindra Tak Pernah Dengar Ada Gerakan dari Istana

Nasional
Menlu: Perempuan Miliki Peran Penting Atasi Pandemi Covid-19

Menlu: Perempuan Miliki Peran Penting Atasi Pandemi Covid-19

Nasional
Wujudkan Desa Bersih Narkoba, Gus Menteri Terapkan Kebijakan Ini

Wujudkan Desa Bersih Narkoba, Gus Menteri Terapkan Kebijakan Ini

Nasional
Ini Alasan DPR Perpanjang Pembahasan RUU PDP dan Penanggulangan Bencana

Ini Alasan DPR Perpanjang Pembahasan RUU PDP dan Penanggulangan Bencana

Nasional
UPDATE 22 Juni: Sebaran 13.668 Kasus Baru Covid-19, Jabar Paling Tinggi

UPDATE 22 Juni: Sebaran 13.668 Kasus Baru Covid-19, Jabar Paling Tinggi

Nasional
Sebut Denda Pelanggaran Prokes Tak Mengubah Perilaku, Kemenkes: Masyarakat Tetap Acuh

Sebut Denda Pelanggaran Prokes Tak Mengubah Perilaku, Kemenkes: Masyarakat Tetap Acuh

Nasional
UPDATE 22 Juni: 12.514.917 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 23.789.884 Dosis Pertama

UPDATE 22 Juni: 12.514.917 Orang Sudah Divaksin Covid-19 Dosis Kedua, 23.789.884 Dosis Pertama

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X