Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Abdul Kadir Karding
Politisi

Sekretaris Jenderal DPP PKB Periode 2014-sekarang. Anggota DPR RI periode 2009-2014 dan 2014-2019 dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa mewakili Jawa Tengah. Saat ini menjabat sebagai anggota Komisi III DPR RI. Alumnus Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang tahun 1997.

Ingatan Paskibraka dan Tantangan Generasi Sekarang

Kompas.com - 17/08/2017, 13:46 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAna Shofiana Syatiri

PERISTIWA 26 tahun lalu itu masih membekas jelas dalam ingatan saya. Itu hari, 17 Agustus 1991 di kantor Kabupaten Donggala, saya menjadi satu dari sedikit orang pemuda yang berkesempatan mengimbarkan Sang Saka Merah Putih pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia. Kala itu saya adalah seorang Pasukan Pengibar Bendera Kemerdekaan (Paskibraka).

Meski bagi banyak orang menganggap Donggala hanya sebuah kabupaten kecil di Indonesia, namun menjadi Paskibraka di tanah kelahiran sendiri tetap memberi kesan mendalam. Hal ini lahir dari pengalaman yang didapatkan selama mengikuti proses latihan yang keras dan kebersamaan antaranggotanya.

Sependek ingatan saya, waktu seleksi sudah dimulai sejak Maret dan April. Pada Juli, mereka yang terpilih memasuki proses pelatihan intensif di dalam asrama. Pada 14 Agustus gladi kotor dilakukan dan 15 Agustus gladi bersih dilakukan. Sehari setelahnya yakni 16 Agustus anggota Paskibraka dikukuhkan.

Menjadi bagian dari Paskibraka adalah impian dan kebanggaan. Proses latihan saya ikuti dengan penuh antusias. Kala itu saya rela mengurangi waktu istirahat sehabis sekolah demi menjalani proses latihan yang ketat. Kadang proses latihan itu lakukan seorang diri untuk memberikan hasil yang maksimal.

Sebagai komandan peleton, saya melatih kekerasan dan kebulatan suara. Saya biasa berteriak-teriak di pantai pada sore hingga malam. Saya melakukannya agar bisa menjalankan tugas dengan baik. Latihan baris-berbaris dilakukan bersama-sama, tak peduli cuaca terik menyengat maupun hujan mengguyur.

Paling berkesan dari semua proses itu adalah malam renungan jelang Hari Kemerdekaan. Ketika itu saya dan teman-teman Paskibaraka lainnya mendapat banyak wejangan dari kakak pembina tentang sejarah perjuangan bangsa, makna kemerdekaan bagi bangsa kita, dan arti bendera dalam kehidupan berbangsa. Bendera adalah simbol identitas sebuah bangsa yang merdeka. Pengakuan dunia atas identitas itu diraih bangsa kita dengan perjuangan yang mengorbankan, keringat, darah, dan nyawa. Tidak terasa air mata saya jatuh saat mencium Sang Saka Merah Putih pada malam itu.

Beragam proses latihan yang saya jalani selama menjadi Paskibraka, belakangan saya sadari menjadi bekal penting dalam perjalanan hidup saya. Dari Paskibraka saya belajar tentang nilai-nilai positif seperti kerja keras, disiplin, solidaritas sesama teman, dan rasa cinta terhadap Tanah Air.

Paskibraka dan tantangan generasi muda

Bukan tanpa alasan saya berbicara tentang Paskibraka. Romantisme dan nostalgia saya tentang Paskibraka kembali meruyak dalam beberapa pekan belakangan. Kamis, 3 Agustus 2017 lalu, saya memberikan materi pembekalan kepada 68 anggota Paskibraka Nasional yang bertugas di Istana Negara pada hari kemerdekaan 17 Agustus 2017.

Meski sudah cukup terbiasa berbicara di forum nasional dan internasional, harus saya akui berbicara di hadapan para anggota Paskibraka yang notabene masuk dalam generasi Z itu membuat saya cukup grogi. Bukan karena pengalaman atau usia mereka yang masih jauh di bawah saya, tetapi justru karena rasa bangga dan kagum saya kepada mereka.

Sejak remaja saya percaya Paskibraka Nasional adalah generasi pilihan dari seluruh daerah di Indonesia. Merekalah tumpuan harapan kemajuan bangsa ini ke depan. Namun, menjadi bagian dari Paskibraka Nasional adalah impian yang tak berhasil saya wujudkan. Tak heran jika kesempatan menjadi pemateri bagi para anggota Paskibraka Nasional menjadi momen emosional yang membanggakan diri saya pribadi.

Waktu sudah cukup malam (sekitar pukul 21.00 WIB) saat saya mendapat giliran berbicara. Saya sadar pemuda-pemudi itu sudah sangat lelah dengan latihan-latihan sepanjang hari. Sesuai tema malam itu: “Tatangan Generasi Muda dan Solusinya dalam Pembangunan Nasional” saya memfokuskan pembicaraan pada persoalan kepemudaan sekarang dan yang akan datang.

Kepada mereka saya mengatakan bahwa Paskibraka Nasional harus bisa menjadi teladan bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan. Di era globalisasi sekarang, generasi muda Indonesia menghadapi persoalan zaman yang tidak gampang. Melalui akses internet yang semakin mudah dan pengaruh media sosial, mereka bisa terpapar paham-paham radikal, terorisme, dan gaya hidup instan. Pada saat yang sama, peredaran narkoba semakin merajalela dan kenakalan remaja menjadi hal yang kian dianggap biasa.

Paskibraka, menurut saya, memiliki modal kuat untuk menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah zaman tersebut. Modal itu adalah nilai-nilai kedisiplinan, kerja keras, dan rasa nasionalisme yang ditanamkan sejak masa pengkaderan.

Dari kerja keras dan kedisiplinan misalnya, anggota Paskibraka bisa membentengi diri dari pengaruh hidup instan. Kita tahu gaya hidup instan bisa membuat seseorang egois, merasa benar sendiri, tidak mengutamakan proses, enggan berefleksi pada masa lalu, dan kehilangan rasa hormat terhadap orang tua. Semua karena adanya perasaan bisa mengerjakan sendiri.

Dari penanaman nasionalisme, para anggota Paskibraka bisa memfilter ajaran-ajaran radikal, terorisme, dan bahaya narkoba. Rasa nasionalisme yang kuat mendorong seseorang menghindari perbuatan yang merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanpa terasa sudah hampir satu jam lamanya saya berbicara dan bertanya jawab dengan mereka. Pada akhir acara, saya meminta mereka bernyanyi bersama. Dalam momentum terakhir itu saya bisa merasakan semangat dan antusiasme mereka yang menyala. Dari situ saya optimistis Indonesia masih punya harapan untuk bangkit mewujudkan amanat kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri bangsa.

Dirgahayu 72 tahun Indonesia. Jayalah Paskibraka Indonesia!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

KPK Dalami Penerbitan WIUP Tambang di Maluku Utara

KPK Dalami Penerbitan WIUP Tambang di Maluku Utara

Nasional
Cerita Jimly Sentil SBY yang Klaim Menang Pilpres Sebelum Pengumuman KPU

Cerita Jimly Sentil SBY yang Klaim Menang Pilpres Sebelum Pengumuman KPU

Nasional
Terima Uang Rp 40 M dalam Kasus BTS 4G, Achsanul Qosasi Diadili 7 Maret

Terima Uang Rp 40 M dalam Kasus BTS 4G, Achsanul Qosasi Diadili 7 Maret

Nasional
Pemuda Penyandang Disabilitas Kali Pertama Lolos Seleksi SIPSS Polri 2024

Pemuda Penyandang Disabilitas Kali Pertama Lolos Seleksi SIPSS Polri 2024

Nasional
Yusrizki Muliawan Divonis 2 Tahun Penjara di Kasus BTS 4G, Kejagung Banding

Yusrizki Muliawan Divonis 2 Tahun Penjara di Kasus BTS 4G, Kejagung Banding

Nasional
Lonjakan Suara PSI dan Penjelasan KPU yang Tidak Lugas

Lonjakan Suara PSI dan Penjelasan KPU yang Tidak Lugas

Nasional
Tanggal 5 Maret 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 5 Maret 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Suara PSI Tiba-tiba Melonjak, Grace: Kenapa yang Disorot Hanya PSI?

Suara PSI Tiba-tiba Melonjak, Grace: Kenapa yang Disorot Hanya PSI?

Nasional
Sudirman Said Sebut Pendukung Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud akan Lebih Sering Bertemu

Sudirman Said Sebut Pendukung Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud akan Lebih Sering Bertemu

Nasional
Rekapitulasi Suara KPU Sabtu Siang hingga Petang: Prabowo Menang di 6 PPLN, Ganjar 5, Anies 1

Rekapitulasi Suara KPU Sabtu Siang hingga Petang: Prabowo Menang di 6 PPLN, Ganjar 5, Anies 1

Nasional
Era Jokowi Tak Ada Hak Angket, Jimly: 10 Tahun Kok DPR-nya Memble

Era Jokowi Tak Ada Hak Angket, Jimly: 10 Tahun Kok DPR-nya Memble

Nasional
Kata KPU soal Suara PSI yang Tiba-tiba Melonjak di Situs 'Real Count'

Kata KPU soal Suara PSI yang Tiba-tiba Melonjak di Situs "Real Count"

Nasional
Sudirman Said Khawatir Ada Skenario Seluruh Parpol Jadi Koalisi Pemerintah

Sudirman Said Khawatir Ada Skenario Seluruh Parpol Jadi Koalisi Pemerintah

Nasional
GASPOL! Hari Ini: Kisah Megawati Terima Kekalahan Tanpa Gugat SBY ke MK

GASPOL! Hari Ini: Kisah Megawati Terima Kekalahan Tanpa Gugat SBY ke MK

Nasional
PGRI Dorong Kemendikbud Susun Mekanisme agar Sekolah Tak Tutupi Kasus 'Bullying'

PGRI Dorong Kemendikbud Susun Mekanisme agar Sekolah Tak Tutupi Kasus "Bullying"

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com