Telegram Tegaskan Tak Jual Data Percakapan Pribadi kepada Siapa Pun

Kompas.com - 01/08/2017, 18:49 WIB
CEO Telegram Pavel Durov dan Menkominfo Rudiantara saat tiba di Gedung Kemenkominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017). Fabian Januarius KuwadoCEO Telegram Pavel Durov dan Menkominfo Rudiantara saat tiba di Gedung Kemenkominfo, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017).
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com - CEO Telegram Pavel Durov menegaskan, Telegram tidak akan membuka data percakapan personal kepada siapa pun.

 

Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2017). 

"Seperti layanan platform lainnya, kami tidak akan menjual data percakapan ke pihak lain. Kami masih memegang tegas prinsip itu," ujar Pavel.

Ia juga menegaskan, Telegram tidak akan memberikan kunci enkripsi kepada siapa pun, termasuk Indonesia.

Basis Telegram, kata dia, penghargaan terhadap privasi penggunanya.

"Kami tidak akan menerima permintaan khusus (soal enkripsi) dari negara mana pun, meskipun negara itu adalah negara seindah Indonesia," ujar dia.

Baca: Telegram Beri Jalur Khusus Pemerintah RI, Konten Terorisme Bakal Segera Diblokir

Pavel yakin, Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi privasi seseorang.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan demikian, Indonesia tetap dapat membiarkan Telegram untuk beraktivitas.

Telegram menyatakan komitmennya untuk bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam hal konten terorisme dan radikalisme.

Telegram akan menerapkan sensor ketat dalam sistemnya, sehingga jika ada konten terorisme dan radikalisme, bisa direspons lebih cepat.

"Apabila sebelumnya kami membutuhkan 24 jam atau 36 jam (untuk memblokir konten terorisme), sekarang saya rasa kami bisa menutupnya hanya dengan beberapa jam. Sebab kami sudah menambah anggota berlatar belakang Indonesia di dalam tim kami," ujar dia.

Kompas TV Apa pula untung ruginya pemblokiran telegram bagi masyarakat pengguna pada umumnya?

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X