Kompas.com - 31/07/2017, 13:19 WIB
Koordinator KontraS, Yati Andriyani, berbicara dalam diskusi bersama Koalisi Masyarakat Sipil di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAKoordinator KontraS, Yati Andriyani, berbicara dalam diskusi bersama Koalisi Masyarakat Sipil di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).
|
EditorBayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang dikabarkan digelar di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (31/7/2017), masih simpang siur.

Belum ada informasi resmi dari pihak Istana Kepresidenan mengenai pertemuan yang membahasa perkara penyerangan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan yang hingga saat ini belum terungkap.

Koordinator Kontras Yati Andriani mengatakan, jika Jokowi dan Kapolri jadi bertemu, pertemuan itu jangan hanya sebatas menjadi pertemuan formalitas semata.

"Pertemuan Kapolri dengan Presiden pada hari ini, jika jadi, jangan hanya sebatas menjadi pertemuan formalitas dan basa-basi," ujar Yati kepada Kompas.com, Senin siang.

"Pertemuan juga jangan hanya sekedar menjadi cara bagi Presiden untuk menghindar dari tekanan publik yang sekian lama menanti perkembangan penyidikan kasus Novel Baswesan, atau sekedar menghindar dari pemberitaan media yang ahir-akhir ini kembali mengungkap kasus Novel," kata dia.

Kesan bahwa pertemuan Jokowi-Kapolri hanya basa-basi dan formalitas, menurut Yati, akan hilang apabila dalam pertemuan itu Presiden mengevaluasi kinerja Polri dalam upaya mengungkap perkara penyerangan Novel Baswedan.

Presiden, lanjut Yati, juga harus memastikan kepada publik bahwa memang benar-benar tidak ada upaya penghalangan kepada Polri untuk mengungkap kasus tersebut.

"Presiden harus mengevaluasi kinerja Polri dalam kasus ini, memastikan tidak ada upaya penghalangan pengungkapan dan pengaburan bukti dalam kasus ini, dan Presiden diharapkan memutuskan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta," ujar Yati.

Pertemuan Jokowi dan Kapolri diungkap oleh Jokowi sendiri pada Minggu (30/7/2017) kemarin. Presiden Jokowi mengatakan, dirinya telah meminta Tito untuk menjelaskan kasus Novel.

(Baca: Senin, Tito Menghadap Jokowi Jelaskan Perkembangan Kasus Novel)

"Kemarin sudah saya sampaikan ke Kapolri. Besok (Tito) mau menghadap," kata Jokowi kepada wartawan di Setu Babakan, Jakarta.

Jokowi sebelumnya juga menyatakan bahwa dirinya akan meminta masukan dari Tito terkait kasus Novel.

Lebih dari 100 hari sejak Novel diserang di dekat kediamannya, pelaku penyerangan tersebut sampai hari ini masih misteri. Sementara itu, di berbagai media, Novel mengungkap satu persatu fakta baru yang ia ketahui di balik penyerangan terhadap dirinya.

Novel dan sejumlah aktivis juga mendorong pembentukan tim gabungan pencari fakta untuk menuntaskan kasus tersebut.

(Baca juga: Polri: Kami Ingin Kasus Novel Segera Terungkap, tetapi...)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

TNI: Pesawat AS P-8 Poseidon Tiba Malam Ini Bantu Cari KRI Nanggala-402

TNI: Pesawat AS P-8 Poseidon Tiba Malam Ini Bantu Cari KRI Nanggala-402

Nasional
Ceritakan Mitigasi Bencana di Jepang, Megawati: Bisa Dilakukan, Asal Gotong Royong

Ceritakan Mitigasi Bencana di Jepang, Megawati: Bisa Dilakukan, Asal Gotong Royong

Nasional
5 Personel Militer Singapura Sudah Merapat ke KRI dr Suharso Bantu Cari Kapal Selam Nanggala

5 Personel Militer Singapura Sudah Merapat ke KRI dr Suharso Bantu Cari Kapal Selam Nanggala

Nasional
Pemimpin Thailand, Laos, dan Filipina Absen di KTT ASEAN soal Myanmar

Pemimpin Thailand, Laos, dan Filipina Absen di KTT ASEAN soal Myanmar

Nasional
Ratusan WN India Masuk Indonesia, Komisi III Minta Imigrasi Tingkatkan Kewaspadaan Izin Masuk WNA

Ratusan WN India Masuk Indonesia, Komisi III Minta Imigrasi Tingkatkan Kewaspadaan Izin Masuk WNA

Nasional
Bicara soal Bencana, Megawati Sebut Jakarta Sangat 'Fragile'

Bicara soal Bencana, Megawati Sebut Jakarta Sangat "Fragile"

Nasional
Jokowi: ASEAN Leaders Meeting Digelar untuk Kepentingan Rakyat Myanmar

Jokowi: ASEAN Leaders Meeting Digelar untuk Kepentingan Rakyat Myanmar

Nasional
Kasus Suap Penyidik KPK, ICW Dorong MKD Proses Etik Azis Syamsuddin

Kasus Suap Penyidik KPK, ICW Dorong MKD Proses Etik Azis Syamsuddin

Nasional
ICW Yakin Penyidik KPK Stepanus Robin Patujju Tidak Bertindak Sendirian

ICW Yakin Penyidik KPK Stepanus Robin Patujju Tidak Bertindak Sendirian

Nasional
Bertemu PM Vietnam, Jokowi Dorong Kesetaraan Akses Vaksin Covid-19

Bertemu PM Vietnam, Jokowi Dorong Kesetaraan Akses Vaksin Covid-19

Nasional
Megawati: Saya Lihat Pemadam Kebakaran Kita, Aduh Kok Kesejahteraannya Begini Ya?

Megawati: Saya Lihat Pemadam Kebakaran Kita, Aduh Kok Kesejahteraannya Begini Ya?

Nasional
TNI Fokus Cari KRI Nanggala di Lokasi Tumpahan Minyak dan Titik Magnetik

TNI Fokus Cari KRI Nanggala di Lokasi Tumpahan Minyak dan Titik Magnetik

Nasional
UPDATE 23 April: Pemerintah Telah Periksa 14.154.141 Spesimen Terkait Covid-19

UPDATE 23 April: Pemerintah Telah Periksa 14.154.141 Spesimen Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 23 April: Sebaran 5.436 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jawa Barat

UPDATE 23 April: Sebaran 5.436 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jawa Barat

Nasional
Diduga, Penyidik KPK Stepanus Robin Dikenalkan ke Azis Syamsuddin oleh Ajudan yang Anggota Polri

Diduga, Penyidik KPK Stepanus Robin Dikenalkan ke Azis Syamsuddin oleh Ajudan yang Anggota Polri

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X